Menggadaikan Indonesia…

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Apa kabar Indonesia pasca IMF (International Monetary Fund)? Semakin “demam”! Demam memikirkan bagaimana utang-utang bisa ditanggulangi tanpa IMF. “Demam” seperti ini memang selalu terjadi setiap akhir tahun buku. Rasanya baru saja utang-utang itu dibayar, tetapi kini sudah jatuh tempo lagi.

Hingga kini Indonesia telah berhutang Rp 1.030 triliun, dengan jumlah tersebut untuk tahun anggaran 2004, seperti yang telah dianggarkan dalam RAPBN (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), Indonesia harus membayar utang berikut bunganya dengan nilai sebesar Rp 137,89 triliun. Padahal, sumber-sumber pembiayaan dalam negeri dan luar negeri hanya mampu menutup dana sebesar Rp 94,31 saja. Itupun lebih dari separuhnya diperoleh dari utang.

Untuk mengurangi kebutuhan tersebut pemerintah dikabarkan akan kembali menerbitkan surat utang baru senilai Rp 28 triliun. Dari luar negeri, pemerintah akan mengandalkan pinjaman program sebesar Rp 6,52 triliun dan pinjaman proyek Rp 19,97 triliun serta penerbitan obligasi dalam bentuk valuta asing sebesar Rp 3,48 triliun. Sehingga bila ditotalkan, jumlahnya mencapai Rp 57,97 triliun.

Itu pun masih kurang, karenanya pemerintah terpaksa menguras tabungan dari rekening dana investasi (RDI) sebesar Rp 26,24 triliun, selanjutnya mengobral badan usaha milik negara (BUMN) sebesar Rp 5 triliun. Dan kalau masih kurang lagi, sebelum bubar, BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional)  harus menyetor sebesar Rp 5 triliun.

Hal ini akan tetap berlangsung di tahun-tahun mendatang, terutama ketika tim ekonomi pemerintah tidak kreatif dan menemui jalan buntu dalam mengantisipasi soal utang tersebut.

Sejauh ini strategi yang dipakai masih “gali lobang tutup lobang.” Selain itu pemerintah juga selalu meminta utang yang jatuh tempo dijadwal ulang (rescheduling) ke masa depan atau dengan cara pertukaran utang (debt swap) yang juga sering dilakukan.

Dapat dipastikan persoalan utang tidak akan pernah selesai bila memakai rumus itu. Bahkan beberapa pihak meramalkan dengan “gali lobang tutup lobang,” 10 tahun mendatang beban utang kita akan mencapai skenario terburuk, yakni Rp 14.000 triliun. Sungguh mengerikan, dan tidak dapat dibayangkan dari mana pemerintah akan menutup kewajiban  tersebut. Pasti masyarakat akan sangat babak belur.

Sialnya, diprediksikan ke depan, strategi “gali lobang tutup lobang” masih akan terus berkelanjutan. Kita simak saja apa yang akan digulirkan dalam pertemuan CGI yang dilaksanakan hari ini dan besok. Pasti, pertemuan negara-negara kreditor ini akan digunakan para menteri-menteri ekonomi untuk meyakinkan CGI bahwa Indonesia harus mendapat utang baru. Alasannya bisa banyak, bisa karena defisit APBN, hajatan pemilu dan lain-lain.

Yang pasti mereka tidak akan mau pusing-pusing tujuh keliling mencari jawaban, benarkah kita harus membangun negeri ini di atas utang? Toh sebentar lagi periodesasi mereka sebagai penguasa akan berakhir, terutama apabila kalah dalam pemilu. Meskipun mereka mencetak utang-utang baru, yang bayar bukan mereka. Lantas jikapun kemudian skenario utang baru ini keliru, kasusnya tidak akan pernah sampai ke pengadilan. Semua petinggi pasti mendukung, sebab menjelang pemilu 2004 dibutuhkan banyak dana untuk tampil sebagai pemenang. Kalau bisa pinjam untuk apa repot-repot mencari jalan lain. Ah…Indonesia ini semakin tergadai saja…***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (9 Desember 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s