Pasar Bersama Asean

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Setelah gagal di Cancun dalam mempertemukan kepentingan antara negara kaya dan miskin beberapa waktu lalu, kini pertemuan dalam “bingkai” perdagangan bebas memetik hasil di kawasan Asia. Para menteri ekonomi ASEAN menyepakati percepatan pasar bersama ASEAN dari tahun 2020 menjadi  tahun 2010, terutama untuk 11 komoditi industri andalan.

Dalam perspektif WTO tentu saja kesepakatan ini merupakan sebuah prestasi. Disepakatinya pasar bersama ASEAN adalah sebuah sinyal bahwa negara-negara berkembang di kawasan Asia itu semakin siap “bermain-main” dalam urusan bisnis dengan negara-negara yang men-design skenario perdagangan bebas itu sendiri, seperti AS ataupun Eropa.

Blundernya kesepakatan-kesepakatan WTO adalah upaya “tarik nafas” negara-negara berkembang. Karena setiap kesepakatan berorientasi pada percepatan implementasi perdagangan global di seluruh sektor bisnis. Sebagian besar kesepakatan-kesepakatan WTO justru menjadi bumerang, dan terus menggulung perekonomian negara dunia ketiga. Perdagangan bebas justru menerbitkan babak baru imperialisme modern yang tersamar. Dengan WTO, kekuatan kapitalisme akan membuka seluruh pintu-pintu proteksi dan dengan mudah dapat mengeksploitasi negara-negara dunia ketiga, yang masih merangkak membangun perekonomiannya.

Negara-negara berkembang yakin, bila perdagangan bebas dipercepat diseluruh sektor, maka mereka akan menjadi sapi perahan negara-negara maju, dieksploitasi habis-habisan. Untuk bertarung dengan “gajah”, mustahil bila “semut” berharap menang dengan adu otot. Harus menggunakan cara-cara lain yang tidak konvensional serta brilian.

Lantas ketika terbetik berita bahwa, negara-negara berkembang yang tergabung dalam ASEAN menyepakati untuk mempercepat pasar bersama, sepintas kita heran? Kok lain, biasanya antipati, sekarang kok malah ingin dipercepat.

Inilah yang disebut “sedia payung sebelum hujan” untuk apa masuk ke dalam permainan dimana kita akan menjadi pecundang. Siapapun yakin bahwa datangnya globalisasi tak terbendung. Jadi sebelum masuk pada pertarungan sesunguhnya, sebaiknya memang dilakukan prakondisi. Menjajal kemampuan dengan para sparing partner. Sekaligus mengevaluasi hasilnya, sejauh mana kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (SWOT). Selanjutnya hasil SWOT diformulasikan rangkaian strategi-strategi yang memungkinkan untuk menjadi pemenang dalam pasar bebas, atau paling tidak, sekedar bisa bertahan.

Pasar bersama ASEAN akan menguji apakah kita mampu meretas masalah asal-usul barang, prosedur kepabeanan, menanisme penyelesaian perselisihan dan standarisasi barang dan jasa yang masih belum jelas juntrungannya. Pelaksanaan AFTA tentu bisa disimak, meski impelementasinya secara penuh sudah dijalankan pada tahun 2003 ini, namun tidak terlihat ada pengaruh yang signifikan. Di sana-sini masih banyak hambatan non tarif, yang membuat volume arus barang antar negara ASEAN tidak tumbuh pesat kendati tarif sudah 0%-5%. Lagi-lagi karena memang standar bea dan cukai masih berbeda-beda di tiap negara.

Dengan kata lain, pasar bersama ASEAN dapat diterima sebagai sebuah langkah tepat dan langsung  memberikan manfaat bagi negara-negara sekawasan Asia untuk melakukan test case,.  menjawab sejauh mana kekuatan ASEAN sesunguhnya. Bagi Indonesia, kesempatan ini juga harus dimaksimalkan.  Siapa tahu momentum ini dapat menjadi titik balik bagi perbaikan ekonomi, politik dan pamor Indonesia, yang telah selama ini terpuruk.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (7 Oktober 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s