Invasi Produk RRC

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Selama dekade terakhir dunia memang dibuat terkesima dengan gencarnya invasi produk-produk RRC. Produk-produk yang sebagian besar sebenarnya hanya memiliki level kualitas home industri, tidak hanya menggempur negara-negara sedang berkembang di kawasan Asia dan Afrika seperti Indonesia, tetapi juga memberikan kecemasan tersendiri bagi negara-negara industri maju, seperti Jerman, Jepang dan Amerika Serikat.

Dalam berbagai kesempatan pertemuan WTO produk-produk dari negeri tirai bambu ini terus menjadi sorotan tajam, mulai dari soal relatif jauh lebih murahnya harga, politik dumping, penerapan strategi produk subtitusi hingga soal kepiawaian RRC dalam soal jiplak menjiplak.

RRC memang sedang tumbuh menjadi raksasa ekonomi. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,5 miliar praktis membuat RRC sebagai negara pensuplai tenaga kerja paling banyak bagi dunia. Konsentrasi demografi yang begitu padat memicu tingkat persaingan hidup yang tinggi di kalangan mayarakat RRC. Tak heran jika RRC kemudian memiliki sektor pekerjaan yang lebih beraneka ragam. Selain itu ketatnya dinamika persaingan telah membentuk karakter masyarakat yang gigih, ulet dan pantang menyerah.

Intensitas bisnis yang tinggi, plus penduduk yang super padat membuat RRC seperti bejana yang tumpah ruah, kelompok masyarakat yang kalah bersaing harus hijrah keberbagai pelosok penjuru mata angin. Lihat saja di negara manapun di dunia ini, komunitas masyarakat RRC eksis, bahkan menjadi pilar penentu bagi perekonomian. Demikian juga dengan produk, ketika pasar domestic RRC jenuh dan tidak ada lagi permintaan, bejana pun luber. Serta-merta produk-produk tersebut dilempar ke negara-negara lain.

Timming RRC memang tepat, di saat-saat perkonomian dunia sedang lesu terutama Asia, produk-produk RRC menempatkan dirinya sebagai produk subtitusi. Gayung bersambut, ketika perekonomian banyak negara terhempas, RCC pun menyerbu dengan produk-produk murah meriah. Apalagi globalisasi justru memberikan dukungan. Serangkaian kesepakatan WTO telah menghapus sekat-sekat perdagangan antar negara. Kebijakan-kebijakan untuk melindungi produk-produk dalam negeri melalui kuota, proteksi dan lain-lain pelan-pelan ditiadakan, justru memberi keleluasaan bagi negara mana saja yang memiliki kekuatan untuk melakukan ekspansi ekonomi, dan RRC adalah salah satunya.

Di Sumut, invasi ekonomi RRC semakin terasa, seperti yang diberitakan harian ini kemarin, satu per satu industri konveksi usaha kecil dan menengah (UKM) bertumbangan dihempas badai produk RRC. Bahkan pada tahun 2005 diramalkan 50% UKM Sumut akan gulung tikar. Kalau di dalam negeri saja kita sudah kalah dengan RRC, bagaimana pula pertarungan di pasar internasional. Mungkin lebih buruk.

Mencermati hal ini, kini saatnya pemerintah daerah melakukan time out, melakukan briefing serius dengan para UKM dan DPRD, guna menelurkan kebijakan pro UKM, dalam menghadapi gempuran produk RRC. Karena nuansa pembahasan ini menyangkut strategi ekonomi, jangan sok pintar, panggil saja pakar-pakar ekonomi  dari kampus untuk dimintai masukan, dalam men-design model penguatan UKM.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (17 Pebruari 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s