Mencari Subtitusi IMF

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Meski belum tentu terealisir, ada rasa partriotisme yang membengkak, tatkala sebagian elit politik bersuara lantang agar kita mengakhiri saja kerjasama dengan IMF.  Di benak ini langsung meluap rasa percaya diri. Berarti Indonesia sebentar lagi akan terbebas dari lilitan belenggu yang memasung kebebasan penyelanggaraan pemerintahan, khususnya menyangkut upaya pemulihan ekonomi nasional. Kita pun berfikir, ah…akhirnya pemerintah sadar betapa tak nikmat menjadi seekor “keledai,”  yang harus patuh ditarik ke sana-sini, padahal beban yang di bawa cukup berat dan membuat penat. Inilah kerinduan yang selama ini hanya menari-nari di ujung mimpi-mimpi rakyat Indonesia. Kerinduan untuk terbebas dari sosok rentenir seperti IMF.

Namun melihat penomena yang berkembang,  agaknya kerinduan tinggal kerinduan. Seperti mimpi yang menguap pada detik di mana kita terjaga. Kita pun bergumam, ah…hanya mimpi rupanya. Preferensi itulah yang nampakanya lebih realisitis. Sebab menjelang berakhirnya kerja sama RI-IMF, pemerintah masih terus bekerja keras melakukan lobi-lobi intensif untuk mendapatkan dukungan dari lembaga-lembaga kreditur selain IMF. Tiga rentenir baru itu adalah World Bank, Asia Development Bank (ADB – Bank Pembangunan Asia) dan pemerintah Jepang.

Pemerintah berhaharap, ketika pilihan jatuh pada harus diakhrinya LoI IMF nantinya, defisit APBN sebesar 70% bisa ditutupi. Sungguh sebuah taktik safety body yang pragmatis. Tidak ada improvisasi baru. Yang ada hanyalah praktik “ganti tikar,” dan melanggengkan persekutuan dengan para rentenir internasional. Toh IMF dan World Bank (yang juga dikenal dengan nama International Bank for Recontruction and Development-IBRD) adalah saudara kembar. Keduanya sama-sama produk negara adidaya Barat. Sama-sama lahir di Bretton Wood-AS, yang bertugas untuk memancangkan pilar-pilar kapitalisme di negara-negara berkembang, namun dikemas dibalik topeng bermimik demokrasi. ADB pun sama saja. Lembaga yang didirikan tahun 1966 jelas memiliki skenario yang tak berbeda, karena IMF adalah aliansi kentalnya.

Lantas bagaimana dengan sang “saudara tua” Jepang? Hingga saat ini Jepang memang negara yang paling banyak mengutangi Indonesia. Akan tetapi perekonomian Jepang sendiri saat  ini sedang tidak kondusif, sehingga menekan keleluasaan mereka dalam memberikan utang-utang baru.

Utang memang “produk” yang bisa dibilang amat “global” atau universal. Semua pihak memerlukan utang, mulai dari rumah tangga (household), perusahaan (company), sampai pemerintah (government). Semuanya berutang. Utang telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan ekonomi. Makin lama, kecenderungan utang menjadi makin berani, atau kian besar (excessive). Namun lagi-lagi ini bukan berarti upaya-upaya pemerintah mencari utang baru bisa dibenarkan. Utang adalah kelemahan dan borok yang harus dikikis habis.

Apa yang bisa dibanggakan dari kekayaan yang bersumber dari utang? Tidak ada. Lihat saja orang yang banyak utang? Tidurnya tak nyeyak, jalannya tak gagah, rasa percaya diri pun luntur, kerjanya ekstra keras, lembur tiap malam agar bisa mengejar “setoran,” dan pasti temperamental. Jadi jika ditimbang-timbang, Indonesia persis seperti itu, rakyat dan pemerintahnya sangat temperamental, meski telah bekerja keras tapi kemiskinan terus meningkat (karena inflasi),  pemerintah yang terus mengejar setoran membayar bunga utang (dengan menghilangkan subsidi dan menggencet rakyat dengan pajak yang tinggi) dan krisis percaya diri (semakin redupnya pamor Indonesia di Asia.

Kebijakan mencari subtitusi IMF tentu bukan solusi yang diinginkan rakyat. Rakyat tentu akan lebih bangga bila pemerintah bisa mengerem seleranya untuk bermewah-mewah dengan kebijakan fiskal yang ekspansif, namun hanya bengkak di pengeluaran rutin. Pemerintah memang benar, menghapuskan semua utang adalah cara berfikir yang tidak realisitis, namun tentu jauh lebih tidak realisitis bila pemerintah tetap meneruskan tabiat, “besar pasak dari tiang”.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (9 Juli 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s