Sosok Presiden RI 2004?

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Selama kurun perjalanan sejarah Indonesia, setidaknya kita telah pernah dipimpin oleh lima presiden. Semua dengan ciri masing-masing yang khas. Kita pernah dipimpin oleh Ir Soekarno, seorang insinyur teknik yang cerdas di bidang politik. Gagasan-gagasannya radikal, berani dan selalu menyulut identitas kebangsaan.

Usai Soekarno, Indonesia dipimpin oleh Soeharto, seorang jenderal militer karismatik  yang mahir betul menyatukan antara kekuatan senjata dan kekuatan politik. Dalam catatan sejarah kepemimpinan Indonesia, periode keduanya merupakan sebuah babak terbesar, yang sangat menentukan karakter bangsa ini, terutama karena disebabkan karena lamanya waktu mereka berkuasa.

Para pemimpin Indonesia berikutnya, memiliki kesempatan yang lebih singkat, bahkan ada yang tidak sampai pada akhir periode. BJ Habibie misalnya, ia mencuat kepermukaan sebagai putra mahkota dari pemerintahan Soeharto. Dalam kepemimpinannya, teknokrat tulen ini menggagas upaya percepatan transformasi ekonomi dengan alih teknologi.

Tidak cocok dipimpin seorang teknokrat, Indonesia pun menemukan presiden lain dari latar belakang yang berbeda, seorang Kyai bernama Abdul Rahman Wahid atau lebih populer dengan sebutan Gus Dur. Seperti melepas sumpal botol penyimpan jin, Gus Dur membuka katup-katup demokrasi sebesar-besarnya. Sebagai seorang presiden, Gus Dur semakin kontroversial dan membingungkan publik.

Ah…entah apa yang terjadi kemudian, mungkin publik merasa panggung politik terlalu hingar-bingar. Pertikaian elit politik terus menggenangi Nusantara, dan kegerahan ada dimana-mana, bahkan sudah merembet ke jantung masyarakat banyak. Rakyat semakin anarkis, seluruh level pemimpin negeri seperti kerasukan jin demokrasi yang salah kaprah.

Mungkin ini alasan mengapa kemudian seorang ibu rumah tangga seperti Megawati diharapkan tampil untuk memimpin negeri. Soalnya negeri ini sudah terlalu penat dalam hingar bingar, carut marut dan benang kusut kekisruhan demokrasi. Seorang ibu biasanya lebih telaten, sabar, dan penuh cinta kasih dalam mengurusi rumah tangganya. Siapa tahu pemimpin seperti itu cocok untuk bangsa ini. Begitu reka nurani rakyat ketika itu.

Tak ada gading yang tak retak, demikian pula kelima presiden yang memimpin negeri seribu pulau ini. Sebuah teori organisasi klasik menilai, keberhasilan sebuah periodesasi kepemimpinan dianggap bila periode tersebut mampu melakukan regenerasi dengan baik. Faktanya dalam soal kepemimpinan, kita memiliki sitem regenerasi yang tidak baik. Semua lebih cenderung ingin melanggengkan kekuasaannya. Semua cenderung memanfaatkan kekuasaannya selama mungkin dan sebesar mungkin.

Sosok-sosok negarawan yang harusnya lahir dan dipuja-puja seluruh rakyat Indonesia, kerap kali membunuh karakternya sendiri di tengah jalan. Mereka justru menjadi biang antipati rakyat dan menjadi musuh bersama yang harus digulingkan dari tahtanya. Mereka menjadi buta dalam mengemban amanah yang diberikan, sampai mereka harus mengembalikannya dengan paksa. Saling menjatuhkan pun kemudian menjadi tradisi.

Semakin lama bangsa ini semakin barbar dalam urusan politik dan ekonomi, dan kemudian membuat bangsa ini menjadi bangsa penghutang paling besar, paling korup, tempat empuk untuk pencucian uang (money loundering), tempat hukum dikangkangi kekuasaan, dan tempat berkumpulnya orang-orang paling bodoh sedunia, manakala kita memiliki human development index paling corot. Ya…kita sudah sampai di titik nadir paling bawah.

Begitupun, sebagai rakyat kita berpantang untuk putus asa. Kita harus selalu yakin, akan ada hari-hari baik, ketika kita membolak-balik halaman-halaman kalender esok hari. Hari-hari baik dimama Indonesia dipimpin oleh seorang negarawan yang arif, bijaksana, berbudi pekerti luhur, menjunjung hukum dan keadilan, berfikir cermat dan cerdas dan menjadi inspirasi bagi seluruh rakyat dalam melakukan ijtihad pembangunan.

Melalui pemilu 2004 semua itu jadi lebih memungkinkan, karena kita tak lagi bisa dikelabui oleh para oportunis dan makelar-makelar politik, karena kita akan memilihnya secara langsung. Artinya, siapapun “dia” yang akan kita pilih, mulai sekarang harus mempertimbangkannya dalam-dalam. Karena bila salah memilih kita semua yang akan menanggung akibatnya. ***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (23 Desember 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s