Agar Tak Ada Nirmala Lain…

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Memang, siapapun prihatin mendengar getirnya perjuangan para TKW di perantauan, terutama para TKW (tenaga kerja wanita) seperti Nirmala yang baru-baru ini banyak diberikan di media. Mereka kerap menjadi objek pelecehan seksual, kekerasan majikan, dan harus bekerja ekstra keras di luar jam kerja tanpa mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah Indonesia. Pembelaan tak kunjung didapat, malah penderitaan  yang bertambah. Tak jarang perwakilan tenaga kerja di luar negeri juga mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Ada banyak kasus pahit seperti ini, tetapi bukan berarti semua TKW bernasib sama. Banyak juga yang berhasil merealisasikan impian yang diukir dari kampung halaman. Tetapi kita memang harus lebih prihatin ketika mereka kelaparan, terpaksa menjadi pelacur, ataupun  kriminal di negeri sendiri.

Pemerintah harus belajar banyak dari pengalaman selanjutnya mencoba untuk men-design sistem yang lebih kondusif dalam menempatkan TKW nonformal. Bagaimanapun mereka adalah pahlawan-pahlawan Indonesia, dalam menghimpun devisa. Ya kalau sekarang rupiah bisa stabil itu berkat cadangan devisa yang aman, rata-rata sekitar US$ 400 juta per bulan, tentu ada kontribusi para TKW di sana. Toh surplus ekspor kita juga belum mampu meng-cover seluruh kebutuhan cadangan devisa.

Regulasi berkaitan dengan penempatan TKW nonformal ini tentu harus direkonstruksi secara komperhensif. Pertama, pemerintah harus merumuskan standar kualifikasi TKW yang boleh dipekerjakan. Kedua, ketika menempatkan mereka di luar negeri pemerintah harus mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan TKW, aspek ekonomis,  kesinambungan, kebutuhan advokasi dan lain-lain.

Selanjutnya yang tak kalah penting, pemerintah harus menertibkan penempatan-penempatan TKW secara ilegal. Justru di sinilah sebenarnya cikal bakal berbagai permasalahan  TKW di luar negeri. Masalah legalitas membuat mereka senantiasa was-was, terancam, dan mudah dimanfaatkan, tanpa berani melakukan perlawanan.

Pemerintah harus memahami mimpi-mimpi para TKW. Mimpi yang di bawa dari kampung halaman ke negeri perantauan. Jauh dari pangkuan ayah bunda tercinta maupun sanak saudara. Jika dapat memilih tentu tak ada di antara mereka yang sudi meninggalkan kampung halam tercinta. Namun karena belenggu kemiskinan, demi sesuap nasi dan sebungkah harapan di hari esok, mereka rela pergi jauh, kendati terkadang justru bahaya dan maut yang menanti. Mereka tak akan menjadi TKI bila pemerintah antisipatif menyediakan lapangan pekerjaan.

Jadi kepada pemerintah, khsusnya para calon presiden dan wakil presiden segeralah men-design program untuk para TKW. Mulailah menyelesaikan persoalan dari akarnya. Medongkrak kualitas SDM dengan memberi porsi lebih kepada sektor pendidikan, menghentikan korupsi dan memperkuat pembangunan ekonomi berdasarkan base resources seperti agribisnis, agar tak ada lagi Nirmala-Nirmala lain.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (25 Mei 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s