Tiga Momentum untuk Mengakhiri Tiga Borok

Oleh: Edy Sahputra Sitepu

Seperti api dalam sekam, kelihatannya tidak panas tetapi tetap saja punya potensi menghanguskan. Api dalam sekam bisa juga disebut sebagai sebuah bahaya latent, tidak kentara, tetapi sangat berbahaya. Sebagai sebuah negara timur yang dulunya terkenal sangat menjunjung adat ketimuran, siapa menyangka bila Indonesia selama beberapa dekade telah megalami degradasi sosio-kultural dan moral. Seperti api dalam sekam, Indonesia kini menjadi negara yang masuk katergori paling jelek, yakni sebagai negara paling korup juga termasuk negara berkembang yang memiliki hutang terbanyak, hingga tersengal-sengal dalam menggembalikannya. Tidak hanya sampai di situ Indonesia pun tercatat dalam daftar hitam negara paling tidak kooperatif dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang (money loundring).

Entah mendapat kutukan dari mana, sehingga Indonesia yang dulu masyarakatnya terkenal lugu dan berbudi luhur ini menyandang tiga gelar menjijikkan itu. Berkaitan dengan soal negara penghutang terbesar, Indonesia dalam waktu dekat berhadapan dengan agenda dilematis. Antara putus hubungan dengan IMF atau melanjutkan hubungan itu. Soal ini, rekomendasi TAP MPR adalah hubungan itu harus diakhiri. Cerai dengan jalan baik-baik!

Sebagian kalangan percaya jika hubungan IMF dengan Indonesia di putus, ini bisa dijadikan titik balik untuk memperbaiki nama Indonesia sebagai negara berkembang yang memiliki utang yang hampir menenggelamkan. Namun sebagian lain malah merasa khawatir, jangan-jangan dengan lepasnya dari IMF pemerintah makin “brutal” dalam mencari dana pinjaman. Soalnya selama bekerjasama dengan IMF Indonesia diawasi super ketat, baik soal budget maupun soal pelaksanaan program-program yang memakai dana IMF tersebut. Tidak bebas! Jadi kalau pinjam dengan CGI atau Jepang kan tidak ada LoI lagi, penggunaan dananya bisa lebih serampangan.

Berkaitan dengan pemerintahan terkorup, Indonesia pun memiliki agenda besar, untuk mengakhirinya, yakni Pemilu. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa korupsi yang dilakukan Soeharto selama 32 tahun, tidak berarti apa-apa dibanding korupsi yang terjadi di masa Habibie, Gus Dur dan Megawati. Pemilu tentu bisa menjadi momentum bagi ditemukannya sosok pemimpin yang idealis dan memiliki keinginan kuat untuk mencuci borok-borok korupsi di negara ini. Tapi bisa juga sebaliknya, malah terjadi kecelakaan politik, dan Indonesia kembali dipimpin oleh orang-orang yang penuh borok.

Selanjutnya megenai masih tercantumnya Indonesia dalam daftar black list soal money loundering, momentum titik balik juga tersedia. Sebab pada pertemuan Lembaga Anti Pencucian Uang Internasional (FAFT) yang akan dilaksanakan pada 20 Juni 2003 di Berlin, ada kesempatan untuk meninjau kembali catatan black list tersebut. Indonesia tinggal mengaskan kembali komitmennya dalam mengimplementasikan UU No 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Sayangnya ini juga agaknya tidak dimanfaatkan, sebab masih ada perselingkuhan pihak polisi dengan pelaku money loundering. Sebab beberapa waktu lalu pihak BI menemukan 8 transaksi money loundering, ternyata setelah dilaporkan dan diteruskan penyelidikannya oleh polisi, malah dikatakan hanya transaksi biasa. Kita lihat saja bagaimana nanti Indonesia akan memanfaatkan momentum yang ada untuk mengakhiri tiga borok yang sangat menjijikkan.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (12 Mei  2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s