Demi Kekuasaan

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Dalam kajian dasar ekonomi dikemukakan bahwa, manusia memiliki kepuasan yang tidak terbatas, sementara alat pemuasnya sendiri sangat terbatas. Atas dasar inilah kemudian hadir ilmu ekonomi, sebagai instrumen dalam me-manage segala material maupun imaterial sehingga tercapai kepuasan optimal.

Soal pemuasan kebutuhan ini sekilas tampak sederhana, namun pada hakekatnya menjadi persoalan yang tidak pernah terselesaikan, sebab memang tingkat kepuasan sangat tidak terbatas. Waktu belum  memiliki pekerjaan misalnya,  seseorang merasa yakin bahwa ia akan sangat puas bila telah mendapatkan pekerjaan. Tetapi ketika pekerjaan telah diperoleh, seseorang tersebut mulai menatap tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

Begitu juga dengan  kekuasaan yang dipercaya sangat ampuh untuk melakukan penetrasi pemenuhan kepuasan. Tadinya cukup menjadi ketua di sebuah partai politik, kemudian menjadi presiden, lantas tetap ingin mempertahankan kekuasaannya, tanpa menyadari dengan jelas di atas “landasan” apa kekuasaan itu harus dipertahankan.

Di Indonesia ini banyak orang-orang seperti itu, dan sialnya merekalah yang kita percaya menjadi para pemimpin di negeri seribu pulau ini. Mereka yang menempatkan kekuasaan identik dengan kepuasan, dan demi kepuasan kekuasaan dilanggengkan.

Mungkin kalau ditanya kepada mereka satu persatu, mengapa masih ingin menjadi penguasa? Pasti mereka akan menjawab, “Saya merasa perjuangan saya belum optimal, ini bukan untuk kepuasan saya pribadi tetapi demi kejayaan dan perbaikan bangsa!” Padahal jawaban sesungguhnya, yang tersimpan jauh di dalam lubuk hati adalah, “Ya kalau tidak sekarang, kapan lagi?”

Meski dibalut dengan ribuan dalih kebaikan, gelagat kebusukan mereka tetap tercium. Kepongahan dan nafsu untuk menjadi penguasa berada seratus langkah di depan komitmennya untuk berjuang memperbaiki kehidupan bangsa. Silaunya tahta kekuasaan membutakan mata dan hati mereka, dari terus meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran yang menjadi penyakit paling latent di suatu negara.

Bahkan, di tengah penderitaan rakyat, mereka terang-terangan berupaya terus membeli kekuasaan. Dengan uang yang sebelumnya mereka telikung dari rakyat. Yang sedang berkuasa malah semakin mudah, licin, dan paling banyak menghamburkan uang. Melihat keadaan ini kita jadi terfikir, pantas selama ini banyak gedung SD yang tidak layak pakai tetap dibiarkan, jalan-jalan masih banyak yang berlubang,  pelayanan Puskemas terus tak memadai, sistem drainase yang  carut marut dan berbuah banjir dan seterusnya.

Sungguh menyakitkan, ketika mereka secara tak malu-malu berteriak, “Jika dipilih menjadi penguasa, pendidikan akan digratiskan, para petani dan buruh akan diperhatikan kesejahteraannya, dan gaji guru dan PNS akan dinaikkan!”. Toh, mereka sedang berkuasa sekarang, tapi apa yang mereka lakukan? Tidak ada. Sesungguhnya mereka tak lebih dari para penipu yang hanya haus kekuasaan.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (23 Maret 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s