Apakah Reformasi Gagal?

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Pertanyaan ini menyeruak begitu saja, mendapati realitas ternyata semakin membengkak saja kerinduan akan comeback-nya militer dalam struktur kekuasaan. Gejala pertama terefresentasi dengan tampilnya partai Demokrat yang mengusung purnawariwan militer SBY, sebagai capres terpopuler. Gejala berikutnya adalah, begitu besarnya keinginan elit sipil untuk dapat menggandeng militer dalam paket capres-cawapres. Sedangkan gejala ketiga, di partai terkuat pemenang pemilu, Golkar, hegemoni militer juga begitu kental dengan tampilnya Wiranto dan Prabowo.

Padahal kalau kita ingat-ingat, salah satu tujuan digulirkannya reformasi, bagaimana secara perlahan mengurangi hegemoni militer dalam kekuasaan, demi terbentuknya civil society. Sebab pengalaman sejarah telah menorehkan kepahitan mendalam atas otoriterianisme, refresif dan korupnya rezim militer. Apakah yang patut dicermati dari fenomena ini?

Kembali diinginkannya militer untuk tampil, tidak lain karena faktor kefrustasian publik atas lambannya perbaikan kondisi bangsa, baik dari dimensi politik, hukum terutama ekonomi. Dalam kefrustasian, rakyat mulai bernostalgia, mengenang keindahan “fatamorgana” milik masa lalu, di bawah sosok pemimpin militer. Rakyat agaknya terbius dan lupa, bahwa buruknya kondisi bangsa saat ini merupakan warisan dari rezim orde baru dan militer itu sendiri.

Selanjutnya, seiring dengan ekspektasi akan perubahan dan perbaikan yang demikian besar dalam tataran kepemimpinan nasional dan kehidupan berbangsa, justru tak dapat dijawab secara lugas dan tuntas oleh para elit sipil yang menjadi harapan, seperti Megawati dan Gus Dur. Toh korupsi terus merajalela bahkan makin kronis, dan kondisi keamanan serta stabilitas politik ekonomi semakin carut marut. Akhirnya elit sipil benar-benar semakin terjauhkan dari simpati grass root.

Kondisinya kemudian semakin parah manakala, ternyata masyarakat memiliki batas toleransi yang tipis terhadap perjuangan reformasi. Padahal perubahan secara gradual bagi sendi-sendi kehidupan berbangsa, yang digulirkan oleh semangat reformasi, jelas tidak dapat dirubah dalam sekejab mata, seperti membalik telapak tangan. Sayangnya elit sipil lagi-lagi tidak bisa menenangkan konstituennya bahwa dibutuhkan kesabaran yang lebih dari masyarakat, bahkan mereka sendiri terus bertikai  tanpa henti. Inilah yang kemudian mengusung kebosanan dan apriori masyarakat dan menginginkan semua hiruk-pikuk politik, kebingungan,  dan ketidakpastian diakhiri.

Benarkah komitmen reformasi kini menemui jalan buntu dan harus terpinggir dari wacana pembangunan masa depan? Sehingga kita harus mengundang kekuatan militer untuk kembali tampil dalam kepemimpinan nasional? Sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab pada saat ini. Namun segera pada pemilihan presiden 5 Juli mendatang jawabannya akan terungkap.  Jika memang kekuatan reformasi masih eksis, tentu masih ada sedikit waktu yang tersisa untuk melakukan, kerja keras, membersihkan opini yang keliru.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis ( 21 April 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s