Aroma Dikotomi dari Rel KA Trans Sumatera

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Tertunda lagi! Agaknya impian untuk menghubungkan delapan propinsi di wilayah Sumatera dengan jalur kereta api  semakin jauh panggang dari api. Padahal perencanaan dan pelaksanaan proyek tersebut sudah dilakukan sejak lama, sejak diterapkannya cultur stelsel di jaman Hindia Belanda. Hingga akhirnya oleh pemerintah kolonial terpaksa dihentikan karena depresi berat yang melanda dunia ketika itu, akibat Perang Dunia II.

Kini setelah 58 tahun merdeka, kelanjutan proyek rel KA itu pun masih belum sampai pada titik terang.  Yang ada hanyalah penundaan demi penundaan. Terakhir ketika rapat konsultasi program railways sewilayah Sumatera di Jakarta beberapa waktu lalu. Oleh Dirjen Perhubungan Darat Iskandar Abubakar, rencana itu dimentahkan.  Realisasi program pengembangan rel kereta api (KA) di Sumatera tidak bisa dilakukan, terutama apabila pendanaannya masih dengan mekanisme konvensional, atau melalui APBN. Jadi kalau masih berkeinginan membangun jalur tersebut, daerah harus melakukan upaya mandiri.

Mungkin alasannya karena dana yang diperlukan cukup besar dan kondisi jaringan rel KA di Sumatera belum terintegrasi dengan baik. Sebagian jaringan rel ada di wilayah Sumatera Selatan, sebagian lagi di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Apalagi secara geografis wilayah Sumatera yang dilalui sirkum Mediterania relatif bergunung-gunung, juga kurang mendukung.

Ditundanya proyek rel KA memang bukan sekali dua kali, tapi sudah berkali-kali, dan itu cukup menggerogoti semangat yang demikian besar untuk membangun regional Sumatera. Nuansa dikotomi antara pusat dan daerah pun menyeruak. Padahal sebenarnya keinginan untuk mengenyampingkan hal itu cukup kuat. Sayangnya dalam beberapa kasus, aroma dikotomi begitu tajam menusuk hidung, di mana daerah kerap dihadapkan dalam posisi tidak menguntungkan. Program-program daerah selalu termarginalisasi atas nama kepentingan pusat.

Nasib proyek rel KA trans Sumatera boleh tertunda, tetapi tidak untuk proyek rel KA Cisomang di Plered, Jawa Barat. Toh proyek ini akan beroperasi Juli tahun depan, dengan dana pinjaman dari Austria.

Sejak zaman orba, kita memang terbiasa dengan konsepsi pembangunan yang terfokus pada percepatan pertumbuhan ekonomi. Banyak proyek-proyek mercusuar digalakkan, refleksi yang paling relevan adalah industri pesawat terbang lewat IPTN. Pembangunan ekonomi berbasis teknologi tinggi diharapkan mampu menopang strategi percepatan pembangunan, dan semua dilakukandi pusat. Trickel down effect (teori menetes ke bawah seperti jam pasir ala Mesir Kuno) menjadi teori pembenaran pemerintah. Pusat dulu digelembungkan, dan remah-remahnya menjadi milik daerah.

Dalam perjalanan waktu trickle down effect telah gagal dan keropos, yang terjadi hanya membesarnya ketimpangan antara pusat dengan daerah. Inilah yang kemudian membuat kaum reformis berteriak. “Jangan jadikan Indonesia seperti Pandawa dan Kurawa!”. Pusat sebagai Pandawa, dan luar Jawa sebagai Kurawa. Itulah sebabnya pemerintahan pasca reformasi, dititipi misi, melakukan pembangunan ekonomi secara adil dan merata.

Lantas sudah berhasilkah pemerintah pusat melakukan pembangunan ekonomi secara adil dan merata? Ini pelu dicermati lebih jauh. Banyak bukti mendukung yang membuat masyarakat di daerah boleh curiga dengan kesungguhan pemerintah pusat. Implementasi UU Otonomi daerah adalah salah satunya. Kedepan pemerintah pusat harus menterjemahkan paradigma pemerataan pembangunan secara lebih serius, konsisten dan iklash. Sebab Indonesia adalah Indonesia, dan Indonesia bukan hanya sepanjang Anyer-Panarukan. ***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (18 Juni 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s