AC-FTA:Peningkatan Daya Saing & Cintai Produk Dalam Negeri

Oleh : Edy Sahputra Sitepu, SE, MSi

New year always with new hope, selalu ada harapan baru bersama datangnya tahun baru. Dalam spektrum yang lebih luas, tahun baru bukan hanya membawa harapan baru, karena bersamaan itu ada tantangan baru, peluang baru, ancaman baru, trend baru, problema baru dan hal-hal baru lainnya. Lalu apa hal baru yang spesifik di tahun 2010 dalam kontek bisnis dan ekonomi?

Banyak kalangan cenderung sepakat bahwa tahun 2010 ini diramalkan akan menjadi tahun persaingan, tahun yang sangat kompetitif. Setidaknya akan jauh lebih kompetitif dengan tahun-tahun sebelumnya, karena terhitung mulai 1 Januari 2010 kesepakatan perdagangan bebas atau Asean China – Free Trade Agreement (AC-FTA) resmi diberlakukan. Apa yang terjadi kemudian bisa dengan mudah diprediksi, pasar lokal akan semakin dibanjiri oleh barang-barang dari  negara-negara lain, khususnya dari China. Bila sebelum AC-FTA saja barang-barang buatan lokal nyaris ‘tenggelam’ oleh barang-barang made in China, apalagi pasca diberlakukannya AC-FTA.

Inilah yang mungkin kemudian membuat para pelaku bisnis dan pemerintah bak terkena “Niagara Sindrome.” Tahun baru datang satu paket dengan AC-FTA, seolah tiba-tiba. Entah mengapa memang, di negeri ini kesadaran selalu saja datang terlambat. Sontak, memasuki hari ke satu dan dua kalender 2010, mulai ada yang teriak, “Ini gawat, mana mungkin kita bisa bersaing dengan China”, “Wah AC-FTA ini bisa menekan pertumbuhan ekonomi nasional”, “AC-FTA akan membuat sekian juta orang menganggur”, “Kita harus membuat langkah-langkah persiapan dan pembenahan untuk mengantisipasi AC-FTA”, “Pelaksanaan AC-FTA harus ditangguhkan”, dan lain sebagainya.

Statemen terakhir malah mungkin kedengaran cenderung konyol. Karena berbagai persiapan mestinya sudah dilakukan jauh sebelum titik implementasi. Dalam kegiatan ekonomi, persaingan dan kompetisi jelas bukanlah hal baru, karena persaingan dan kompetisi itu sendiri eksis, seiring dengan dimulainya peradaban manusia.

Demikian juga perdagangan bebas, ada NAFTA (North American Free Trade Area) di Amerika Utara,  ada CEFTA (Central European Free Trade Area) di Eropa, ada AFTA (Asian Free Trade Area) untuk Asia, pastinya juga bukan barang baru, karena kesepakatan ini telah digulirkan sekitar dua dekade silam. Setelah pergulatan dalam diskursus yang alot, pada pertemuan pemimpin Asean tahun 1992 di Singapura, akhirnya disepakati untuk pelaksanaan perdagangan bebas dan pereduksian tarif (common effective preferential tariff –CEPT) dimulai pada 2003. Khusus untuk Asean China – FTA sendiri sebagai perluasan ruang lingkup perdagangan bebas dalam memperkuat ekonomi Asia disepakati tahun 2004 dan diimplementasikan mulai tahun 2010.

Benarkah FTA berbahaya bagi perkonomian Indonesia? Sebagian kecemasan di atas dapat diterima, namun tidak benar juga bila FTA (free trade agreement) tidak ada dampak positifnya, karena ekses ekonomi akan selalu memiliki dua sisi (trade off). Secara sederhana mungkin kita bisa membaginya dalam dua skenario, yakni skenario pesimis dan skenario optimis.

Dalam skenario pesimis, kita akan melihat bahwa pelaksanaan FTA dapat menekan industri dalam negeri, apalagi bila produk-produk yang masuk memang lebih kompetitif (memiliki kualitas yang lebih baik dan harga lebih murah). Dengan pola kegiatan ekonomi selama ini yang masih bersandar pada konsumsi, maka ketika barang-barang dari luar lebih menarik minat konsumen lokal, maka FTA dipastikan akan meningkatkan aliran devisa ke luar negeri. Industri lokal juga akan tertekan, manakala tidak mampu bersaing dengan produk-produk yang datang dari luar. Pada gilirannya, jika tidak diantisipasi maka akan melumpuhkan usaha-usaha lokal, lalu gulung tikar dan bermuara pada meningkatnya pengangguran.

Di sisi lain, dalam perspektif yang lebih optimis, FTA bisa mendorong terciptanya pasar yang lebih efisien yang pro konsumen. Persaingan akan mensuplai barang-barang yang sesuai dengan keinginan konsumen, terutama barang yang lebih murah dan kualitas yang lebih baik. Kita juga memiliki sektor-sektor unggulan yang masih dapat diandalkan untuk mendongkrak ekspor, khususnya di sektor pertanian seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil), kakao, karet dan lain-lain.  Bukankah China sendiri yang memiliki penduduk paling banyak dan paling pesat pertumbuhannya bisa menjadi pasar potensial bagi produk-produk Indonesia. Dan yang tak kalah penting FTA akan mendorong peningkatan investasi dari China ke Indonesia, karena FTA sendiri ditujukan memfasilitasi integrasi ekonomi yang lebih efektif dengan negara-negara yang terkait dan menekan gap (kesenjangan ekonomi).

Yang menjadi persoalan kemudian adalah, harus kita akui kita sangat minim persiapan dalam menghadapi FTA ini. Meski FTA dan sejenisnya dianggap akan memberikan dampak besar bagi perekonomian nasional, namun porsi perhatian dan diskursus pada persoalan ini sangat minim, sepi dan jauh dari perhatian. Terutama perhatian dari pemerintah sebagai pihak yang paling berkepentingan dalam melindungi kekuatan ekonomi nasional dari berbagai ancaman ekspansi ekonomi asing (yang merugikan). Selama satu dekade lebih, halaman-halaman diskusi kita hanya terkonsentrasi pada penegakan demokrasi, dari satu pemilu ke  pemilu lain, dari satu pilkada ke pilkada lain, tenggelam dalam euforia demokrasi dan politik.

Jarang sekali kita melihat atau mendengar, khususnya pemerintah dan legislatif, menyibukkan diri untuk mengantisipasi dan memerangi masalah serbuan barang asing ilegal, daya saing sejumlah produk eskpor Indonesia yang kalah dengan sesama anggota Asean, khususnya dengan Thailand, Singapura dan Malaysia, konon lagi dengan China, padahal hal ini terjadi selama beberapa tahun berturut sejak 2005. Belum lagi masalah kerawanan dalam penanganan kepabeanan,  masih terbengkalainya ratusan bahkan ribuan item komoditi yang akan diratifikasi hingga 0%  dari pembahasan pemerintah dan DPR serta berbagai persoalan lainnya. Ironis memang, masalah-masalah perebutan kekuasan di negeri ini memang selalu menarik perhatian lebih besar.

Baiklah, sekarang bukan waktunya lagi untuk saling menyalahkan karena harus ada aksi untuk menjawab FTA.  Berdasarkan skenario optimis, maka ada beberapa catatan yang penting untuk segera dilaksanakan. Pertama, tidak ada pilihan kita harus terus meningkatkan daya saing produk-produk lokal sehingga dapat bersaing dengan produk-produk yang bakal masuk. Terkait dengan ini paling apes kita harus dapat memposisikan produk-produk lokal sebagai produk subtitutan di pasar AC-FTA sehingga produk-produk lokal masih punya ruang gerak yang memadai. Dalam konteks peningkatan daya saing ini pemerintah harus lebih serius menangani berbagai persoalan yang kerap mengurangi daya saing nasional seperti; masalah high cost economy, keterbatasan infrastruktur, krisis energi listrik (pemadaman listrik yang frekwensinya sangat tinggi), pungutan liar, birokrasi, keamanan,  transportasi, peraturan-peraturan perburuhan dan ketenagakerjaan, kelancaran suplai bahan bakar (BBM), stabilitas harga dan sebagainya.

Kedua, kita mungkin bisa meminjam ajaran swadesi (berdiri di kaki sendiri) dan satyagraha (penegakan kejujuran) dari Mahatma Gandhi. Harus ada kesadaran bersama untuk mengkampanyekan agar seluruh masyarakat Indonesia punya sikap untuk lebih mencintai produk-produk dalam negeri dan mandiri.  Mungkin kampanye “cinta produk dalam negeri”  ini perlu dibuat lebih meriah, lebih menyentuh, lebih massal dari kampanye pemilu.

Selanjutnya di sisi lain, kalau kita lebih sepakat memakai skenario pesimis maka tidak ada cara lain dapat dipakai selain mengusulkan kembali agar pelaksanaan FTA ditunda saja, tapi jelas ini kurang elegan, dan pada saatnya ketika jatuh tempo pelaksanaan, kita kebakaran jenggot lagi. **

**Dimuat di Harian Waspada 21 Januari 2010

One thought on “AC-FTA:Peningkatan Daya Saing & Cintai Produk Dalam Negeri

  1. aku setuju dengan pandangan optimis yang pak edi tulis, seperti disampaikan diatas akan terjadi efisiensi dan konsumen akhir akan diuntungkan. masalahnya diawal-awal mungkin akan terjadi benturan antara pasar yang efisien dan pasar yang tidak efisien. inilah tugas pemerintah, menghapuskan semua biaya-biaya yang tidak perlu sehingga pasar kita menjadi lebih efisien. tidak ada waktu untuk bersikap pesimis saat ini karena perjanjian acfta itu sudah berjalan, bukankah dibeberapa daerah seperti batam telah terjadi pasar bebas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s