Blundernya Pertemuan WTO

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Seperti yang banyak diramalkan para ekonom, pertemuan organisasi perdagangan dunia (WTO) ci Cancun akhirnya berakhir dengan kegagalan. Penyebabnya adalah perbedaan tajam antara dua kutub kepentingan yang saling berseberangan,  negara miskin versus kaya. Kegagalan ini melengkapi kegagalan jilid I di Seattle, Bogor-Indonesia, Osaka-Jepang dan Philipina, di mana WTO dihadang derasnya arus protes dan kebuntuan. Apa yang patut di simak dari kegagalan jilid II ini?

Agaknya para pemimpin negara-negara dunia ketiga semakin menyadari, sebagian besar kesepakatan-kesepakatan WTO justru menjadi bumerang, dan terus menggulung perekonomian negara dunia ketiga. Perdagangan bebas justru menerbitkan babak baru imprelisme modern yang tersamar. Dengan WTO, kekuatan kapitalisme akan membuka seluruh pintu-pintu proteksi dan dengan mudah dapat mengeksploitasi negara-negara dunia ketiga, yang masih merangkak membangun perekonomiannya.

Apalagi kemudian Joseph Stiglitz, pemenang hadiah Nobel tahun 2001 untuk ekonomi, dalam sebuah tulisannya berjudul Globalisation and Its Discontent, mengaskan secara gamblang bagaimana dominasi negara kaya-terutama AS, dalam lembaga-lembaga keuangan dunia, seperti World Bank, IMF, dan WTO, merugikan negara-negara berkembang.

Dan ini juga dibenarkan oleh guru besar Harvard yang kesohor dan banyak didengar pendapatnya, Samuel Huntington. Ia mengatakan bahwa sebaiknya negara barat (AS dan Eropa) kembali ke asalnya dengan memperkuat integrasi ekonomi dan politik antar-mereka, bukan dengan bangsa lain seperti Asia dan Amerika Latin, karena yang terjadi kemudian hanyalah tidakan eksploitatif.

Subsidi terhadap petani di negara-negara kaya menyebabkan hasil pertanian di negara-negara berkembang tampak seperti seolah-olah dihasilkan dengan cara tidak efisien. Hambatan impor produk pertanian primer oleh negara kaya atas produk pertanian negara berkembang dalam bentuk nontarif, misalnya melalui standar kesehatan, menyebabkan petani negara miskin tidak bisa menjual produknya.

Dalam kenyataan, ketidakseimbangan itu benar-benar seperti semut melawan gajah. Negara-negara kaya memiliki banyak sumber daya, riset, data, dan mampu membayar staf yang terus-menerus mengikuti perkembangan perundingan. Sementara negara berkembang tidak mampu menyediakan hal itu. Akibatnya, dalam perundingan, negara berkembang sering dibuat tak berkutik.

Pelan-pelan semua sekarang beringsut mundur. Di bidang pertanian, kita tahu Jepang dan Korea mati-matian menolak membuka pasar beras mereka. Korea hanya mau janji membuka secara bertahap mulai tahun 2010. Apa kita yakin tahun 2010 nanti benar benar beras impor bisa masuk Korea? Rasanya tidak. Amerika Latin mempunyai cerita yang tidak berbeda. Seperti Brasil, dengan defisit perdagangan yang makin besar, mudah dimengerti mengapa mereka cenderung menangguhkan ide pasar bebas. Satu per-satu negara di kawasan ini mulai memasuki masa sulit lagi setelah tanda tanda kebangkitan sempat muncul di awal tahun 1990an. Bahkan rising star Chile juga mulai kesulitan.

Di kawasan Asia Pasifik, pada awal 1990-an semua bersemangat dengan perdagangan bebas, dan sejumlah statistik klasik selalu dipaparkan untuk menunjukkan dampak positif dari peningkatan perdagangan di kawasan ini. AFTA dan APEC kemudian lahir. Namun, setelah banyak negara anggota mengalami kesulitan neraca pembayaran, tindakan mengurangi impor mulai diterapkan.

Sekali lagi prinsip perdagangan bebas dikorbankan demi kepentingan nasional. Malaysia melakukannya, Thailand juga serupa, dan Indonesia tidak mau ketinggalan. Singkat kata, semua mau mendorong ekspor, tapi semua juga mau membatasi impor. Jadi, harus diakui dunia memang belum siap dengan sistem perdagangan bebas. ***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (16 September 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s