Pemilu Mengganjal Tahun Ivestasi

Oleh: Edy Sahputra Sitepu

Masih jelas teringat di benak kita, dua bulan lalu (Kamis,27/2), Presiden Megawati Soekarnoputri di depan sejumlah menteri, beberapa duta besar negara sahabat dan gubernur se-Indonesia, mencanangkan tahun 2003 sebagai tahun Investasi Indonesia. Para Gubernur se-Indonesia pun ikut menadatangani pencanangan tahun Investasi Indonesia. Dalam kesempatan yang sama Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) Theo F Toemion menjelaskan target yang ingin dicapai dengan pencanangan tahun investasi tersebut. “Kita akan merealisasikan investasi sebesar 30% dari rencana investasi yang sudah masuk,” ujarnya ketika itu. Artinya nilai investasi tahun 2003 akan digenjot naik 10% dibanding nilai realiasi investasi tahun 2002.

Sekarang dua bulan sudah berlalu dari momentum dicanangkannya tahun investasi tersebut. Apakah tekad dan komitmen masih sama? Tidak ada garansi! Di Indonesia ini, semua hal bisa berubah dalam waktu sekejab, apalagi itu menyangkut janji yang diucapkan elit politik, seperti Mega dan Theo. Di Indonesia ini, modal seorang pemimpin hanyalah piawai membuat janji, kalau bisa muluk-muluk. Soal bisa dipenuhi atau tidak itu soal belakangan. Yang penting publik di”bius” dulu dengan janji-janji, agar mengawang-awang dan berhenti “ribut-ribut”.

Soal model pemerintah yang hanya pintar nyerocos ini pun bisa dibuktikan.  Beberapa hari yang lalu (Kamis, 2/5), Theo F Toemion dalam acara Investment Gathering di Hotel Horizon Bandung, mulai berkilah. Menurut Theo, situasi politik yang diramalkan memanas menghadapi pemilu 2004 akan menjadi ganjalan sekaligus kendala bagi masuknya investasi ke Indonesia. Bahkan Theo dengan tegas menyatakan kekhawatirannya, sehubungan dengan Pemilu 2004 mendatang akan terjadi penurunan persetujuan penanaman modal. Apalagi belakangan ini juga kembali terjadi aksi terorisme dengan adanya 2 peledakan bom di Jakarta.

Padahal investasi baru dalam skala besar, akan menjadi satu-satunya tumpuan dan harapan terakhir untuk mempercapat pemulihan ekonomi setelah upaya lainnya seperti restrukturisasi perbankan, pengembalian kredit macet, dan bantuan kepada UKM tidak juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sungguh aneh ungkapan Theo tersebut. Seharusnya pemerintah tahu persis bahwa pemilu akan berlangsung pada 2004. Tentu saja sebelum memasuki pemilu ada fase-fase “pemanasan, ” dimana suhu politik akan membuat ‘memuai’ sendi-sendi kehidupan berbangsa, termasuk potensi untuk menohok sektor perekonomian. Dan pasti fase-fase “pemanasan” itu berlangsung di tahun 2003 ini.

Jelas tahun invetasi 2003 semakin terkesan dipaksakan, atau pemerintah tidak membuat perencanaan yang matang. Mungkin bagi mereka yang terpenting adalah ada program yang populis. Adanya program kerja akan membuktikan bahwa pemerintah sedang “bekerja” memperbaiki kondisi yang ada. Dalam situasi labil menjelang pemilu investor akan lebih bersikap wait  and see. Sebab ini sudah menjadi prasyarat umum dalam dunia bisnis. Investasi hanya akan dilakukan, apabila temperamen politik stabil, dan keamanan tergaransi. Tetapi iklim seperti itu kan masih menjadi tanya tanya ketika menjelang pemilu, apalagi pengalaman menunjukkan, semakin dekat dengan pemilu,  Indonesia semakin rawan.

Sekali lagi pertanyaan yang mencuat adalah, apakah Megawati cs tidak berfikir dua kali, sebelum mencanangkan tahun 2003 sebagai tahun investasi. Ataukan malah sudah berfikir sampai “tiga” kali? Maksudnya “ada udang di balik batu” dengan tahun investasi ini. Misalnya muncul praduga, dicanangkannya 2003 sebagai tahun investasi akan medukung rencana partai untuk menggelembungkan pundi-pundi untuk mempersiapkan dana pemilu. Soalnya pemilihan presiden akan dilakukan secara langsung, jadi bila ingin ber-money politic, kekuatan finansialnya harus jauh lebih besar.Dengan dicanangkannya tahun 2003 sebagai tahun investasi, ada sedikit keleluasaan untuk melobi investor, paling tidak ada negoisation fee. Bila memang demikian jelas pemilu akan menjadi ganjalan bagi pencanangan tahun invetasi Indonesia. ***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (5 Mei  2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s