Blessing in Disguise

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Kita tentu masih ingat Monumen Seulawah I, pesawat dengan nama Indonesia Air Ways (cikal bakal Garuda sekarang) itu adalah bukti ikatan tak terputuskan antara Aceh dan Indonesia. Dan hari ini, rakyat Aceh bisa menyaksikan sendiri bagaimana bangsa Indonesia telah memonumentalkan rasa teramat sayang pada rakyat Aceh.

Bangsa Indonesia laiknya seorang ibu yang bagaimanapun tidak bisa tinggal diam menyaksikan Aceh berjalan sendiri, sempoyongan dan tersungkur dalam kekalutan yang amat dahsyat. Dua monumen itu sesungguhnya memiliki arti yang sama dan satu,  all for one, hari ini dan untuk selamanya!

Di tengah-tengah puing-puing bumi Aceh yang luluh lantak, kini taman pesatuan tengah dibangun kembali oleh tangan-tangan anak bangsa. Tidakkah terasa indah, tautan solidaritas daerah-daerah untuk Aceh terus bermekaran? Ketika ikatan komunitas yang sempat retak itu kini tengah disulam kembali secara kolektif oleh bangkitnya solidaritas sosial dari seluruh penjuru tanah air.

Yakni, ketika jutaan tangan yang mengayun bersama membersihkan puing-puing, merawat mereka yang terluka dan kehilangan, menghibur mereka yang depresi, membagikan makanan, memakamkan mayat-mayat yang telantar, membangunkan yang tersungkur, membebat luka, membangun fasilitas-fasilitas darurat, dan yang terpenting memberi harapan tepat ketika rakyat Aceh tidak lagi memiliki secuil harapan.

Ah..semoga hikmah di balik musibah itu pula akan turut menyapu bersih dikotomi Aceh-Indonesia, Aceh-Jakarta atau Aceh-Jawa. Karena, Aceh di titik nol semestinya lebur dalam kekayaan batin rakyat Indonesia. Konsolidasi NKRI semestinya menjadi semangat baru tidak hanya untuk rakyat Aceh, tapi untuk seluruh rakyat Indonesia.

Soal pertanyaan mengapa Tuhan menimpakan bencana pada Aceh. Maka jawaban itu terutama harus keluar dari rakyat Aceh sendiri. Apa sesungguhnya daulat rakyat Aceh untuk Aceh hari ini dan masa depan? Daulat yang semestinya didengar oleh semua pihak termasuk pemerintah dan GAM. Karena musibah ini sangat mungkin ditafsirkan secara maknawiyah terjadi, untuk menguji kesalehan manusia Aceh dan sekaligus pula menguji kesalehan manusia Indonesia.

Yaitu, ketika sesosok manusia telah dibebaskan-Nya dari belenggu “meterialistik” yang selama ini ternyata lebih banyak menyesatkan rakyat Aceh. Ketika manusia Indonesia memperoleh kesempatan untuk menyegarkan kembali format rasa memilikinya terhadap tanah tumpah darahnya sendiri. Bahwa ternyata ada kekayaan yang nilainya bahkan melebihi sumber daya alam bumi Aceh itu sendiri, kekayaan batin yang saling mengasihi.

Mari kita mulai memunguti puing-puing yang masih berserak, membentuk kembali mozaik kebersamaan melalui proses konsolidasi dan rekonsiliasi. Hal tersebut menjadi sangat berpeluang, apabila di bumi Aceh bermekaran pula bunga-bunga perdamaian. Adakah dendam dan sejarah politik di bumi Aceh juga dapat diruntuhkan oleh gempa dan tersapu badai tsunami kemarin? Kemudian digantikan, tumbuh-mekarnya bunga-bunga ketulusan hati.

Dimuat di Harian Medan Bisnis (27 Januari 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s