Angin Panas dari BPK

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Mungkin sudah menjadi ciri umum bagi negara yang sedang merangkak menegakkan demokrasi seperti Indonesia, bila tak pernah sepi dari aktivitas goyang menggoyang. Terakhir adalah perseteruan baru antara Bank Indonesia (BI) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Di banyak media kemarin diberitakan, BPK dinilai terlalu tendensius terhadap bank Indonesia terkait dengan penggunaan rekening 502, untuk tahun anggaran 2002. BPK dalam laporannya kepada DPR menyatakan, telah menemukan penyimpangan penggunaan dana penjaminan perbankan di rekening tersebut sebesar Rp 20,9 triliun yang diantaranya dilakukan oleh BI, sedangkan penyimpangan sisanya sebesar Rp 3,15 triliun dilakukan oleh BPPN.

Persolaan penyimpangan anggaran ini, sebenarnya jauh-jauh hari telah dipublikasikan oleh BPK. Dimana total penyimpangan anggaran 2002 mencapai nilai yang cukup besar yakni Rp 69,28 triliun atau 30,02% dari nilai anggaran yang diperiksa senilai Rp 230,81 triliun.

Lebih jauh penyimpangan tersebut terdiri dari penyimpangan terhadap ketertiban dan ketaatan sebesar Rp 60,71 triliun (26,30%), penyimpangan terhadap kehematan dan efisiensi sebesar Rp 241,54 miliar (0,10%) dan penyimpangan terhadap efektivitas Rp 8,33 triliun (3,61%). Kasus-kasus tersebut antara lain terjadi di 23 departemen/lembaga. Dan secara eksplisit baru kemarin BPK menegaskan bahwa salah satu penyimpangan yang cukup signifikan dilakukan oleh BI via rekening 502 (untuk penjaminan dana nasabah) dan BPPN.

Sebagai lembaga yang paling kredibel mengungkapkan hal  itu, BPK jelas tidak asal bicara, pasti ada data-data pendukung yang jelas. BI sendiri sebagai bank sentral memang memiliki kuasa penuh mengkotak-katik rekening 502. Apalagi wilayah kebijakan BI ditamengi dengan independensinya, yang juga sulit ditembus pemerintah.

Sekali lagi tudingan BPK membuat kita harus kembali mencemati tindak tanduk BI, dan bertanya apakah BI masih dalam paradigma lama? Penyimpangan dalam penggunaan BLBI tentu masih segar dalam ingatan kita, dan telah meninggalkan guratan luka yang masih membekas. Apalagi belakangan kembali bergulir wacana bahwa masih ada keinginan dari beberapa kalangan, bahwa BI harus memerankan tugas lamanya dalam menyehatkan perbankan.

Misalnya terkait dengan kasus cessie Bank Permata, dimana jika cessie dibayarkan, CAR (rasio kecukupan modal) Bank Permata kemudian mengalami gangguan. Pada saat itulah pemerintah via BI perlu mnyuntikkan modal. Apakah ini bukan berarti akan ada obligasi rekapitalisasi babak dua, setelah terjungkal pada babak pertama dengan nilai BLBI senilai Rp 164,5 triliun yang mengakibatkan negara dirugikan cukup besar . Jumlah BLBI yang telah dikeluarkan BI ketika itu sebanyak Rp 144,5 triliun ditambah Rp 20 triliun untuk Bank Exim (sekarang Bank Mandiri), sehingga jumlah seluruhnya Rp 164,5 trilyun. Keluarnya BLBI dipicu oleh rush yang terjadi akibat kebijakan pemerintah yang melikuidasi 16 bank swasta tanggal 1 November 1997.

Kembali pada persolaan tudingan BPK terhadap BI dan BPPN, tentu saja kita tidak ingin hal ini hanya sebatas isu ataupun wacana. Upaya-upaya pengusutan tuntas tentu harus segera dilakukan, dan kita cukup apresiatif ketika ada keinginan DPR memanggil BI untuk melakukan klarifikasi.

Jika memang nantinya tuduhan BPK tersebut benar, tentu pihak-pihak yang terlibat harus diproses secara hukum. Sebaliknya jika ternyata BPK cuma sekedar ingin mengobok-obok BI tanpa fakta yang jelas, pihak BPK juga harus  memberikan pertangungjawaban. Kemudian menghentikan “igau”annya. Sebab tudingan-tudingan dan perseteruan antara kedua belah pihak sangat tidak menguntungkan bagi perekonomian nasional.

Eksesnya bisa memberikan dampak yang cukup besar bagi kepercayaan masyarakat kepada BI. Bagi BI kepercayaan masyarakat menjadi modal dasar dalam menyusun serangkaian kebijakan moneter untuk menciptakan stabilitas moneter, yang direfresentasikan oleh stabilitas kurs rupiah terhadap dolar AS dan inflasi.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (26 Agustus 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s