Mental Negara Jajahan

Oleh: Edy Sahputra Sitepu

Negara manapun di dunia ini mengakui, bahwa Indonesia adalah negara yang begitu kaya akan sumber daya alam-SDA (natural resources). Kalau tidak kaya, Indonesia pasti tidak akan pernah menjadi sasaran kolonialisme 4 abad lalu. Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda dan Jepang, beberapa negara tersebut, adalah contoh negara-negara yang sadar dan ingin memanfaatkan kekayaan SDA Indonesia. Apalagi hal itu sangat sejalan dengan paham merkantilisme yang dikembangkan Francois Quesney di Eropa ketika itu.

Pada abad modern ini, kiranya kekayaan itu pula yang tetap membuat CGI, IMF dan negara-negara donor tetap tertantang untuk mencairkan utang-utang baru terhadap Indonesia. Menurut kalkulasi mereka, meskipun penyelenggaraan pemerintahan Indonesia tidak efisien toh SDA dijadikan garansi.

Bila suatu negara memiliki SDA yang sangat kaya, idealnya kekayaan itu harus didukung dengan kekayaan sumber daya manusia-SDM (human resources). Karena hanya SDM  yang baiklah yang dapat mengelola seluruh SDA yang ada secara baik pula.  Sayangnya Indonesia hingga saat ini, boleh dikatakan masih memiliki kualitas SDM rata-rata masih rendah. Hal itu secara eksplisit tercermin dari rendahnya angka human development index (HDI) Indonesia, dibanding dengan negara-negara sekelasnya di wilayah Asia Tenggara, terutama Malaysia.

Padahal dulu, Malaysia itu tidak ada apa-apanya dibanding Indonesia.  Mungkin masih jelas teringat di benak kita, beberapa dekade lalu banyak sekali orang-orang Malaysia yang belajar di Indonesia, khususnya Sumut dan Aceh. Beberapa dosen USU misa misalnya  kerap diterbangkan ke Malaysia untuk kepentingan transfer ilmu. Namun sekarang kondisinya telah terbalik. Toh sekarang Malaysia yang menjadi tujuan belajar alternatif yang dianggap jauh lebih baik.

Hikmah yang bisa dipetik adalah, Malaysia sejak dua dekade lalu, telah merubah strategi pembangunannya, tidak sekedar pembangunan fisik, tapi orientasinya dilebihkan untuk membangun kualitas SDM. Malaysia percaya, dengan meningkatkan HDI proses pembangunan akan mengalami lompatan jauh ke depan, dan mereka berhasil. Untuk ini pemerintah Malaysia telah meningkatkan budget untuk dana pendidikan menjadi beberapa kali lipat. Tidak seperti Indonesia yang terus terjebak pada APBN yang defisit dan membengkaknya biaya-biaya rutin, sementara budget untuk pendidikan sangat minim.

Buntutnya tinggalah Indonesia dalam jajaran paling belakang. Indonesia yang hanya berkelas buruh, karena yang dikirim ke luar negeri untuk meraup devisa hanya para buruh, pembantu rumah tangga dan para pekerja seks komersil (PSK). Kita hanya ditawari sektor pekerjaan yang sangat tidak populer di negara asing, di mana kerap muncul masalah PHK, pelecehan seksual dan lain-lain.

Mungkin karena kita terlalu lama menjadi negara jajahan, sehingga mental kita pun terbiasa menjadi mental negara jajahan. Terbiasa menjadi budak dan pekerja kasar. Lupa bila sekarang kita sudah merdeka, dan memiliki potensi untuk menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan memiliki derajat yang sama dengan negara-negara maju lain.

Kita semua tentu memiliki impian bahwa suatu hari, yang kita kirim ke luar negeri bukan lagi tenaga buruh, pembantu rumah tangga, ataupun PSK yang sekarang menjadi pahlawan pengumpul devisa. Kita akan mengirim berbagai tenaga profesional yang ahli di berbagai bidang, yang diberi kompensasi secara setara, yang memberikan kebanggaan dan meningkatkan citra dan martabat bangsa.  Untuk itu, pemerintah harus mengeluarkan berbagai kebijakan yang pro dengan peningkatan kualitas SDM. Percayalah dengan peningkatan kualitas SDM Indonesia akan melakukan loncatan ekonomi jauh kedepan, bukan satu langkah, tapi banyak langkah.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (11 Juni  2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s