Dana Kampanye Parpol

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Dua hari lagi pelaksanaan kampanye akan segera berakhir. Selanjutnya rangkaian perjalanan Pemilu memasuki minggu tenang, dimana parpol melakukan evaluasi sepak terjang selama masa kampanye. Kalukulasi politik pun segera dilakukan. Kira-kira berapa jumlah simpati rakyat telah dikantongi, di mana saja basis masa yang benar-benar kuat, atau di wilayah mana saja mereka disambut dengan dingin.

Di minggu tenang, sambil melepas lelah usai menyelesaikan maraton kampanye, para pengurus parpol ataupun para caleg, tentu akan mulai menghitung secara lebih cermat,  berapa dana sudah habis terkuras, dalam mencuri atau membeli perhatian rakyat. Mengingat-ingat kembali aksi-aksi yang dilakukan di arena kampanye. Ada yang merasa puas ada yang tidak. Bagi yang belum puas, pasti minggu tenang mereka isi dengan merancang skenario lanjutan yang lebih dasyat. Paling tidak mengumpulkan uang lebih banyak untuk melakukan “serangan fajar” menjelang hari H.

Meskipun pada saat yang sama banyak cendekiawan, LSM, dan mahasiswa mengkampanyekan anti politisi busuk, atau soal anti money politic, toh perjalanan pekan-pekan kampanye telah menciptakan hipotesis yang sama, dengan pemilu-pemilu terdahulu. Partai yang paling banyak menebar uang adalah partai yang paling meriah sambutan massanya. Hipotesis ini lebih jauh bisa “diturunkan” menjadi, Partai yang paling banyak menebar uang (masih) akan menjadi pemenang Pemilu.

Lihat saja hanya dalam dua pekan kampanye, kabarnya “si moncong putih” telah menghamburkan dana iklan kampanye sekitar Rp 12,5 miliar, “si kuning” menghabiskan Rp 6,6 miliar, PKS Rp 2,25 miliar, PKPB Rp 2,03 miliar, Partai Demokrat Rp 1,69 miliar dan seterusnya, seperti yang dilaporkan Indonesia Corruption Watch (ICW). Ini masih biaya iklan secara resmi, belum lagi pengeluaran lain-lain, untuk kampanye terbuka, atribut partai, mendatangkan artis, transportasi, dan biaya perorangan para caleg.

Lagi-lagi uang tetap saja menjadi formula paling ampuh untuk membeli simpati di tengah kemiskinan materil dan moral rakyat Indonesia. Bila kelak ternyata hipotesis ini benar, berarti Pemilu 2004 tidak akan membawa perubahan signifikan bagi perbaikan bangsa. Bahkan bisa menjadi bumerang, karena hanya akan semakin meningkatkan korupsi elit-elit politik berkuasa. Sebab mereka harus korupsi lebih banyak agar dapat menabur uang lebih banyak. Kondisinya akan semakin memburuk manakala semakin banyak para pengusaha yang terseret dalam “tornado” politik. Apalagi keinginan mereka berpolitik hanya didasari untuk memperkuat akses bisnis, kekuasaan dan kapitalisme.

Selain pesta pora, Pemilu adalah bius, yang membuat seluruh rakyat Indonesia lupa, bahwa kita memiliki utang luar negeri hampir Rp 2.000 triliun yang entah kapan bisa dilunasi, kita masih dihadapkan pada tingginya angka 400.000 anak yang terus dieksploitasi secara seksual, angka pengangguran yang terus membengkak di atas 40 juta jiwa, kemiskinan, problema pendidikan dan seterusnya. Sekali lagi, kenyataan ini harus membuat seluruh rakyat Indonesia semakin cermat melakukan kalkulasi, sebelum menjatuhkan pilihan!***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (23 Maret 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s