Turut Berdukacita…

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Innalillahi wa innalillahi rojiun (sesunguhnya segala sesuatunya bermula dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya). Mari sejenak bertafakur, berbelasungkawa, mengirimkan doa keharibaan sang  pencipta atas 244 korban tragedi Mina. Demikian juga untuk para sanak kerabat para korban, semoga senantiasa dilindungi, tabah dan dapat mengambil hikmah dari kemalangan yang terjadi.

Bencana di hari raya Idul Adha kemarin bukan yang pertama, untuk tragedi sejenis, tragedi kemarin paling banyak menelan korban setelah tragedi terowongan Mina pada tahun 1990, di mana sekitar 1.400 orang tewas.  Kejadian serupa pernah terjadi di tahun 1998, 118 jemaah haji tewas dan 180 luka-luka. Pada tahun 2001 di wilayah yang sama 35 orang dikabarkan tewas dan menyusul 14 jemaah pada tahun 2003 lalu.

Belajar dari pengalaman ini, kita berharap pada tahun-tahun berikutnya, pemerintah Arab Saudi dapat mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menghindari terulangnya kejadian serupa. Misalnya dengan semakin intensif memperketat pemberlakuan kuota haji dan peningkatan fasilitas baik sarana dan prasarana.

Kita mengakui sejauh ini pemerintah Arab Saudi memang telah melakukan banyak perbaikan untuk menekan peluang terjadinya musibah, misalnya dengan membuat terowongan ganda di Mina yang berbeda untuk jemaah yang berangkat maupun yang pulang dari melempar jumrah.

Untuk mengantisipasi kehabisan oksigen, di terowongan Mina pun telah dipasang kipas angin berukuran raksasa. Sehingga sirkulasi udara mejadi lebih baik. Tempat melempar jumrah yang tadinya satu lantai kini telah dibuat dua lantai, dan dilengkapi dengan pengaturan rute berangkat dan pulang para jemaah. Bahkan tenda para jemaah haji juga sengaja dirancang tahan api.

Kita juga memahami, mengatur sekitar dua juta orang yang datang dari berbagai bangsa dan berbagai latar belakang dalam waktu dan tempat yang bersamaan tentu amatlah sukar. Oleh karenanya ibadah haji sendiri mensyaratkan, untuk dapat menunaikan rukun Islam yang kelima ini seseorang harus memiliki “kemampuan” yang paripurna. Maksudnya tidak hanya mampu dari sisi finansial saja, namun harus didukung oleh kemampuan lain seperti kesehatan dan kekuatan fisik, kematangan mental dan spiritual. Itu adalah syarat yang universal, sejak disyariatkan 14 abad lalu hingga akhir zaman.

Dalam banyak riwayat Nabi Muhammad SAW sendiri harus melewati perjuangan panjang dan menyakitkan untuk dapat berjiarah ke tanah suci Mekkah. Sebelum ada pesawat terbang, para jemaah haji harus menempuh perjalanan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk menunaikan haji. Banyak di antara mereka meninggal dalam perjalanan tanpa ada kabar berita yang jelas. Kini jarak bukan lagi menjadi persoalan, tetapi nuansa perjuangan menunaikan ibadah haji tetap ada, dan dalam bentuk yang berbeda pula.

Di atas semua itu pemerintah Indonesia dan calon jemaah haji bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini. Setidaknya kini dibatalkannya keberangkatan 30.000 calon jemaah haji oleh pemerintah Arab Saudi bisa dinilai positif. Karenanya pemerintah Indonesia via departemen agama ke depan hendaknya lebih lebih baik lagi dalam me-manage keberangkatan jemaah haji sesuai kuota. Bukan malah dikomersilkan buat meraup untung pribadi dan kelompok.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (3 Pebruari 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s