Belajar Dari Laos

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Di antara negara-anggota ASEAN, perekonomian Laos yang menjadi tuan rumah ASEAN Summit X jelas tertinggal jauh dibanding anggota-anggota lainnya. Kenyataan itu membuat pemerintahan Laos yang dipimpin PM Bounnhang Vorachith sangat terbuka terhadap berbagai kerja sama ekonomi yang masuk dalam agenda KTT ASEAN X beberapa waktu lalu. Mereka menilai, berbagai kerangka kerja sama, khususnya kerja sama ekonomi akan bisa membuka negara mereka dari keterkungkungan ekonomi yang selalu menjadi prototipe negara-negara sosialis seperti Laos.

Sebenarnya sebelum menggelar KTT ASEAN, Laos telah melakukan berbagai langkah yang bisa menarik investor asing menanamkan modalnya di negara berpenduduk 5,8 juta jiwa tersebut. Pemerintah Laos telah melakukan perubahan terhadap hukum investasi asing. Ini merupakan langkah vital yang mengubah wajah Laos dalam dua tiga tahun belakangan ini. Dengan perubahan ini, maka investor asing telah berani menanamkan dananya di Laos.

Aturan penanaman modal di Laos menyebutkan, investasi di beberapa sektor prioritas di seluruh negeri akan dibebaskan dari pajak keuntungan selama satu  hingga tujuh tahun. Saat ini, pajak keuntungan yang dikenakan terdiri dari berbagai macam kategori dan besaraan yakni 20%, 15%, dan 10%. Dalam konsideran UU tersebut juga disebutkan bahwa mesin-mesin yang diimpor untuk keperluan produksi, dibebaskan dari pajak. Ketentuan ini berlaku bagi investor dalam negeri maupun asing.

Aturan lainnya menyebutkan bahwa keuntungan yang diinvestasikan kembali pada projek di dalam negeri akan dibebaskan dari pajak keuntungan. Tidak hanya itu, bagi investor besar, keluarganya pun akan mendapat jaminan visa masuk selama lima tahun padahal sebelumnya investor, tidak bersama keluarganya, hanya dijamin selama satu tahun saja.

Peraturan baru tersebut juga memberikan keleluasaan dalam pengelolaan objek-objek bisnis. Walaupun dilakukan dengan built over transfer (BOT) tapi waktu operasionalnya bisa mencapai 50 tahun. Ini menguntungkan karena peraturan sebelumnya hanya memberlakukan selama 20 tahun saja. Investor pun punya hak untuk memperpanjang waktu operasional bila waktu 50 tahun ini habis.

Berbagai langkah dan kebijakan ini telah dirasakan oleh Laos. Investor asing mengalir ke dalam negeri khususnya sektor garmen, pemrosesan kayu, pariwisata, listrik tenaga air, dan pertambangan. Selama tahun 2002, PMA meningkat 11 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2003 semakin berkembang lagi. Pada paruh pertama tahun 2003, PMA tercatat 64 projek dengan nilai US$ 283,6 juta dibandingkan 80 projek seluruh tahun 2002 yang bernilai total US$ 492 juta. Untuk tahun 2004, PMA terus meningkat. Terdapat 161 projek PMA bernilai US$ 533,6 juta telah disetujui.

Lantas bagaimana dengan kebijakan pemerintah terkait soal upaya peningkatan investasi ini? Ya masih jauh panggang dari api. Jika memang komitmen memperbaiki perekonomian itu begitu besar, ada baiknya pemerintah Indonesia belajar banyak dari Laos.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (15 Desember 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s