Simalakama Hubungan RI-IMF

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Seperti buah “simalakama” dimakan mati ayah, tak dimakan mati ibu.  Itulah yang sedang terjadi saat ini. Pemerintah pusing tujuh keliling menentukan keputusan,  antara meneruskan atau putus hubungan dengan IMF, sementara deadline LoI yang berakhir 31 Desember 2003 semakin dekat. Seperti diketahui, Tim Pengkajian Program Pasca IMF mengajukan empat opsi. Pertama adalah Post Program Monitoring (PPM), di mana tidak ada lagi program IMF ataupun LoI, namun tetap ada pinjaman baru dan monitoring akhir. Kedua, hubungan diteruskan, berarti ada program dan ada pinjaman yang diperpanjang. Ketiga, stand by arrangement, yakni ada program tapi tak ada pinjaman baru. Kendati demikian, kalau lagi seret betul, ada pinjaman siaga yang bisa digunakan. Terakhir, percepatan PPM. Caranya, pembayaran utang dilakukan dengan melihat kondisi negara dan cadangan devisa.

Mana yang harus dipilih? Pemerintah semestinya tak perlu bingung. Jawabannya sudah jelas, dan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, tatkala  palu di MPR diketuk untuk mengesahkan TAP MPR No 86/2003 tentang harus diakhirinya kiprah IMF. Sementara 35 ekonom Indonesia dengan kepakaran yang teruji, setelah berdiskusi panjang selama 5 bulan pun mengaminkan. Kalau mau konsekwen, ya opsinya hubungan harus segera dihentikan, titik! Opsi tersebut jelas bukan opsi kosong,  ada argumennya. Indonesia gerah, sebab prilaku IMF persis  mandor, prilaku sang mandor semakin lama semakin membuat gerah dan kontroversial. Resep-resepnya memulihkan perekonomian mulai diragukan, terlalu text book dan mengabaikan faktor lingkungan (environmental setting).

Belakangan malah posisi Indonesia semakin terdegradasi dengan diobralnya aset-aset strategi seperti Indosat, Niaga, BCA. Ini juga masih belum berhenti, ada puluhan aset lainnya segera menyusul. Kalau LoI diperpanjang bisa saja Indonesia akan dicekoki resep yang sama. Resep yang tak tak enak dilidah, tak enak dihati, plus belum tentu menyembuhkan. Bisa-bisa malah hanya mempercepat kematian. Yang menjadi persoalan meskipun aset-aset strategis tersebut diobral bak kacang goreng, pembelinya selalu konsorsium asing. Jelas kita bisa mengendus bau konspirasi dalam hal ini. Kemana konsorsium lokal? Mereka tiarap, sebab tidak memiliki kekuatan finansial untuk membeli “kacang goreng” yang begitu gurih. Lantas bila semua aset sudah menjadi milik luar negeri negeri, apalagi yang bisa kita banggakan? Di mana lagi putra-putri Indonesia mencari lahan untuk bekerja?

Kehilangan jati diri dan rasa percaya diri adalah konsekuensi terbesar bagi Indonesia, ketika terus dimandori IMF. Tingkat ketergantungan semakin tinggi. Lihat saja Megawati, beberapa kali harus rela menerapkan kebijakan-kebijakan tidak populer yang bisa menggerogoti kekuasaannya. Ia harus nrimo manakala seluruh anak negeri ribut ketika harga BBM, listrik dan telepon naik. Sementara IMF tetap ”manyun,” menikmati peribahasa ”anjing menggongong kafilah berlalu.”

Krisis identitas pun tebentang di depan mata, ketika kita hanya menjadi tamu di negara sendiri. Kalau ini yang terjadi, jelas IMF, lembaga yang didebentuk di Bretton Wood, New Humpshisre AS, 21-22 Juli 1944 itu telah menjadi mimpi buruk perekonomian Indonesia. Kita harus sadar, dibelakang IMF banyak sekali kepentingan yang mengendap-endap, bersiap-siap untuk mengambil kesempatan. Kalau tidak mana mungkin IMF kembali menawarkan penjangan LoI sebagai solusi deadline 31 Desember 2003 mendatang. Dengan tawaran itu, pemerintah bersikap malu-malu kucing, seperti seorang bocah yang lagi ditawarin permen? Sementara rakyatnya melotot tajam, supaya jangan menerima. Lantas bagaimana dengan nasib buah simalakama? Jika memang dimakan mati ayah, tak dimakan mati ibu, menurut joke orang-orang Tionghoa Medan, lebih baik buah simalakamanya dijual saja.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (17 Juni 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s