Kemarau Menghadang Perbankan

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Kini sekitar 380.000 ha hektar persawahan di pulau jawa, (meliputi wilayah Karawang, Indramayu, Purwakarta dan beberapa daerah lain) kembali kering-kerontang, reliefnya retak-retak dan sarat tanaman kering, mulai dari rerumputan liar, palawija, berbagai tanaman keras, yang lebih kuat juga tak luput dari ancaman kekeringan. Jika hujan tak kunjung sudi menghela dahaga yang kian pekat, tentu nasib tanaman-tanaman itu, tinggal menghitung hari.

Terlepas dari kemarau yang menghimpit sektor agribisnis tersebut, ternyata masih ada kemarau lain, yang tak kalah dasyat. Kemarau itu adalah kemarau di sektor perbankan, yang dimulai tatkala tingkat suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) terus melorot drastis, dan kini berada pada posisi 9,03%.

Terus menurunnya suku bunga SBI membuat perbankan kembali diintai negative spread. Bahkan menurut perkiraan Medan Bisnis, jika perbankan tidak segera merubah strateginya dalam waktu dekat,  mereka dipastikan akan mengalami bleeding. Dengan tingkat suku bunga yang berkisar antara 7%-8% perbankan memang masih dapat bertahan. Tapi jelas kembang kempis. Spread bunga sebesar 2% tentu tak lebih hanya pas-pasan untuk meng-cover kebutuhan menjalankan operasional perbankan. Dengan kondisi ini, niat untuk memperbesar laba tentu menjadi mimpi di siang bolong. Apalagi jika perbankan terus enggan menuai resiko dengan memperbesar jumlah kredit yang akan disalurkan ke masyarakat terutama untuk investasi.

Katakanlah, perbankan sekarang mulai meningkatkan komitmennya untuk mendanai investasi, apakah persoalannya lantas menjadi selesai? Tidak juga. Lihat saja faktanya, secara nasional perbankan masih menimbun sekitar Rp 90 triliun komitmen kredit yang belum disalurkan.  Ini menjadi tanda tanya besar. Apakah perbankan yang tak ingin menyalurkan kredit, atau memang daya serap sektor riil yang memang masih belum pulih, sehingga tak memerlukan dana untuk melakukan ekspansi usaha.

Melihat kenyataan, sangat mungkin sekali kedua sektor yang saling kait-mengkait ini (perbankan dan dunia usaha) masih terjebak dengan paradigma wait and see. Di satu sisi perbankan tidak ingin menjadi keledai yang selalu terjerembab dalam lubang yang sama, yakni kredit macet (Non Performing Loans) sehingga perbankan tetap memperketat implementasi prudential banking.  Di sisi lain dunia usaha  masih ketar-ketir dengan isu tingginya country risk Indonesia, apalagi agenda Pemilu sudah di depan mata. Seperti yang kita ketahui, momentum Pemilu  senantiasa membuahkan kondisi labil. Dengan demikian kloplah sudah bentuk kemarau yang  bakal dihadapi perbankan nasional beberapa waktu mendatang. 

Dalam menghadapi kemarau, opsi yang bisa dipilih perbankan menjadi sangat terbatas. Yang bisa dilakukan antara lain adalah meningkatkan efisiensi aktivitas operasional untuk menekan high cost. Berikut perbankan harus kerja keras menjemput bola, mencari kreditur-kreditur  di segment bisnis yang marketable.

Beberapa sektor marketable yang kian menunjukkan geliatnya antara lain bisnis property, dan UKM. Sayangnya untuk bisnis property perbankan masih cukup traumatic, mengingat begitu sensitifnya sektor ini terhadap tingkat bunga dan inflasi. Sedangkan untuk sektor UKM, perbankan agaknya punya kemalasan tersendiri, mengingat skala pinjaman UKM yang relatif kecil, tetapi justru membutuhkan energi dan perhatian besar dalam pengelolaannya. Akhirnya semua kembali terpulang kepada pihak perbankan, “kemarau” bisa saja tidak menjadi masalah bila diantisipasi. Sebaliknya “kemarau” juga dapat membuat terjerembab, dan perbankan tinggal menghitung datangnya hari-hari kelabu.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (19 Agustus 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s