Dan Usailah Pesta Kue SBI…

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Tiada pesta yang abadi. Begitu pula halnya dengan pesta perbankan nasional. Dalam catatan Bank Indonesia (BI), pesta ini memang sudah terlalu lama, dan sudah waktunya diakhiri. Apalagi saat ini situasinya sangat mendukung. Kurs rupiah terhadap dolar AS misalnya, sejak triwulan II 2003 mengalami penguatan dengan akselerasi sebesar 7,6%, pada level rata-rata Rp 8.200 – Rp 8.300 per dolar AS. Demikian juga dengan inflasi, yang ikut-ukutan surut di bawah dua digit. Bahkan tim ekonomi nasional memprediksikan tingkat inflasi akan terus melorot di bawah 8 %.

Stabilnya kurs yang diikuti rendahnya inflasi, jelas merepresentasikan membaiknya stabilitas perekonomian nasional. Ini berarti untuk sementara waktu Indonesia bebas dari intaian “momok kembar” perekonomian yang bernama price instability. Momok yang telah menyebabkan terjadinya turbulensi ekonomi Indonesia 1997-1998 lalu.

BI memang harus kembali melakukan gebrakan, memanfaatkan momentum. Kebijakan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tinggi pasca 1998 memang telah banyak menyedot energi dan membengkakkan devisit. Seperti anak tunggal, BI begitu memanjakan perbankan. Yang sudah sesak napas diinjeksi dengan obligasi rekap, selanjutnya untuk menjaga stabilitas operasional perbankan BI men-supply dengan suplemen ber-merk SBI.

Dan jadilah bisnis perbankan sebagai bisnis paling “aduhai nikmatnya.”  Dengan ongkang-ongkang kaki keuntungan tetap berjubel memenuhi brankas. Tak perlu repot meningkatkan LDR, atau kembang kempis memikirkan kemungkinan kredit macet (NPLs) bila menyalurkan dana lewat kredit komersil. Tanamkan saja semua ke SBI, selesai persoalan. Toh perbankan tetap bisa mereguk spread positif dari selisih SBI dan suku bunga pinjaman. No risk and high profit. Makanya jangan heran bila beberapa bulan lalu perbankan begitu jual mahal dalam menyalurkan kredit. Sehingga membuat sektor riil seperti katak mengharap turunnya hujan.

Namun sekali lagi, tiada pesta yang abadi. Sejak awal triwulan I hingga akhir triwulan II 2003 penurunan suku bunga SBI terus berlanjut.  Selama periode tersebut BI telah menurunkan SBI sebesar 340 basis poin, atau 900 poin bila dihitung sejak pelantikan Kabinet Gotong Royong, sebagaimana yang dipublikasikan di media ini kemarin. Kini tingkat diskonto SBI satu bulan telah diturunkan pada level 9,23%. Sementara itu, rata-rata tertimbang tingkat diskonto dari SBI berjangka waktu 3 bulan adalah 9,17611%. Tentu saja bila inflasi terus melemah, penurunan masih akan terus berlanjut.

Barulah perbankan nasional terjaga dari “kursi goyangnya.” Tak lagi bisa berharap dari SBI mereka mulai “menjemput bola”. Perbankan harus segera melakukan reorientasi bisnis, agar tidak kembali carut marut. Sebenarnya masih ada beberapa pilihan lain untuk berlindung, misalnya portofolio investasi di pasar uang, pasar valas, pasar modal, obligasi pemerintah, dan menyalurkan kredit.

Akan tetapi dilihat dari trend yang ada, perbankan agaknya lebih melirik pilihan terakhir, yaitu meningkatkan penyalurkan kredit ke masyarakat. Bank Mandiri misalnya, telah mengumumkan akan menurunkan suku bunga kreditnya ke kisaran 16%-17,5%. Beberapa waktu lalu Bank BNI dan Danamon juga mengumumkan akan memangkas tingkat suku bunganya berkisar 1%-3%. Hampir dapat dipastikan bank-bank lain juga akan melakukan langkah yang sama agar terhindar dari negative spread.

Bagi dunia usaha “hujan kredit murah” yang dinanti akan segera menjadi kenyataan. Sekarang saatnya megatur kembali rencana investasi yang mungkin telah lama tertunda. Sebagai catatan untuk BI, kebijakan penurunan suku bunga SBI akan melepas jumlah uang beredar lebih banyak. Dalam  preferensi ekonomi moneter, meningkatnya jumlah uang beredar jelas signifikan memicu inflasi.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (16 Juli 2003)

One thought on “Dan Usailah Pesta Kue SBI…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s