Keserakahan Amerika Serikat

Oleh: Edy Sahputra Sitepu

Perang Irak-AS memang belum usai, tapi itu bukan dalih bagi terhambatnya proses bagi-bagi ghanimah (harta rampasan perang), minyak dan proyek rekontruksi Irak pasca perang. Kedok perang mulai terbuka lebar-lebar, kerakusan yang selama ini tertutup rapi, kini mulai tersibak. Setelah beberapa waktu lalu AS dan sekutunya melakukan berbagai tender pengelolaan sekitar 600 ladang minyak Irak.

Sekarang masuk lagi Bechtel Corporation. Bechtel Corporation adalah perusahaan konstruksi raksasa dari San Fransisco, Amerika Serikat. Selain terkenal karena jangkauannya yang global, Bechtel juga sangat terkenal memiliki koneksi tingkat tinggi yang kental dengan lingkungan Gedung Putih. Dewan komisarisnya, George Shultz, Menteri Luar Negeri semasa pemerintahan Reagen. Riley Bechtel, CEO, termasuk dalam dewan penasihat ekspor untuk Presiden George W Bush.

Selain itu, koneksi Bechtel juga termasuk pejabat USAID. Direktur USAID, Andrew Natsios, terlibat dalam proyek Boston Big Dig, proyek raksasa di mana Bechtel dan perusahaan konstruksi lainnya mendapat kontrak untuk membangun terowongan tol bawah tanah di Boston. Banyak pihak menuduh konsorsium Bechtel dkk mengelembungkan dana anggaran menjadi US $ 14,6 miliar. Hebatnya koneksi Bechtel dengan Gedung Putih pun semakin mencuat kepermukaan tatkala Bechtel memenangkan kontrak membangun kembali Irak senilai US$ 680 juta. Beberapa media luar negeri menyebutkan ada indikasi KKN yang kuat, dengan keluarnya nama Bechtel sebagai pemenang.

Bechtel dikontrak untuk membangun jalan, sekolah, saluran air, jaringan listrik dan rumah sakit yang rusak akibat perang. Selain itu, terdapat juga kontrak pembangunan pelabuhan di Umm Qasr dan airport di Bagdad, yang menjadi jembatan masuknya bantuan pangan dan obat-obatan. Agar kesannya tidak mencolok, penunjukkan tersebut dengan menggunakan rekomendasi US Agency for International Development (USAID). Jadi USAID meminta Bechtel  untuk menjalankan peran asistensi kemanusiaan, pemulihan ekonomi dan pembangunan infrastruktur untuk rakyat Irak. Dengan demikian sepak terjang Bechtel menjadi “mulia”.

Akan tetapi lagi-lagi dunia tahu betul Gedung Putih berada dibalik USAID. Buktinya konkrit, sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam pengadaan tender bagi perusahaan yang akan terlibat rekonstruksi Irak, USAID mematok proses seleksi hanya terbuka untuk perusahaan AS. Tidak bagi sekutu apalagi negara lain. Bagi sekutu tentu ini merupakan aksi penghianatan AS, dan bukti betapa rakusnya AS.

Mengenai keluhan tidak tranparansi proses seleksi untuk tender kontrak yang dimenangkan Bechtel itu sebenarnya telah ramai dibicarakan sebelum perang dimulai. Perusahaan dari Inggris, terutama memprotes proses tender yang tidak transparan. Adapun, ornop di AS menyatakan bahwa 6 perusahaan yang ikut dalam proses tender, termasuk Bechtel, tercatat sebagai penyumbang terbesar bagi kampanye pemilihan politisi. Jumlahnya, menurut Center for Responsive Politics, adalah sekitar US $ 3,6 juta antara 1999/2002. kebanyakan para politisi tersebut berasal dari Partai Republik.

Di terpa tudingan miring, Bechtel terus berkelit. Bechtel berulangkali berdalih bahwa pengalaman mereka selama 60 tahun lebih membangun jaringan pipa, airport dan fasilitas tambang minyak di negara-negara Arab lah yang telah menyebabkannya mereka terpilih sebagai pemenang tender. USAID juga menunjukkan kemungkinan bahwa sebagian pekerjaan konstruksi tersebut, akan merekrut warga Irak, dalam kerangka membangun peran serta lokal. Juru bicara USAID sendiri menegaskan, lembaga tersebut tidak mempunyai otoritas untuk menentukan bahwa Bechtel harus menyewa subkontraktor dari negara tertentu.

Tetapi harus diakui, Bechtel adalah perusahaan yang paling berpengalaman dalam pembangunan konstruksi di Timur Tengah. Mendapat proyek pertama kali selama Perang Dunia II, untuk membangun sumur minyak di Bahrain dan Saudi Arabia. Setelah perang, Bechtel mendapat tugas membangun jaringan pipa minyak sepanjang 850 mil membelah padang pasir Saudi menuju Yordania. Proyek lainnya termasuk membangun pembangkit listrik untuk menerangi Riyadh, ibukota Saudi, jaringan rel kereta api dan juga bandara di kota tersebut. Jutaan jamaah haji yang berangkat dari Jeddah menuju Mekah juga melalui jalan tol yang dibangun Bechtel.

Sebelum Perang Teluk 1991, Bechtel bahkan juga mendapat proyek dari pemerintah Saddam untuk membangun jaringan pipa minyak menuju Suriah, bendungan pembangkit listrik di dekat perbatasan Turki dan kilang minyak di lapangan minyak Buzurgan. Pasca invasi 1991, proyek membangun Kuwait juga menjadi menjadi milik Bechtel. Bechtel adalah sebuah instrumen dari sekian banyak instrumen yang akan digunakan AS untuk memanen ghanimah perang. Dibalik itu Bechtel juga semakin menegaskan betapa rakusnya AS! ***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (21 April  2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s