Bukan Sukhoinya Tapi Etikanya

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Sejak awal pihak DPR memang sudah tak senang dengan Sukhoi, sebenarnya bukan tepat pada Sukhoinya, tapi prosedur pembelian. Tetapi kalau dicermati lagi, cerewetnya DPR juga tidak semata-mata karena prosedur, tetapi kepada pribadi Memperindag Rini Soewandi. “Memangnya dia itu superminister?” begitu lontaran Wakil Ketua Komisi Pertahanan Effendi Corrie, sakin geramnya dengan Rini.Sejak menjadi memperindag Rini Soewandi memang selalu mengeluarkan kebijakan kontroversial. Mulai dari kebijakan pengaturan tata niaga gula yang membuat harga gula meroket, penetapan harga dasar gabah yang menjepit petani,  impor pakan ayam, pelarangan diskriminatif impor pakaian bekas, tetapi di sisi lain kita malah mengimpor bus bekas, dan terakhir adalah Sukhoigate.

Kedatangan Sukhoi membuat DPR terutama Panja, merasa ditampar begitu saja oleh pemerintah. “Plak!”, dan pemerintah sama sekali tidak merasa bersalah. Alhasil Panja makin berang dan tetap bersikukuh bahwa soal Sukhoi adalah soal pelanggaran prosedur dalam pembelian pembelian alat-alat tempur sistem persenjataan di TNI. Via Panja DPR pun menuding bahwa pemerintah telah menodai kemitraan antara DPR dan pemerintah. Angin “panas” interpelasi pun kembali ditiup-tiup mengarah ke istana. Itu kalau Megawati tidak mau mencopot Rini dari kursinya.

Nah loh! Kok masalahnya jadi begitu serius. Ya, memang jadi serius. Beberapa media terbitan nasional dan lokal kemarin menyimpulkan, sebenarnya Sukhoigate bisa dianggap selesai. Dengan catatan pemerintah harus gentle untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan. Kalau demikian, permasalahan memungkinkan untuk dipersempit. Berarti tidak ada persoalan dengan pesawat Sukhoi, tidak ada masalah soal dari mana uangnya, dan tidak ada masalah bagimana mengumpulkan komoditinya. Masalahnya adalah “etika” pemerintah. Ya, etika pemerintah terhadap penyelenggaraan “administrasi” pemerintahan, terhadap DPR.

Panja sendiri sebenarnya mendukung bila, kebutuhan dana Sukhoi diambil dari APBN, sebab untuk membebankannya kepada swasta tentu akan sangat memberatkan. Lagi pula semua paham betul soal lemahnya peralatan pendukung keamanan nasional. Kita tahu kapal-kapal AL tak mampu menerabas ombak, walaupun hanya untuk mengejar pencuri-pencuri ikan. Kita tahu pesawat-pesat tempur sudah out of date untuk main petak umpet dengan pesawat tempur F-18 Hornet milik AS, di atas pulau Bawean pada 3 Juli 2003 lalu. Kita tahu helikopter-helikopter kita tak cukup gagah meskipun hanya untuk menakut-nakuti GAM. Mungkin tak seorangpun yang menafikkan bahwa kita memang butuh sistem persenjataan baru.

Ditinjau dari studi kelayakan, bisa dianggap pass sebenarnya. Kita layak memiliki Sukhoi, meskipun dengan cara tradisionil seperti barter. Apa boleh buat, kemampuan kita baru begitu. Bila sejak awal ini dikomunikasikan dengan baik, tentu Sukhoi tidak akan menjadi polemik. Semua akan menerima Sukhoi dengan  suka cita.

Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Semua menjadi kacau ketika etika administratif kenegaraan diabaikan. Koordinasi tidak dilakukan antara pihak-pihak yang seharusnya dilibatkan. Polemik Sukhoi mirip dengan realita kehidupan kita sehari. Dikeluarga misalnya, seorang istri nekat mengambil kredit mesin cuci baru tanpa sepengetahuan suaminya. Tahu-tahu mesin cuci sudah ada di rumah. Sudah pasti sang suami tetap merasa tak enak hati, apalagi kondisi keuangan sedang sulit, sementara utang-utang lain masih menumpuk. Sang Suami pasti protes, “Kok gitu sih? Mau dibayar dengan apa?!.” Akhirnya semua harus menanggung getahnya, uang jajan anak terpaksa dikurangi, demikian juga belanja sehari-hari. Tapi suami yang baik, tentu tidak akan membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut dengan perdebatan. Biasanya suami akan mengalah tatkala sang istri bicara lunak dan meminta maaf. Yah…Mudah-mudahnya Mbak Rini dan DPR terutama Panja, bisa rujuk kembali***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (2 September 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s