Stabilitas Finansial Versus Perbaikan Iklim

Oleh: Edy Sahputra Sitepu, SE, MSi

Konferensi Perubahan Iklim 2009 (United Nations Climate Change Conference 2009) yang merupakan KTT internasional mengenai perubahan iklim di Copenhagen (Denmark) mulai 7-18 Desember 2009 baru saja berakhir. Setidaknya ada sekitar 15.000 utusan dari 193 negara hadir, termasuk Indonesia, dalam konferensi ini untuk memformulasi kebijakan internasional untuk menjawab tantangan dampak perubahan iklim.

Konferensi ini menjadi forum akbar komunitas lingkungan global dalam upaya menyelamatkan masa depan planet bumi. Langkah tersebut juga menjadi penting karena akan menentukan kesepakatan final pengganti Protokol Kyoto. Kesepakatan yang bertujuan utama mencegah terus berlanjutnya dampak negatif pemanasan global (global warming) yang berbahaya bagi keberlangsungan hidup.

Dari sejumlah publikasi di mass media, sedikitnya ada tiga hal dasar yang menjadi harapan untuk disepakati oleh pemerintah seluruh dunia dalam konferensi tersebut. Harapan tersebut antara lain; penerapan secara cepat dan efektif tindakan serta-merta dalam mengatasi perubahan iklim; membangun komitmen bersama yang mengikat untuk mengurangi dan membatasi emisi gas karbon, termasuk memulai komitmen pendanaan (jangka pendek maupun jangka panjang; dan mewujudkan visi bersama jangka panjang tentang masa depan dengan emisi karbon tingkat rendah bagi semua.

Konferensi ini juga berupaya memfasilitasi desakan sebagian besar komunitas internasional mendesak agar dunia menghentikan segera pertumbuhan emisi rumah kaca, baik yang ditimbulkan oleh negara-negara industri maju (USA, Uni Eropa, dan Jepang) maupun negara-negara ekonomi baru terutama China dan India. Pengurangan emisi tersebut harus berada di bawah ambang batas yang ditargetkan selama ini. Nilainya sekitar 25%- 40%, bahkan sejumlah aktivis lingkungan menginginkan target yang lebih radikal menjadi, 80% hingga 95% pada 2050.

Lantas bagaimana hasilnya? Apakah episiode konferensi di Copenhagen memenuhi harapan berbagai kalangan yang peduli dengan lingkungan? Melihat perkembangannya dari waktu ke waktu, dimana selalu ada tarik menarik kepentingan antar negara industri maju dengan negara-negara ekonomi baru, ternyata pertemuan kali ini pun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Alih-alih membuahkan hasil yang diharapkan, pertemuan bahkan terus deadlock dari awal sampai akhir.

Banyak NGO internasional merasa dikibuli oleh babak akhir konferensi tersebut, dimana kehadiran AS (Obama) telah meminggirkan draft kesepakatan yang telah dibahas berhari-hari, bahkan berbulan-bulan sebelum sidang oleh delegasi 193 negara. Obama datang seolah-olah menyelamatkan konferensi dengan membuat pertemuan penutup lima negara (AS, China, India, Brazil dan Afrika Selatan) yang memberikan kontribusi besar bagi pemanasan global.

AS, emiter gas karbon nomor satu, dalam hal ini ingin menarik China khususnya sebagai raksasa ekonomi baru untuk ikut bertanggung jawab, sekaligus memanfaatkan China dalam memunculkan alasan ketidaksiapan negara berkembang dengan bingkai ketidakmampuan ekonomi dan ketimpangan GDP.

Pertemuan 5 negara yang berjalan singkat tersebut pun akhirnya mengeluarkan kesepakatan, seperti menjaga pemanasan global pada level kurang dari 2oC dan menjanjikan dana sebesar $30 miliar untuk memperbaiki iklim hingga 2012 serta mengupayakan upaya perbaikan iklim yang transparan dan akuntabel antara negara maju dan berkembang.

Seperti yang diduga, benar bahwa akhirnya komitmen yang dibuat tersebut masih sebatas seruan moral bagi pemimpin dunia, tidak mengkerucutkan Protokol Kyoto. Padahal sejak awal kongres ingin melahirkan sebuah konsesus yang mengikat secara legal formal bagi seluruh negara. AS dan China sepertinya memang telah merancang dan menggiring konferensi ini dalam permainan poker kedua negara raksasa tersebut.

China, emiter gas terbesar kedua, dalam konferensi tersebut memveto agar konsesus tidak mengikat secara legal dengan alasan masih terdapat kesenjangan yang signifikan bila ditinjau dari besarnya GDP per kapita negara-negara berkembang. China sendiri merencanakan baru akan mengurangi intensitas emisi CO2 per unit GDP pada level 40% -45% pada 2020.

Sehari setelah konferensi berakhir mulai muncul kesadaran dan kekecewaan baru, betapa momentum penting yang menguras stamina telah tersia-siakan. Bahkan PM Inggris, usai konferensi, mengungkapkan kekecewaannya dengan mengatakan “Never again should we let a global deal to move towards a greener future be held to ransom by only a handful of countries.” “Jangan lagi kita biarkan iklim semakin buruk dengan memasrahkannya pada negara kuat.”

Di LA, Harian Los Angeles bahkan menuding Obama telah melakukan hal yang sangat pragmatis untuk melindungi kepentingan AS. Demikian pula Harian New York Times .”Konferensi yang morat-marit merefresentasikan alam yang semakin kacau dan semua orang ingin cuci tangan”. Di Perancis harian Liberation mengangkat headline, “Keinginan meyelematkan bumi kalah dengan keinginan menyelamatkan krisis finansial”. Inilah yang juga kemudian membuat Sekjen PBB Ban Ki Moon ikut gerah, Sekjen PBB tersebut pun menegaskan langkah-langkah yang dicapai harus lebih konkrit, kegagalan konferensi kali ini harus diantisipasi, paling lambat tahun 2010 harus ada komitemen legal formal.

Hasil konferensi Copenhagen akhirnya menunjukkan pada kita betapa peliknya persoalan merehabilitasi lingkungan global dari pemanasan global. Kecemasan pemimpin dunia sebagian besar adalah retorika, karena ujung-ujungnya mereka lebih mencemaskan masalah finansial yang sedang dihadapi ketimbang perubahan iklim yang kian drastis dan tenggelamnya sejumlah pulau seiring dengan mencairnya es di kutub bumi. Semoga blundernya deal di Compenhagen bukan merupakan suatu kegagalan, karena kagagalan hanya akan memposisikan bumi pada posisi yang lebih berbahaya. **

** Dimuat di Harian Waspada 28 Desember 2009

5 thoughts on “Stabilitas Finansial Versus Perbaikan Iklim

  1. CLIMATE CHANGE
    “ PEMANASAN GLOBAL TERHADAP ASPEK KEHIDUPAN ”

    Indonesia mempunyai karakteristik khusus, baik dilihat daari posisi maupun keberadaannya, sehingga mempunyai karakteristik iklim yang spesifik. Di Indonesia sendiri mempunyai tiga jenis iklim yang mempengaruhi iklim di Indonesia, yaitu iklim muson, iklim tropis, dan iklim laut. Namun pada sekarang ini mulai terjadi perubahan iklim baik di dunia ataupun di Indonesia yang memiliki dampak yang merugikan, yaitu perubahan suhu, tekanan udara, angin, curah hujan, dan kelembaban sebagai akibat dari Pemanasan Global. Pemanasan Global sendiri adalah meningkatnya temperatur rata-rata bumi sebagai akibat dari akumulasi panas di atmosfer yang disebabkan oleh Efek Rumah Kaca yaitu fenomena menghangatnya bumi karena radiasi sinar matahari dari permukaan bumi dipantulkan kembali ke angkasa yang terperangkap oleh “selimut” dari gas-gas CO2 (karbon dioksida), CH4 (metana), N2O (nitrogen dioksida), PFCS (perfluorokarbon), HFCS (hidrofluorokarbon), dan SF6 (sulfurheksafluorida). Akibat dari pemanasan global tersebut perubahan iklim memberikan dampak yang merugikan di Indonesia terhadap berbagai segi kehidupan, baik dampak extern maupun dampak intern.
    Perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan memberikan dampak terhadap berbagai segi kehidupan. Dampak ekstrem dari perubahan iklim terutama adalah terjadinya kenaikan temperatur serta pergeseran musim. Kenaikan temperatur menyebabkan es dan gletser di Kutub Utara dan Selatan mencair. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan kenaikan permukaan air laut. Hal ini akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang serta mengancam kehidupan masyarakat pesisir pantai.
    Dampak-dampak tersebut antara lain :
    a) Dampak Perubahan Iklim Regional
    Pola musim mulai tidak beraturan sejak 1991 yang mengganggu swasembada pangan nasional hingga kini tergantung import pangan. Pada musim kemarau cenderung kering dengan trend hujan makin turun salah satu dampak kebakaran lahan dan hutan sering terjadi. Meningkatnya muka air danau khususnya danau Toba makin susut dan mungkin danau/waduk lain di Indonesia, konsentrasi es di Puncak Jayawija Papua semakin berkurang dan munculnya kondisi cuaca ekstrim yang sering yang menimbulkan bencana banjir bandang dan tanah longsor di beberapa lokasi dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa kajian dari IPCC 4AR yang menyinggung Indonesia secara spesifik antara lain : Meningkatnya hujan di kawasan utara dan menurunnya hujan di selatan (khatulistiwa). Kebakaran hutan dan lahan yang peluangnya akan makin besar dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas El-Nino. Delta Sungai Mahakam masuk ke dalam peta kawasan pantai yang rentan.
    b) Dampak perubahan iklim terhadap pertanian

    Produktivitas pertanian di daerah tropis akan mengalami penurunan bila terjadi kenaikan suhu rata-rata global antara 1-2o C sehingga meningkatkan risiko bencana kelaparan. Meningkatnya frekuensi kekeringan dan banjir diperkirakan akan memberikan dampak negatif pada produksi lokal, terutama pada sektor penyediaan pangan di daerah subtropis dan tropis. Terjadinya perubahan musim di mana musim kemarau menjadi lebih panjang sehingga menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan. Terjadinya pergeseran musim dan perubahan pola hujan, akibatnya Indonesia harus mengimpor beras. Pada tahun 1991, Indonesia mengimpor sebesar 600 ribu ton beras dan tahun 1994 jumlah beras yang diimpor lebih dari satu juta ton (KLH, 1998). Adaptasi bisa dilakukan dengan menciptakan bibit unggul atau mengubah waktu tanam. Peningkatan suhu regional juga akan memberikan dampak negatif kepada penyebaran dan reproduksi ikan.

    c) Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.
    Frequensi timbulnya penyakit seperti malaria dan demam berdarah meningkat. Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan. ”Pemanasan global” juga memicu meningkatnya kasus penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah. Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan. Faktor iklim berpengaruh terhadap risiko penularan penyakit tular vektor seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria. Semakin tinggi curah hujan, kasus DBD akan meningkat. suhu berhubungan negatif dengan kasus DBD, karena itu peningkatan suhu udara per minggu akan menurunkan kasus DBD. Penderita alergi dan asma akan meningkat secara signifikan. Gelombang panas yang melanda Eropa tahun 2005 meningkatkan angka “heat stroke” (serangan panas kuat) yang mematikan, infeksi salmonela, dan “hay fever” (demam akibat alergi rumput kering
    d) Dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air.
    Pada pertengahan abad ini, rata-rata aliran air sungai dan ketersediaan air di daerah subpolar serta daerah tropis basah diperkirakan akan meningkat sebanyak 10-40%. Sementara di daerah subtropis dan daerah tropis yang kering, air akan berkurang sebanyak 10-30% sehingga daerah-daerah yang sekarang sering mengalami kekeringan akan semakin parah kondisinya.

    e) Dampak perubahan iklim Sektor Lingkungan
    Dampak perubahan iklim akan diperparah oleh masalah lingkungan, kependudukan, dan kemiskinan. Karena lingkungan rusak, alam akan lebih rapuh terhadap perubahan iklim. Dampak terhadap penataan ruang dapat terjadi antara lain apabila penyimpangan iklim berupa curah hujan yang cukup tinggi, memicu terjadinya gerakan tanah (longsor) yang berpotensi menimbulkan bencana alam, berupa : banjir dan tanah longsor. Dengan kata lain daerah rawan bencana menjadi perhatian perencanaan dalam mengalokasikan pemanfaatan ruang.

    Dari beberapa dampak-dampak tersebut, kita bisa mengetahui dan menyimpulkan bahwa pemanasan global banyak sekali merugikan terhadap berbagai aspek kehidupan, untuk itu sebaiknya kita harus bersama-sama menjaga bumi ini dari pemanasan global sehingga iklim yang ada di sekitar kita tetap alami dan mempunyai pengaruh yang baik bagi seluruh kehidupan manusia dan generasi kita berikutnya.

    Medan, 05 Februari 2010

    Widya Artika (AB 5G)

  2. PENGARUH PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA
    Oleh : Siti Jamilah
    Kelas: AB-5G
    Dalam laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas.2 Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir! IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi.
    Pemanasan bumi berdampak pada perubahan iklim yang akan sangat dirasakan mereka yang miskin karena kehidupan mereka sangat tergantung pada alam, juga karena keterbatasan mereka (terutama dari segi ekonomi) untuk beradaptasi. Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change, UNFCCC) menyebutkan bahwa isu penanggulangan kemiskinan merupakan isu yang harus menjadi prioritas negara berkembang.
    Berdasarkan dari apa yang ada saat ini, Yayasan Pelangi Indonesia berpendapat bahwa negara perlu memberikan perhatian nasional kepada masalah perubahan iklim, terutama yang berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan. Kebijakan yang sama dapat dikaitkan dengan kebijakan yang mendukung kelangsungan teknologi rendah emisi dan kegiatan-kegiatan adaptasi.
    Pengaruh dari perubahan iklim adalah sebagai berikut:
    • penurunan produksi pangan sehingga bisa meningkatkan risiko bencana kelaparan
    • peningkatan kerusakan pesisir akibat banjir dan badai
    • peningkatan kasus gizi buruk dan diare perubahan pola distribusi hewan dan serangga sebagai vektor penyakit.
    Beberapa dampak perubahan iklim dalam laporan IPCC yang terkait dengan Indonesia:
    Sumber dan manajemen air tawar:
    • Pada pertengahan abad ini, rata-rata aliran air sungai dan ketersediaan air di daerah subpolar serta daerah tropis basah diperkirakan akan meningkat sebanyak 10-40%.
    • Sementara di daerah subtropis dan daerah tropis yang kering, air akan berkurang sebanyak 10-30% sehingga daerah-daerah yang sekarang sering mengalami kekeringan akan semakin parah kondisinya.

    Ekosistem:
    • Kemungkinan punahnya 20-30% spesies tanaman dan hewan bila terjadi kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,5-2,5oC.
    • Meningkatnya tingkat keasaman laut karena bertambahnya Karbondioksida di atmosfer diperkirakan akan membawa dampak negatif pada organisme-organisme laut seperti terumbu karang serta spesies-spesies yang hidupnya bergantung pada organisme tersebut.
    Pangan dan hasil hutan:
    • Diperkirakan produktivitas pertanian di daerah tropis akan mengalami penurunan bila terjadi kenaikan suhu rata-rata global antara 1-2derajat Celcius sehingga meningkatkan risiko bencana kelaparan.
    • Meningkatnya frekuensi kekeringan dan banjir diperkirakan akan memberikan dampak negatif pada produksi lokal, terutama pada sektor penyediaan pangan di daerah subtropis dan tropis.
    • Adaptasi bisa dilakukan dengan menciptakan bibit unggul atau mengubah waktu tanam
    • Peningkatan suhu regional juga akan memberikan dampak negatif kepada penyebaran dan reproduksi ikan.
    Pesisir dan dataran rendah:
    • Daerah pantai akan semakin rentan terhadap erosi pantai karena perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut. Kerusakan pesisir akan diperparah oleh tekanan dari manusia di daerah pesisir.
    • Diperkirakan pada tahun 2080, jutaan orang akan terkena banjir setiap tahun karena naiknya permukaan air laut. Risiko terbesar adalah dataran rendah yang padat penduduk dengan kapasitas beradaptasi yang rendah. Penduduk yang paling banyak terancam berada di delta-delta besar di Asia dan Afrika, namun yang paling rentan adalah penduduk di pulau-pulau kecil.
    • Adaptasi untuk daerah pesisir lebih sulit dilakukan di negara berkembang karena terbatasnya kapasitas beradaptasi mereka.
    Industri, permukiman dan masyarakat:
    • Industri, permukiman, dan masyarakat yang paling rentan umumnya berada di daerah pesisir dan bantaran sungai, serta mereka yang ekonominya terkait erat dengan sumberdaya yang sensitif terhadap iklim, serta mereka yang tinggal di daerah-daerah
    yang sering dilanda bencana cuaca ekstrem, terutama dimana urbanisasi berlangsung dengan cepat.
    • Komunitas miskin sangat rentan karena kapasitas beradaptasi yang terbatas, serta kehidupan mereka sangat tergantung kepada sumberdaya yang mudah terpengaruh oleh iklim seperti persediaan air dan makanan.

    Kesehatan:
    • Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan.

    Berdasarkan laporan-laporan di atas dapat saya simpulkan bahwa perubahan iklim sangat merugikan manusia, tetapi banyak dari kita tidak mengubris hal tersebut seperti kata pepatah penyesalan selalu datang terlambat, bila sudah terkena musibah atau bencana manusia akan baru menyadari segala tindakannya dapat menyebabkan pemanasan bumi dan akan membahayakan dirinya sendiri.
    Jadi, apakah anda ingin memulai menjaga bumi kita agar terhindar dari bencana,,,,??????

  3. MEMBUAT BUMI SEMAKIN PANAS
    Oleh : Rani Derna G.
    Kelas: AB-5G

    Sebagimana kita ketahui bumi tempat kita hidup selama ini sedang mengalami kerisis yang semakin lama semakin keritis. Pemanasan yang terus berkelanjutan membuat bumi tempat kita tinggal masuk kedalam zona bahaya, dan turut menenggelamkan kita kedalamnya. Kita tak perlu jauh-jauh mencari siapa tersangka utama masuknya bumi ke zona bahaya, bila anda manusia maka andalah salah satu tersangkanya.
    Seiring dengna berkembangnya zaman Manusia semakin gencar menebangi pohon, berternak dan memakai bahan bakar fosil yang mengakibatkan emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global akan terus bertambah dalam beberapa dekade ke depan bila kebijakan mitigasi perubahan iklim serta pola pembangunan masih seperti sekarang.
    Dalam laporan IPPC (Intergovernmental Panel on Climate Change) pad tahun 2007 menyebutkan bahwa kenaikan suhu global 1 drajat celcius berdampak pada Indonesia. Laporan yang berjudul ‘Climate Change Impacts, Adaptation and
    Vulnerability’ menunjukkan dampak-dampak perubahan iklim yang sudah dan yang mungkin terjadi di masa depan.
    Berdasarkan laporan tersebut di Indonesia telah terjadi kenaikan suhu rata-rata tahunan antara 0,2-1 derajat Celcius yang dapat mengakibatkan:
    • penurunan produksi pangan sehingga bisa meningkatkan risiko bencana kelaparan
    • peningkatan kerusakan pesisir akibat banjir dan badai
    • peningkatan kasus gizi buruk dan diare perubahan pola distribusi hewan dan serangga sebagai vektor penyakit.
    Laporan ini diperkuat lagi dengan hasil laporan Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark pada bulan Desember 2009, yang menyatakan ancaman perubahan iklim bagi Indonesia semakin nyata.

    Indonesia harus semkain gencar melakukan berbagai cara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Hal-hal yang harus dilakukan Indonesia agar dapat mengurangi emisi rumah kaca adalah menanam pohon, mengurangi pemakaian bahan bakar, mengurangi pembangunan rumah ataupun gedung-gedung yang memakai bahan dasar kaca (rumah kaca), dan mengurangi pertumbuhan penduduk.
    Tetapi menurut saya masyarakat Indonesia malah melakukan hal sebaliknya. Mulai dari penebangan liar yang masih dilaksanakan, pembangunan gedung-gedung mewah yang terbuat dari kaca, masih bertambahnya penduduk dari tahun ketahunnya, dan masih banyak kegiatan yang di lakukan masyarakat Indonesia yang mengakibatkan bumi semakin panas.
    Mungkin sebagian masyarakat ada yang melaksanakan kegiatan menanam pohon, tetapi sayangnya pohon yang mereka tanam adalah sawit. Merasa berjasa karena dengan membuka perkebunan sawit secara tidak langsung dapat mengurangi pemakaian emisi gas-gas rumah kaca. Mungkin dalam hati mereka sudah berfikir sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Tapi sayang pemikiran itu salah karena dengan menanam sawit/membuka perkebunan sawit secara langsung membuat bumi semakin panas. Perkebunan kelapa sawit dinilai amat rakus air sehingga akan mengakibatkan penggurunan, sementara perubahan fungsi lahan akan melepasakan emisi karbon dalam jumlah yang besar.
    Jadi walaupun sebenarnya tujuan awal kita adalah mengurangi pemanasan bumi (global warming) tetapi yang kita lakukan adalah membuat bumi semakin panas.

  4. Terciptanya Dampak Polusi Penerbangan Terhadap Efek Rumah Kaca

    Oleh :
    Nurlaila Harahap

    ABSTRAK

    Berbagai sektor bisnis saat ini sangat terkait dengan industri & jasa penerbangan antara lain sektor industri, transportasi udara, pertambangan, pariwisata, perdagangan & tenaga kerja. Pesawat komersial sudah menjadi standar kemudahan & kecepatan untuk alternatif transportasi yang populer, namun di sisi lain menghasilkan polusi yang merusak lapisan ozon. Tujuan penulisan ini adalah untuk lebih melihat arah & pengaruh dari industri & jasa penerbangan terhadap efek rumah kaca dengan mengkaji berbagai informasi terkait serta bagaimana implikasi akhirnya. Bagaimanapun, upaya-upaya untuk menyeimbangkan manfaat & dampaknya perlu untuk mulai dipikirkan, khususnya apabila manusia tetap ingin mengurangi polutan penyebab efek rumah kaca. Pemerintah selaku regulator perlu untuk secara bijak mengelola kondisi ini dengan hati-hati dan penuh pertimbangan. Merujuk pada upaya Komisi Eropa untuk mulai tegas menekan emisi gas rumah kaca, ini menjadi cermin yang positif akan pemerintah yang proaktif & berani untuk memulai perubahan.

    LATAR BELAKANG

    Menurut pakar perubahan iklim Eddy Hermawan dari Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), pemanasan global sangat dipengaruhi oleh tindakan manusia. Kenaikan suhu rata-rata 0,80 Celsius dalam seabad terakhir terutama disebabkan penggunaan bahan bakar fosil mulai tahun 1920-an atau pasca-revolusi industri (”Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca Seharusnya Target Semua Bangsa”, 2009). Negara-negara maju khususnya Amerika Serikat serta negara-negara berkembang secara umum memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil. Kendaraan bermotor, sarana transportasi maupun mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar fosil adalah penyumbang terbesar polusi yang secara perlahan tapi pasti menyebabkan perubahan iklim bumi. Dalam hal ini sepeda motor, mobil, kereta api, pesawat terbang, mesin industri, dll secara umum masih menggunakan batu bara & minyak bumi.
    Agus Purnomo (staf ahli khusus Bidang Kemitraan dan Isu Lingkungan pada Kementerian Negara Lingkungan Hidup) menyebutkan bahwa Persoalan menghadapi perubahan iklim dengan menekan produksi emisi gas rumah kaca itu, lanjut Agus, ibarat 100 penumpang yang naik pesawat terbang, dua di antaranya berupaya melubangi pesawat. Pada akhirnya, akibat perbuatan dua penumpang tersebut dapat mencelakakan semua penumpang pesawat. Analogi ini secara cukup baik menjelaskan tentang bahaya dari efek rumah kaca, apalagi dengan adanya negara-negara yang enggan untuk menolak target pengurangan emisi yang mengikat. Selama ini hutan, laut dan padang rumput merupakan penyerap karbon dioksida, salah satu gas utama yang menjadi perangkap panas di atmosfir Namun sebuah kenyataan yang lain menyebutkan bahwa hutan pun bisa menyebabkan gas rumah kaca yang bisa mencapai lima kali lebih besar daripada semua kendaraan bermotor (”Hutan Bisa Menjadi Sumber Emisi Gas Rumah Kaca”, 2009). Namun, apabila intervensi manusia bisa mengubah kondisi hutan tersebut khususnya melibatkan bagaimana perusahaan pengolah kayu & pemerintah, tentu intervensi ini juga bisa dilakukan untuk sektor yang lainnya.
    Polusi yang dihasilkan dari mesin-mesin terbang (exhaust gas polution) perlu diperhatikan dampak buruknya terhadap lingkungan. Meskipun hanya menyumbang sekitar 3% dari total polusi udara dunia tapi dengan banyaknya pesawat terbang komersial yang operasional dari hari ke hari bisa jadi angka persentase tersebut semakin meningkat. Gas buangan dari pesawat terbang seperti karbon dioksida, oksida nitrogen, uap air dan lain-lain semakin lama semakin memperkuat kenyataan bahwa polusi udara dari pesawat terbang patut diwaspadai (Polusi Udara Dari Pesawat Terbang, 2007). Hal ini bahkan diperkuat penelitian tahun 1980-1990-an yang mengatakan bahwa oksida nitrogen atau NOx yang dihasilkan dari hasil pembuangan mesin jet dapat merusak lapisan ozon lebih parah dari pada CFC (Chloro-Fluoro-Carbon), gas yang sering dituduh sebagai perusak ozon. Bahkan beberapa ahli atmosfir yang tergabung dalam badan lingkungan hidup WWF (World Wide Fund) tahun 1991 berani berkata yang patut dijadikan tersangka utama semakin melebarnya lubang ozon adalah polusi NOx dari sistem transportasi udara.
    Mengapa? Tidak lain karena NOx secara kimiawi dapat mengurai ozon dengan bantuan sinar ultraviolet matahari dan emisi gas buangan pesawat ini banyak terdapat di ketinggian jelajah pesawat (10-12 km) sehingga makin mudah saja mengurai ozon (O3) menjadi oksigen (O2) yang tidak bisa berbalik lagi menjadi ozon (”Polusi Udara Dari Pesawat Terbang”, 2007). Siapa yang mendapatkan keuntungan dengan andil juga menyebabkan emisi rumah kaca ini ? Tentu semua pihak yang secara langsung terkait dengan industri penerbangan & jasa / bisnis penerbangan. Industri penerbangan didominasi oleh dua produsen besar Boeing dari Amerika Serikat dan Airbus dari Perancis, Jerman, Spanyol & Inggris.
    Produksi komersial Boeing sudah dimulai sejak 1958, sedangkan Airbus baru masuk pasar komersial pada 1972. Perseteruan antara keduanya semakin tajam setelah pada tahun 2003 Airbus berhasil menyalip Boeing dalam produksi dan omset pesawat sipil dunia. Berdasarkan informasi yang dikutip pada situs Sinar Harapan (”Persaingan Boeing Airbus Makin Sengit”, 2004) disebutkan bahwa Airbus berhasil menjual 305 pesawat, sedangkan Boeing hanya 285 pesawat. Selain itu dari sisi omset / penjualan, Airbus pada tahun 2003 mencapai US$ 7,1 miliar dibandingkan dengan Boeing yang meraup omset US$ 5,9 miliar (Boeing layoff in February 2009 and 2008 Boeing Sales Volume, 2009). Lebih detail lagi tentang persaingan keduanya dapat dilihat pada grafik 1 & 2 serta tabel 1.
    GRAFIK 1
    Pesanan & Penjualan Airbus – Boeing
    (1997 s/d 2005)

    Sumber : http://www.airliners.net

    TABEL 1
    Pesanan Pesawat yang Telah Diserahkan Airbus – Boeing
    (2006 s/d 2008)
    ANGKA PESANAN PESAWAT PESAWAT DISERAHKAN
    TAHUN Boeing Airbus Boeing Airbus
    2006 1.044 unit 790 unit 422 unit 434 unit
    2007 1.341 unit 1.413 unit 441 unit 453 unit
    2008 662 unit 791 unit 375 unit 483 unit

    Sumber : Diolah penulis

    GRAFIK 2
    Penjualan Airbus – Boeing
    (1989 s/d 2007)

    Sumber : http://www.centreforaviation.com

    Jasa penerbangan sendiri pun mengalami naik turun terkait dengan berbagai kejadian seperti peristiwa serangan teroris 11 September 2001 yang menghancurkan WTC di Amerika Serikat, maupun kenaikan harga minyak bumi dengan luar biasa seperti pada bulan Juli tahun 2008 yang mencapai US$ 147 / barrel maupun krisis finansial global. Efek dari semua ini dapat menyebabkan jumlah penumpang menurun, biaya bahan bakar (avtur) meningkat, biaya keamanan & biaya asuransi meningkat, sehingga menambah beban operasional tinggi bagi perusahaan jasa penerbangan. Sebagai contoh, Cathay Pacific, Aer Lingus & Lufthansa adalah tiga maskapai besar yang terkena dampak negatif. Cathay Pacific, maskapai yang berbasis di Hong Kong, mencatat kerugian hingga $ 1,1 miliar sepanjang 2008. Anjloknya jumlah penumpang dan tingginya harga bahan bakar minyak sepanjang tahun dianggap sebagai penyebab utama kerugian. Aer Lingus pun mencatat kerugian sebesar $ 136 juta. Padahal setahun sebelumnya, maskapai ini masih mencatat keuntungan $ 133 juta. Sedangkan maskapai Jerman, Lufthansa, juga harus memangkas tingkat keuntungan mereka hingga dua pertiga, menjadi 758 juta dolar. Pada 2007, keuntungan Lufhtansa mencapai $ 2,1 miliar (“Jumlah Penumpang Anjlok Maskapai Dunia Merugi”, 2009).

    ANALISA & PEMBAHASAN

    Boeing & Airbus berlomba untuk memproduksi pesawat sipil yang inovatif dan semakin efisien, sehingga dapat dipergunakan oleh industri jasa penerbangan dalam meningkatkan keuntungan bisnisnya. Upaya dari masing-masing produsen untuk juga memproduksi pesawat yang hemat bahan bakar secara khusus selain menguntungkan lingkungan tetapi di sisi lain juga dapat menjadi bumerang. Mengapa ? Karena akan mendorong munculnya maskapai-maskapai baru atau bertambah padatnya lalu lintas udara. Asia diharapkan dapat menyumbang sebanyak sepertiga dari lalu lintas udara pada tahun 2020, meningkat dari 25 % tahun pada 2008, melebihi Amerika Serikat dan Eropa. Andil pasar AS diramalkan akan turun ke 24 % dari 31 %, dan Eropa juga akan turun ke 27 %. Lagipula terdapat sekitar 5,6 miliar penduduk ada di negara-negara berkembang yang sebagian besar di Asia, dibandingkan sekitar 1 miliar orang di negara-negara maju (Asia Jadi Ajang Persaingan Boeing dan Airbus, 2008).
    Pasar penerbangan di Indonesia mulai bergeliat tumbuh subur. Mengapa demikian? A.B Susanto dari konsultan Jakarta Consulting Group (”Membangun Merek Di Angkasa”, 2009) menyebutkan karena adanya kebijakan ’limited open sky’ yang tercermin dari peraturan pemerintah No 40/1999 yang memungkinkan lahirnya pemain-pemain baru dan bahkan didukung oleh Keppres 118/2000 yang mengijinkan bidang usaha angkutan udara terbuka bagi asing dengan syarat harus berpatungan dengan modal dalam negeri). Pada pameran dirgantara yang dilakukan di Singapura bulan Februari 2008 terdapat pesanan besar-besaran oleh dua maskapai penerbangan Indonesia. Maskapai penerbangan bertarif murah, Lion Air memesan 56 pesawat Boeing 737-900ER dan berhak membeli 50 lainnya. Armada pesawat 737-900ER-nya meningkat berjumlah 178, dan Boeing mengatakan maskapai penerbangan itu kini merupakan operator pesawat terbang yang terbesar di dunia. Selain itu Garuda memesan 10 pesawat Boeing 777-300ER untuk memperluas jalur penerbangan internasional. Empat pesawat merupakan pembelian baru senilai lebih dari US$ 1 miliar, sedangkan enam pesawat lainnya merupakan pesanan sebelumnya yang diubah untuk pesawat B777-200s (”Asia Jadi Ajang Persaingan Boeing dan Airbus”, 2008).
    Dinesh Keskar, Wakil Direktur Pemasaran Boeing, mengatakan Asia Selatan dan Tenggara diperkirakan memesan lebih dari 3.000 pesawat senilai US$ 103 miliar dalam 20 tahun, dengan India, Indonesia, dan Malaysia yang merupakan poros penggerak pertumbuhan utama. Ia mengatakan, 1.940 pesawat diharapkan diserahkan ke Asia Tenggara dan 1.067 lainnya di Asia Barat Daya, dengan sebagian besar ke pasar India yang meningkat. Sebagian besar pesanan merupakan pesawat yang berlorong tunggal yang lebih disukai oleh maskapai-maskapai penerbangan bertarif murah, yang berkembang dengan pesat. Penyerahan pesawat ke Malaysia dan Indonesia di masa datang diperkirakan mencapai 740 pesawat baru, atau kurang lebih 38% dari jumlah pesawat di Asia Tenggara. India akan memperkuat peningkatan ini di Asia Barat Daya setelah deregulasi industri penerbangan. Itu terjadi setelah ada perubahan dari kebiasaan menumpang kereta api, menjadi bepergian pesawat. India diperkirakan menerima 911 pesawat senilai US$ 86 miliar dalam 20 tahun mendatang (”Asia Jadi Ajang Persaingan Boeing dan Airbus”, 2008).
    Fenomena ’low cost carrier’ maupun ’budget airlines’ ditandai dengan berdiri & beroperasinya perusahaan-perusahaan jasa penerbangan yang berupaya melayani jalur-jalur pendek (point-to-point) maupun jalur-jalur umum / ’gemuk’ dengan upaya penyelenggaraan bisnis yang efisien. Walaupun berbeda dengan jasa penerbangan yang melayani ’hub-to-hub’ yang biasanya merupakan penerbangan jarak menengah & jauh antara bandara-bandara internasional, namun penerbangan jarak pendek ini pun berkontribusi aktif dalam menyumbangkan polusi udara yang merusak ozon. Berdasarkan data Direktorat Perhubungan Darat & Departemen Perhubungan (Market Intelligence Report, 2008), disebutkan bahwa jumlah maskapai penerbangan domestik berjadwal atau reguler terhitung April 2008 adalah 16 perusahaan. Dari total 297 pesawat milik maskapai penerbangan Indonesia yang terdaftar pada Direktorat Perhubungan Udara, Departemen Perhubungan pada Desember 2007, hanya 221 pesawat yang beroperasi, karena sebagian pesawat yang tidak beroperasi sedang dalam perawatan dan perbaikan serta terdapat kendala teknis lainnya.
    Berdasarkan data Direktorat Sertifikasi dan Kelaikan Udara, Departemen Perhubungan pada Desember 2006, rata-rata umur pesawat terbang di Indonesia yang paling muda adalah sekitar 10 tahun, yaitu pesawat dari maskapai Garuda Indonesia. Sementara itu umur pesawat terbang diluar Garuda rata-rata berumur diatas 15 tahun. Selain Garuda Indonesia, maskapai yang rata-rata umur pesawatnya masih di bawah 20 tahun adalah Sriwijaya Air dengan rata-rata 13,8 tahun dari 5 pesawatnya dan Lion Air yang umur rata-rata pesawatnya 17,5 tahun dari 30 pesawat yang dioperasikannya (Market Intelligence Report, 2008). Untuk beberapa tahun ke depan Lion Air akan menjadi maskapai dengan rata-rata umur pesawatnya termuda, karena perusahaan ini telah memesan sejumlah 178 pesawat baru yang sebagian mulai bergabung dengan armadanya pada tahun 2008 dan sisanya akan bergabung dalam beberapa tahun ke depan. Sementara itu beberapa maskapai lainnya antara lain Indonesia Air Asia, Kartika Airlines, Mandala Airlines dan lain-lain masih menggunakan pesawat dengan umur rata-rata di atas 20 tahun, termasuk Merpati Airlines (Market Intelligence Report, 2008).

    GAMBAR 3.
    Illustrasi Perusakan Ozon oleh Nitrogen Oksida di Atmosfir

    Sumber : http://www.indoflyer.net

    Bagaimana penerbangan pesawat dapat menyebabkan kerusakan besar pada ozon ilustrasinya dapat dilihat pada gambar 3. Selain itu berdasarkan grafik 2 dapat dilihat juga prosentase dari industri penerbangan dalam kontribusinya sebagai satu dari lima sumber polusi emisi terbesar (di bawah 5 %). Pada tahun 1999, IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) mengeluarkan laporan dan diantara poin-poin yang terpenting tentang penerbangan sebagai berikut:
    ­ Pesawat terbang menghasilkan 2% total produksi emisi karbon dioksida (CO2) per tahun, atau sebanyak 13% dari emisi CO2 yang dihasilkan dari seluruh kendaraan. Diproyeksikan naik menjadi 3% sampai tahun 2050. Laporan ini juga mencatat bahwa CO2 tetap berada di lingkungan atmosfir selama setidaknya 100 tahun sehingga efeknya kumulatif.
    ­ Emisi dari Nitrogen Oksida (NOx) dari pesawat subsonik diprediksi akan meningkat sebesar 6% sejak tahun 1992. Sehingga diproyeksikan naik menjadi 13% pada tahun 2050.
    ­ Jejak asap pesawat terbang (contrails) dari exhaust menghasilkan uap air (H2O dan Hidrokarbon) telah menutupi sekitar 0.1% permukaan bumi sejak 1992. Diperkirakan akan meningkat setidaknya 0.5% di tahun 2050. Jejak asap ini dapat bertahan di lingkungan atmosfir dan secara langsung mempengaruhi efek rumah kaca. Selain itu jejak asap memberikan kontribusi peningkatan terjadinya awan cirrus yang dapat menutupi sekitar 30% permukaan bumi

    GRAFIK 2.
    Sumber Polusi Emisi

    Sumber : http://www.indoflyer.net

    KESIMPULAN & IMPLIKASI

    Terkait dengan tema dari Call for Paper ’Lingkungan Hidup’ yaitu ’strategi adaptasi & mitigasi terhadap perubahan iklim’, penulis berupaya untuk lebih objektif dalam membahas permasalahan yang ada. Pengaruh industri & jasa penerbangan walau memberi dampak negatif bagi lingkungan tetapi juga memberikan manfaat serta keuntungan. Kondisi ini memang ibarat buah simalakama, karena selain sektor penerbangan, keempat sektor yang lain pun juga memiliki manfaat serta keuntungan bagi berbagai sektor kehidupan. Pemikiran lebih bijak menyebutkan bahwa kalaupun semua itu memberikan manfaat & keuntungan, perlu dilihat lagi seberapa besar dampak negatif yang ditimbulkannya. Penerbangan jelas memberikan kemudahan untuk hidup, para penumpang mendapat manfaatnya, karyawan & pebisnis mendapat keuntungannya, belum lagi pihak-pihak lain yang secara tidak langsung ikut terkait. Penerbangan perintis yang bisa menjangkau lokasi jauh atau terpencil memberikan nilai guna yang sangat berarti bagi banyak pihak. Penerbangan domestik maupun internasional pun tidak terkecuali, dengan jenis manfaatnya sendiri-sendiri.
    Gas buang pesawat (dari bahan bakar fosil) dianggap sebagai salah satu penyumbang pencemaran emisi gas rumah kaca, upaya untuk membuat bahan bakar lebih efisien serta mencari alternatif bahan bakar diharapkan kelak dapat memberi gambaran yang lebih ’hijau’ untuk masa depan lingkungan. Dari pihak produsen pesawat terbang, kompetisi antara Boeing & Airbus menghasilkan inovasi produk yang diharapkan semakin menjawab kebutuhan. Tentunya kebutuhan ini tidak sekedar secara ekonomis saja, namun juga mulai menyentuh lingkungan. Airbus meluncurkan A320 nya pada tahun 1988 dengan keunggulan dalam efisiensi bahan bakar. Sebuah alasan yang lebih masuk akal disebut sebagai ’strategi efisiensi’ yang ekonomis dibandingkan benar-benar untuk tujuan ’ramah lingkungan’.
    Berdasarkan manfaat penggunaan bahan bakar fosil yang lebih sedikit akan membantu mengurangi penyebab polusi yang bisa berdampak pada perubahan iklim, maka strategi tersebut tetap dianggap mendukung lingkungan karena mengurangi emisi gas rumah kaca. dalam kondisi ini kompetitor tidak diam saja, salah satu karya fenomenal Boeing yang diluncurkan tahun 2009 adalah Boeing 787 ‘Dreamliner’. Pesawat ini disebut sebagai pesawat penumpang dengan efisiensi bahan bakar mencapai 20 % dibandingkan jenis / tipe pesawat lainnya dalam menempuh jarak jangkau penerbangan. Beberapa pihak bahkan memberikan julukan pada 787 sebagai pesawat ‘hijau’ karena dianggap lebih ramah lingkungan. Lalu lintas penerbangan komersial di seluruh dunia diprediksi meningkat menjadi 5% sampai tahun 2015 dimana kebutuhan konsumsi bahan bakar akan naik menjadi 3 %. Perbedaan angka ini disebabkan karena adanya peningkatan teknologi mesin yang semakin efisien (”Polusi Udara Dari Pesawat Terbang”, 2007). Kutipan tadi menunjukkan betapa teknologi baru yang berbasis pada efisiensi bahan bakar dapat membantu lingkungan.
    Semenjak Wright Bersaudara meluncurkan “abad penerbangan”, dan dalam waktu kurang dari 100 tahun, penerbangan secara fundamental telah mengubah dunia. Saat ini, dalam satu hari rata-rata ada lebih dari 40.000 penerbangan komersial mengangkut lebih dari 4 juta penumpang ke berbagai tempat tujuan, yang secara politik, sosial, dan ekonomi menghubungkan orang-orang dan bangsa-bangsa di seluruh dunia. Diramalkan kebutuhan (demand) untuk perjalanan udara akan menjadi dua kali lipat dalam kurun waktu dua dekade mendatang (”Tentang Keselamatan Penerbangan”, 2004). Dalam pembahasan sudah disebutkan bahwa Malaysia, Indonesia & India akan menjadi poros penggerak utama pertumbuhan industri ini, yaitu dengan disiapkan 1.940 pesawat untuk Asia Tenggara & 1.067 di Asia Barat Daya. Tantangan ? Memang semua itu ada harganya dan bisa sangat mahal bagi lingkungan yang menanggung dampak jangka panjang, demikian juga dengan generasi penerus. Perubahan kebiasaan penduduk India untuk transportasi menggunakan kereta api menjadi pesawat juga memiliki kelemahan & kelebihan tersendiri. Apabila benar bahwa gas buang pesawat lebih merusak ozon dibandingkan kendaraan lain, maka ini benar-benar harga yang semakin mahal.
    Apakah perlu dibatasi pertumbuhan industri penerbangan domestik untuk mengurangi emisi gas rumah kaca ? Komisi Eropa sudah melakukannya dengan berani pada tahun 2005. Dalam kutipan website harian Sinar Harapan disebutkan bahwa Semua negara Eropa kini melaksanakan ’Rencana Alokasi Nasional’ yang menentukan pagu emisi rumah kaca mereka (Persaingan Boeing Airbus Makin Sengit, 2004). Para pemimpin Eropa setuju awal tahun ini untuk menekan emisi gas rumah kaca 15 hingga 30 persen lebih rendah dari tingkat tahun 1990, dengan batas hingga tahun 2020. Komisi Eropa menghendaki program pengurangan ini mencakup semua emisi setiap penerbangan yang berangkat menuju negara Eropa lainnya dan negara ketiga. Pesawat-pesawat Eropa maupun yang non-Eropa akan diberlakukan sama.
    Rencana pengurangan emisi yang memerlukan persetujuan Parlemen dan Pemerintah-pemerintah Uni Eropa, dan baru berlaku tahun 2008, adalah implementasi Protokol Kyoto atas Uni Eropa. Bagi penulis, Uni Eropa dengan komitmennya yang tinggi bersama dengan Jepang, China, Australia, Indonesia dan berbagai negara yang menghadiri pertemuan internasional untuk lingkungan seperti konvensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFCCC). Dengan pengabdian yang terfokus dan kerja sama yang sepenuh hati di antara semua bangsa dalam mengatasi masalah pemanasan global, perubahan benar-benar sudah terlihat di depan mata (Perserikatan Bangsa-Bangsa : Komitmen Positif untuk Mendukung Perubahan Iklim yang Positif, 200). Kondisi ini menjadi semakin baik lagi dengan berubahnya sikap Amerika Serikat di bawah pemerintahan Barack Obama untuk mau mendukung Protokol Kyoto, dibandingkan sikap dari presiden sebelumnya yaitu George W. Bush.
    Seperti yang disebutkan oleh Rachmat Witoelar yang menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup, bahwa Indonesia dapat belajar dari pengalaman dunia yang menempatkan pengelolaan lingkungan hidup sebagai isu sentral,” dalam bukunya Refleksi 2006: Untuk Menatap Masa Depan. Kondisi ini menuntut Indonesia menjadi bangsa yang peduli & memiliki langkah nyata untuk bertindak. Dengan turut aktif & berkontribusi terhadap regulasi maupun program yang pro-lingkungan namun juga pro-rakyat, pemerintah Indonesia cermat & berwibawa bisa menumbuhkan kepercayaan agar tidak semata-mata hanya bersikap ’hangat’ menggelar karpet merah untuk menyambut dunia bisnis saja. Bagaimanapun negara ini perlu diatur semakin baik lagi agar menjadi negara yang besar, salah satunya adalah bagaimana untuk menghargai & menyikapi lingkungan. Saat setiap negara mengalami tantangan & permasalahan untuk kasus pemanasan global yang berbeda penyebabnya, maka setiap negara pun harus mengetahui peran serta strategi yang tepat agar ada solusi yang baik.

    REFERENSI

    Blog PEMANASAN GLOBAL (http://www.pemanasanglobal.net/energi/negara_hijau .htm). ”Perserikatan Bangsa-Bangsa : Komitmen Positif untuk Mendukung Perubahan Iklim yang Positif”. 19 Maret 2009.
    Indah, Mega Veby. “Berbenah Menuju Konferensi Bali”. Blog VEBY MEGA (http://vebymega.blogspot.com/2007/10/berbenah-menuju-konferensi-bali.html). 10 Oktober 2007 (Dimuat di Harian Jurnal Nasional – 22 November 2007).
    PT Data Consult. Website PT DATA CONSULT (http://www.datacon.co.id /Penerbangan2008.html). “Market Intelligence Report”. April 2008.
    Sumbodo, Sudiro. Website INDOFLYER (http://www.indoflyer.net/content.asp? contentid=1248). ”Polusi Udara Dari Pesawat Terbang”. 31 Desember 2007.
    Susanto A, B. Website JAKARTA CONSULTING GROUP (http://www.jakarta consulting.com/art-01-10.htm). “Membangun Merek Di Angkasa”. 20 Apr 2009.
    Susatyo, Raden, Tri. Website KAGAMA-MM (http://www.kagama-mm.com/artikel.php?id=2). ”Tentang Keselamatan Penerbangan”. 14 Desember 2004.
    Website AIRLINERS NET (www.airliners.net). “Airbus / Boeing Deliveries, Orders & Backlog”. April 2009.
    Website CENTRE FOR AVIATION (www.centreforaviation.com). “Penjualan Airbus – Boeing”. April 2009.
    Website CNGUY (http://www.cnguy.com /financial/news/2009/01/10/3241/boeing-layoff-in-february-2009-and-2008-boeing-sales-volume.html). “Boeing layoff in February 2009 and 2008 Boeing Sales Volume”. 10 Januari 2009 (Kutipan Dari Financial Times).
    Website ENERGI PORTAL (http://www.energiportal.com/mod.php?mod=publisher &op=viewarticle&cid=46&artid=802). ”Hutan Bisa Menjadi Sumber Emisi Gas Rumah Kaca”. 18 April 2009.
    Website KOMPAS ONLINE (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/30 /humanior a/3563389.htm). “Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca Seharusnya Target Semua Bangsa”. April 2009.
    Website Harian MEDIA INDONESIA (http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id =160062). “Asia Jadi Ajang Persaingan Boeing dan Airbus”. 20 Februari 2008.
    Website Harian SINAR HARAPAN (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0407/31 /lua05.html). ”Persaingan Boeing Airbus Makin Sengit”. 31 Juli 2004
    Website Harian SINAR HARAPAN (http://www.sinar harapan.co.id/berita/0509/28 /lua09.html). ”Komisi Eropa Batasi Emisi Gas Penerbangan”. 28 November 2005.
    Website TEMPO INTERAKTIF (www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2009/03/11 /brk,20090311-164230,id.html). ”Jumlah Penumpang Anjlok Maskapai Dunia Merugi”. 11 Maret 2009.
    http://www.tribunbatam.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=2836&Itemid=1096

    By: Nurlaila Harahap

  5. Dampak Perubahan Iklim Pada Kehidupan

    Perubahan Iklim dan Pemanasan Global, disebabkan komposisi kimiawi dari atmosfer sedang mengalami perubahan sejalan dengan penambahan gas rumah kaca – terutama karbon dioksida, metan dan asam nitrat. Kasiat menyaring panas dari gas tersebut tidak berfungsi. Energi dari matahari memacu cuaca dan klim bumi serta memanasi permukaan bumi; sebaliknya bumi mengembalikan energi tersebut ke angkasa.

    Gas rumah kaca pada atomsfer (uap air, karbon dioksida dan gas lainnya) menyaring sejumlah energi yang dipancarkan, menahan panas seperti rumah kaca. Tanpa efek rumah kaca natural ini maka suhu akan lebih rendah dari yang ada sekarang dan kehidupan seperti yang ada sekarang tidak mungkin ada. Tetapi permasalahan akan muncul ketika terjadi konsentrai gas rumah kaca pada atmosfer bertambah. Sejak awal revolusi industri, konsentrasi karbon dioksida pada atmosfer bertambah mendekati 30%, konsetrasi metan lebih dari dua kali, konsentrasi asam nitrat bertambah 15%. Penambahan tersebut telah meningkatkan kemampuan menjaring panas pada atmosfer bumi. Karena mereka secara historis bertanggung jawab untuk sebagian besar emisi gas rumah kaca dan pada saat yang sama mampu mengurangi sebagian besar mereka”, 68% mengatakan bahwa negara berkembang harus bergabung dalam usaha tersebut, “karena laju peningkatan emisi mereka yang tinggi menambahkan lebih banyak kondis polusi yang sudah ada dan mereka harus beralih dari model pembangunan yang kotor menjadi ke model pembangunan bersih.

    Para ilmuwan umumnya percaya bahwa pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan manusia lainnya merupakan penyebab utama dari bertambahnya konsentrasi karbon dioksida dan gas rumah kaca. Sejumlah bukti baru dan kuat yang muncul dalam setudi mutakhir memperlihatkan bahwa masalah pemanasan yang terjadi 50 tahun terakhir disebabkan oleh tindakan manusia.
    Pemansan global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas rumah kaca, yg terus bertambah di udara, hal tersebut disebabkan oleh tindakan manusia, kegiatan industri, khususnya CO2 dan chlorofluorocarbon. Yang terutama adalah karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara, minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan. Asam nitrat dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan oleh aktivitas industri dan pertanian. Chlorofluorocarbon CFCs merusak lapisan ozon seperti juga gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global.

    Negara-negara miskin akan menderita luar biasa akibat perubahan iklim – sebagian karena letak geografisnya dan juga karena kekurangan sumber alam untuk penyesuaian dengan perubahan dan melawan dampaknya. Manusia dan spesies lainnya di planet sudah menderita akibat perubahan iklim. Proyeksiilmiah menunjukkan adanya peluasan dan peningkatan penderitaan, misalnya, tekanan panas, bertambahnya dan berkembangnya serangga yang menyebabkan penyakit tropis baik di utara maupun selatan katulistiwa. Juga adanya rawan pangan yang makin menignkat.

    Keadaan genting dari planet kita sekarang ini disebabkan oleh konsumsi berlebihan, bukan oleh 80% penduduk miskin di 2/3 belahan bumi, tetapi oleh 20% penduduk kaya yang mengkonsumsi 86% dari seluruh sumber alam dunia

    Bumi memiliki kekuatan besar untuk menanggung derita, tetapi hal itu tidak dapat terus menerus kalau kita tidak menghendaki bahwa kemanusiaan di masa depan berada dalam bahaya. Kita sekarang berada dalam posisi untuk melakukan sesuatu, dunia tidak saja mendesak kita untuk memperhatikan keadilan sosial, yakni relasi yang baik antara masyarakat, tetapi juga keadilan ekologis, yang berarti relasi yang baik antara manusia dengan ciptaan lainnya dan dengan bumi sendiri.

    Kita berasal dari masyarakat yang mengenal etika kesejahteraan umum dan etika solidaritas dengan mereka yang menderita dan yang membutuhkankah perhatian. Kita menyadari bahwa ada kesejahteraan umum internasional yang melampaui batas-batas local dan nasional Perhatian terhadap laut, hutan, udara, binatang, ikan dan spesies tumbuhan sekarang ini tidak cuma menjadi keprihatinan suat negara dan pemerintahannya. Masalah lingkungan mewajibkan kita untuk merumuskan kembali kesejahteraan umum dalam lingkup gelobal. Bila kita mengkonsumsi sumber alam kita lebih cepat dari proses penggantiannya atau menghaburkan sumber-sumber alam yang tidak ada gantinya tanpa mempedulikan kebutuhan
    generasi mendatang maka kita merampok modal mereka. Leonardo Boff berbicara tentang kemanusiaan sebagai kesadaran akan bumi. Model refleksi seperti ini membantu kita untuk mengevaluasi kem bali keterkaitan seluruh ciptaan.

    Sekarang ini perlu mengembangkan struktur yang dapat melindungi lingkungan global. Maksudnya mengembangkan dan mendukung lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan persetujuan internasional seperti Protokol Kyoto.

    Apakah anda tahu bahwa untuk pertama kali dalam sejarah kita memiliki persetujuan yang mengikat secara hukum (Protokol Kyoto) berkaitan dengan perlindungan lingkungan hidup, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Tetapi agar menjadi operasional, hal tersebut mesti diratifikasi oleh 55 negara (sampai saat ini ada 46 negara). Juga, ratifikasi itu mesti mencakup Negara penghasil 55% emisi gas rumah kaca dunia, yang berarti bahwa negara-negara inustri besar harus meratifikasinya. Saat ini hanya sedikit negara industri besar yang meratifikasinya.

    Untuk mengurangi resiko yang akan terjadi pada lingkungan kita dapat melakukan kebiasaan berikut agar dapat diterapkan:

    ☺ Memperhatikan kebiasaan konsumen, dan membeli atau menggunakan barang-
    barang yang tidak dipaket. Mencari merk yang memperhatikan lingkungan dan
    sabun-sabun dan agenagen pembersih.
    ☺ Mendaur ulang segala yang dapat didaur ulang: plastik, kupasan buah segar dan
    sayur mayur, kertas dan kardus, gelas dan kaleng.
    ☺ Mulailah dengan membuat kompos. Tambahkan cacing dan juga daun-daun,
    ranting-ranting dan kotoran dari kebun dan kompos itu akan menjadi pupuk alam
    untuk tanah.
    ☺ Mendorong industri kerajinan untuk menjalankan tanggungjawab bagi daur ulang
    bahanbahan sisa dan alat-alat elektro seperti tv dan komputer.
    ☺ Hemat dalam menggunakan air dan Mengurangi pembakaran barang-barang yang
    tidak dapat didaur ulang
    ☺ Mengurangi emisi CFC dan emisi pengganti CFC dengan tidak menggunakan
    aerosol dan menggunakan energi efisien dan Mengurangi penggunakan listrik
    dengan menggunakan lampu hemat energi.
    ☺ Pemerintah setempat akan komitmen mereka untuk mendaur ulang dan
    mengurangi pemborosan serta mempertahankan hukum daur ulang dan
    pemborosan agar tetap relevan.
    ☺ Mendorong pengusaha setempat agar mengurangi produk-produk paket dan
    Mengingatkan otoritas setempat untuk memelihara listrik dan menggunakannya
    dalam system yang efisien.
    ☺ Mengingatkan pemerintah akan komitmen mereka pada deklarasi dan protokol-
    protokol demi lingkungan hidup dan Mengingatkan siapa saja agar hidup sederhana
    di bumi ini dan mengingatkan agar selalu menggunakan dan mendaur ulang barang
    yang digunakan.

    Resiko akibat perubahan iklim dan bertambahnya bencana alam mendorong untuk mempersoalkan kembali keyakinan masyarakat modern. Berkembangnya antara kaya dan miskin tidak boleh membuat orang acuh tak acuh dan mencegah penggunaan berlebihan sumber-sumber alam dan mencegah percepatan hilangnya spesies-spesies yang ada maka kita harus saling menjaga. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s