PNS Mubajir

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Lagi-lagi kita mendapati bahwa good governance memang masih jauh panggang dari api. Masih sebatas angan-angan yang tidak membumi. Masih sebatas dongeng-dongeng yang dituturkan untuk pengantar tidur. Agar publik terlena, tertidur dan bermimpi, tentang indahnya pemerintahan di negeri antah berantah.

Faktanya good governance memang masih lips service, abstrak dan tidak riil. Yang riil adalah penyelenggaraan pemerintahan masih terkontaminasi dengan vested interest, KKN, dan inefisiensi. Pemerintah masih lebih suka berdebat memikirkan soal mobil dinas baru, penambahan dana rutin dalam APBD untuk perjalanan dinas, shoping, roadshow dan lain-lain.

Semua urusan mesti ada uang tunai (Sumut), kalau bisa dipersulit  kenapa harus dipermudah, masih melekat sebagai image negatif birokrasi di Sumut. Semakin mempertegas panjangnya rentang birokrasi dan high cost economy dalam berurusan dengan pemerintah.Kiranya terus melengkapi daftar hitam penyelenggaraan pemerintahan di Sumut.

Di media lokal Medan, kemarin dipublikasikan, di unit kerja Pemprovsu hingga Oktober 2003 ada kelebihan sekitar 7.647 PNS. Hal yang sama juga terjadi di beberapa kabupaten/kota di Sumut. Bila ditotalkan untuk Sumut angka kelebihan PNS mungkin mencapai dua kali lipatnya. Ini adalah bukti inefisiensi, bahwa tenaga-tenaga PNS masih berlebih dan mubajir. Lebih jauh mereka hanya memperberat struktur organisasi yang sudah gemuk.

Yang mengherankan, kendati telah terdeteksi bahwa jumlah PNS berlebih, namun perekrutan tetap saja dilakukan. Jumlah PNS terus ditambah, dengan jalur yang berbeda-beda. Baik jalur resmi, jalur famili, jalur khusus, jalur VIP dan jalur setan belang lainnya.

Konsekwensinya adalah posisi menjadi diada-adakan, dari tidak ada menjadi ada. Yang penting pegawai baru terakomodir. Tidak perduli apakah akibat penambahan tersebut rentang birokrasi terpaksa diperpanjang. Tadinya urusan bisa tuntas dengan melewati satu meja kini harus melalui tiga atau empat meja.

Sebagian ada yang mengatakan, penambahan PNS baru untuk mereduksi angka pengangguran dan pemerataan distribusi pendapatan. Jelas ini keliru. Sebab yang terjadi adalah pembentukan parasit. Bayangkan untuk lingkungan Pemprovsu saja ada 7.647 kelebihan PNS, mungkin untuk seluruh Sumut angkanya menjadi dua kali lipat. Katakanlah jumlahnya 14.000 PNS, jika gaji rata-rata PNS adalah Rp 1 juta/bulan, maka untuk 14.000 PNS dana yang harus dikeluarkan mencapai Rp 14 miliar per bulan, atau Rp 168 miliar per tahun.

Seandainya dana tersebut bisa dihemat tentu pemerintah bisa melakukan improvisasi untuk membangunan daerah ini. Sehingga panitia anggaran DPRD dalam penyusunan APBD  tidak lagi  perlu “mencoret” dana usulan untuk pembangunan gedung sekolah dasar (SD) misalnya, yang justru merupakan investasi penting dalam peningkatan kualitas SDM.

Selain persoalan kelebihan PNS, optimalisasi kinerja PNS juga masih jauh dari standar pelayanan yang baik. Kita sering mendapati instansi-instansi pelayanan publik, yang lowong pada jam-jam kerja. Bagaimana mungkin meja-meja kosong bisa melayani keperluan publik. Para top manajemen di pemerintahan harus memikirkan bagaimana cara menarik para bawahannya yang nongkrong di warung kopi pada saat jam dinas, bagaimana agar mereka bisa betah dan suka cita melayani kepentingan publik, tanpa harus terus-terusan mengeluh soal rendahnya gaji,  dan bagaimana agar kualitas dan pelayanan prima benar-benar bisa dirasakan publik.

Artinya beberapa kondisi ini semakin menyadarkan kita bahwa implementasi good governance masih dihadapkan pada banyak tantangan besar. Kita tidak bisa berpangku tangan lagi untuk sekedar menunggu momentum kapan waktu yang tepat. Pembenahan harus disegerakan. Hentikan bicara, dan mulailah berbuat!.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (14 Oktober 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s