Soal Bom di Medan…

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Rangkaian aksi teror mulai mengusik ketenangan Sumut dan kota Medan khususnya. Sebuah bom rakitan, Senin (5/1) diledakkan di persimpangan Amplas-Sisingamangaraja. Kemarin aksi teror  yang sama berlanjut di pasar Sukaramai. Tidak sampai meledak memang, namun pasti semakin membuat keresahan masyarakat membuncah. Rupa-rupanya aksi teror dalam bentuk bom itu kembali singgah di Medan, dan “angkat bicara,” setelah berpetualang di Bali, kawasan Mega Kuningan, Poso dan beberapa wilayah Indonesia lainnya.

Sebagai sebuah instrumen dalam aksi teror yang kerap dipakai dewasa ini, bom adalah sebuah pesan (message). Sedangkan pesan adalah rangkaian informasi yang disampaikan dari komunikator kepada komunikan. Lalu, kira-kira apa pesan yang ingin disampaikan para teroris? dan siapa komunikan yang dituju? Untuk mendapat jawaban yang pasti, tentu dibutuhkan waktu relatif lama. Kita harus menunggu dulu hasil tim penyelidik dari kepolisian bekerja dalam mengungkap para pelaku dibalik aksi teror tersebut.

Maksudnya untuk sementara, kita hanya bisa membuat analisis praduga. Urgensinya tidak lain agar kita bisa meningkatkan kewaspadaan dan mawas diri. Sebab siapapun kita tentu tak ingin menjadi “ikan” yang tangguk di air keruh.

Menimbang momentum waktu dan  jenis bom yang masih tergolong low explosive, bisa diduga aksi teror ini tidak ada kaitannya dengan kebencian terhadap Amerika, seperti dalam rangkaian teror bom bali dan hotel JW Marriot. Teror bom kali ini mungkin pure teror untuk memanaskan suasana menjelang agenda Pemilu yang semakin dekat. Seolah-olah para teroris itu berkata “Selamat tahun baru 2004, dan bersiaplah untuk Pemilu yang panas!”

Tentu, tulisan ini tidak bertujuan agitatif dan membuat suasana menjadi semakin keruh. Sama sekali tidak, karena peranan dan tujuan pers tentu jauh lebih mulia. Memang tidak ada korban yang jatuh di simpang Sisingamangaraja-Amplas, demikian pula dengan dan bom di pasar Sukaramai, juga tidak sempat meledak.

Lantas bukan berarti kita harus mengotakkan aksi teror tersebut sebagai masalah kecil. Aksi teror tetap harus disikapi dengan cermat dan penuh kewaspadaan. Kita harus ingat, orang biasanya bukan tersandung oleh batu besar, tapi batu kecil. Masalah kecil bisa saja menjadi besar, kepanikan masa yang sporadis selanjutnya memicu chaos seperti yang diharapakan para pelaku teror. Ini juga pernah terjadi di Sumut pada tahun 1998.

Masih jelas dalam ingatan kita, gerakan reformasi di Sumut sempat ditunggangi aksi penjarahan, pemerkosaan, perusakan dan berbagai tindakan kriminal lainnya. Aksi-aksi seperti itu hanya bisa dilakukan pada saat suasana chaos, dan momentum yang selalu dimanfaatkan adalah ketika terjadi proses peralihan pimpinan nasional.

Pasca 1998, juga kembali ada upaya membuat kericuhan di Sumut, misalnya dengan teror bom malam natal, memancing pertikaian antar umat beragama. Tapi ketika itu pimpinan masyarakat dan masyarakat Sumut sendiri cepat-cepat bersatu dan mengorganisasikan diri, serta merta aksi teror menemui jalan buntu.

Sejak itu, Medan tak lagi terpancing aksi teror. Kini tampaknya aksi-aksi teror akan berulang, tanda-tandanya sudah mulai diperlihatkan. Menyikapi fenomena tersebut, setidaknya publik semakin proaktif memperkuat barisan. Sejak dini kita harus menggalang kekuatan untuk menghadang aksi teror, kita bisa memulainya dengan mengamankan rumah tangga masing-masing, rukun tetangga (RT) kita, Rukun warga (RW), kelurahan, kecamatan, kabupaten, dan propinsi kita. Mudah-mudahan ke depan Indonesia kita pun semakin aman.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (6 Juni 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s