Kedewasaan Para Pemilih

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Perhelatan pesta demokrasi 5 April 2004 tinggal menghitung hari. Pada saat dimana arah perjalanan bangsa ini akan ditentukan, apakah semakin membaik atau sebaliknya. Hingga 1 April mendatang seluruh partai politik berikut calon dewan perwakilan daerah (DPD), yang akan menjadi refresentasi seluruh rakyat Indonesia melakukan kampanye, mensosialisasikan visi, misi  dan janji-janji politik.

Seperti pepatah, “banyak jalan menuju roma”, demikian pula parpol dan DPD  peserta pemilu 2004. Mendekati deadline, mereka pun semakin gencar menggunakan taktik untuk menarik simpati masyarakat. Mulai dari nenebar kartu nama hingga memasang iklan secara besar-besaran di mass media, dan papan billboard. Belum lagi aksi heroic membagi-bagi sembako dan uang secara langsung kepada masyarakat.

Sudah pasti rangkaian aktivitas tersebut membutuhkan dana yang sangat besar. Dalam percakapan informal dengan beberapa pelaku politik di Medan diketahui, mereka telah merogoh kocek untuk “dana perjuangan” mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 300 juta, bahkan ada yang jauh melampaui angka tersebut.

Jika memang tak ada udang di balik batu, kita tentu mafhum, betapa mulia dan dermawannya para calon legislatif dan DPD. Mereka telah sudi memberikan pengorbanan materil, waktu, tenaga dan fikiran demikian besar untuk dapat mewakili dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Seperti yang selalu mereka teriakkan, memberantas KKN, membela dan mensejahterakan rakyat kecil, menciptakan sistem perekonomian yang pro UKM dan membenahi sistem pendidikan. Namun di sisi lain, kenyataaan ini membuat kita jadi berprasangka, benarkah mereka setulus itu?

Sayangnya pengalaman masih menyisakan getir kebohongan publik yang mendalam, dari partai-partai politik berikut para legislator. Mereka yang mestinya memperjuangkan nasib rakyat, justru ibarat pagar makan tanaman. Mereka tega-taganya ikut merampok uang rakyat demi kesenangan pribadi, lebih mementingkan merk dan kemewahan mobil dinas atau jalan-jalan ke luar negeri dibanding dengan membangun sekolah yang jauh lebih penting artinya bagi rakyat.

Mereka juga berkonspirasi dengan pejabat negara, untuk memboroskan uang negara yang terhimpun dalam APBN dari hasil pungutan pajak. Sementara kebijakan pinjaman luar negeri yang terus membengkak menyandera rakyat. Ah kalau mengingat ini, kita pun menjadi geram segeramnya kepada para pengumbar janji itu.

Sekali lagi semua terpulang kepada kita semua, para pemilik suara pada Pemilu 2004. Kini saatnya bersikap lebih dewasa dalam menjatuhkan pilihan, sehingga  tidak terperangkap kembali ke dalam jebakan-jebakan janji kosong. Kita juga sudah tahu siapa politisi busuk, siapa yang hanya berpolitik untuk memperkaya diri dan siapa-siapa musang berbulu ayam.

Di atas semua itu, yang paling penting adalah mari menghadapi Pemilu 2004 ini dengan lebih optimis, dan memayunginya dengan doa-doa khidmat, semoga Indonesia mejadi Indonesia baru, yang makmur dan bermartabat.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (17 Maret 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s