Soal TDL PLN : Mengejar Setoran

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Mengejar setoran adalah istilah umum yang sangat populer dikalangan supir angkot, taxi ataupun penarik becak mesin. Terutama bagi mereka yang memang bukan pemilik kenderaan umum tersebut. Sebab bila target setoran tidak bisa dipenuhi, bisa saja pekerjaan yang menafkahi anak-istri tersebut dilikuidasi, dan digantikan dengan mereka-mereka yang bisa memenuhi setoran.

Rupa-rupanya bukan hanya sektor informal seperti yang dicontohkan di atas saja yang senantiasa nguber setoran, ada sektor lain yang lebih besar, BUMN seperti PLN misalnya. Setelah menaikkan TDL melalui tiga tahap, kini PLN kembali bersiap-siap untuk menaikkan TDL tahap empat, direncanakan 1 Oktober 2003.

Memang belum diputuskan secara tuntas oleh pemerintah, tetapi gelagatnya mulai terbaca. Keinginan untuk menaikkan tarif, justru lebih kuat. Menurut Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, semua aspek sudah dipertimbangkan merintah, dan kemungkinan naiknya TDL tinggal persetujuan Presiden Megawati.

Dari sisi politis, kebijakan menaikkan TDL jelas tidak populer dan bisa menjadi bumerang. Apalagi saat-saat pemilu sudah semakin dekat, dimana simpati rakyat harus disedot sekuat-kuatnya oleh status quo. Dan rakyat sudah pasti menjadi antipati ketika listrik terus dinaikkan, sebab beban yang ada tanpa dinaikkannya TDL saja sudah cukup merepotkan.

Selanjutnya, bila dilihat dari sisi ekonomis, kita sama-sama tahu ada skenario yang dikemas PLN, sehubungan dengan rencana kenikan TDL. Skenario itu adalah bagaimana mensukseskan divestasi PLN yang paling lambat harus terlaksana pada tahun 2007. Agenda PLN yang lebih penting justru pasca divestasi tersebut, PLN akan jual atau diprivatisasi. Privatisasi akan sukses bila ketertarikan publik  menguat terhadap saham PLN. Publik sendiri hanya akan tertarik, bila trend harga terus bergerak naik. Jadi dalam istilah broker saham  PLN saat ini sedang melakukan aksi “menggoreng” saham, dan mencari perhatian investor.

Bagi pemerintah, terutama PLN tentu saja ini sekenario besar yang memberikan banyak keuntungan. Akan tetapi aksi “menggoreng” tetap jahat dan merugikan publik, banyak pihak akan dikorbankan. Bila di bisnis saham, korbannya mungkin hanya para pelaku pasar yang berinteraksi dengan saham yang “digoreng”. Namun jika PLN yang melakukannya, 70 juta KK plus ribuan industri akan kena getahnya, akan terjadi high cost economic akibat kenaikan TDL. Investor sendiri juga belum tentu tersenyum dalam waktu lama, bisa saja mereka hanya membeli “kucing dalam karung.” Toh kita tahu betul, selama ini PLN boros dan sarat KKN.

Fakta itulah yang agaknya terus menihilkan urgensi kenaikan TDL dikaitkan dengan kerugian yang kerap diderita PLN. Rasanya publik lebih percaya bahwa kerugian justru lebih disebabkan karena PLN memang tidak efisien (high cost) dan masih diliputi nuansa KKN. Lihat saja, meskipun berdasarkan tahun buku PLN mengalami kerugian, namun dari surplus cash sejak tahun 1999, PLN berhasil menyedot dana sekitar Rp 10 triliun. Nah pada saat kurs gonjang-ganjing saja prestasinya sudah begitu, apalagi ketika kurs sudah stabil seperti saat ini. Pasti dana yang akan dihimpun bisa jauh lebih besar.

Intinya, PLN harus instrospeksi, berkaca di cermin. Dengan melihat cermin terkadang kita menjadi lebih sadar dan bijaksana. TDL jelas berkaitan dengan hajat hidup orang banyak dan salah satu indikator baik tidaknya public service yang dilakukan pemerintah kepada rakyat sebagai “majikan”. Menaikkan TDL menjelang Pemilu tentu saja seperti menggulingkan bola salju. Seperti supir angkot pemerintah pun harus menentukan skala prioritas, “mengejar setoran atau keselamatan penumpang?”***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (30 September 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s