Dibalik Transfer of Power

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Apa yang dianggap AS sebagai penyelesaian Irak dengan transfer kekuasaan, malah merupakan awal konflik baru yaitu awal perjuangan merebut kembali kedaulatan Irak. Rabu 30 Juni ini, AS menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintahan sementara Irak. Resolusi Dewan Keamanan PBB No 1546 yang diadopsi pada 8 Juni lalu, secara formal telah memberikan jalan kepada AS untuk menyelesaikan tugasnya di Irak. Selanjutnya, keamanan Irak akan ditangani pasukan multinasional PBB.

AS seolah-olah telah menjadi kampiun, meruntuhkan rezim otoriter Irak, dan mengembalikan kekuasaan kepada PBB dan selanjutnya kepada rakyat Irak. Resolusi PBB itu seolah-olah pembenaran atas “misi suci” AS di Irak. Begitulah cara berpikir kaum neokonservatif AS pimpinan George Bush. Persoalannya apakah transfer kekuasaan ini akan mendatangkan perdamaian dan masa depan bagi warga Irak? Tampaknya tidak.

Setahun lebih AS di Irak, ternyata tidak mampu memulihkan keamanan dan ketertiban di Irak. Dalam sindiran getir, AS bahkan tidak mampu menghidupkan lampu lalu lintas di jalan-jalan Irak. Apalagi menciptakan ketertiban yang lebih besar lagi.

Kini setelah AS kelimpungan di Irak, para jenderal Sadam yang masih eksis dikabarkan telah mengorganisasikan serangan-serangan, tidak cuma kepada AS, tetapi juga kepada siapa pun yang dianggap menjadi boneka AS. Serangan terakhir di lima kota yang menewaskan 90 orang Irak, menunjukkan bahwa menjelang 30 Juni bukanlah awal usainya perang, malah merupakan awal peperangan besar.

Kehadiran pasukan multinasional tidak akan membantu banyak. Pasukan itu tetap dipimpin oleh AS. Selain itu, Resolusi 1546 punya kelemahan dari sisi Irak. Pertama, resolusi itu tidak mengabulkan usulan hak veto pemerintahan sementara Irak dalam hal operasi militer multinasional. Hak veto ini diusulkan Prancis, Cina dan Rusia, tapi ditolak AS. Kedua, resolusi ini tidak menyebutkan batas waktu keberadaan pasukan asing ini di Irak.

Kedua hal inilah yang kemudian menimbulkan kecurigaan, bahwa AS tidak ingin secara serius menyerahkan kekuasaan kepada Irak. Washington masih ingin memegang kendali militer. Di lain pihak, rakyat Irak tetap memandang pasukan asing mana pun yang hadir dianggap sebagai pasukan penjajah. Sementara kaum militan mengancam siapa pun yang berkolaborasi dengan AS. Karena itu, pemerintahan sementara Irak senantiasa dibayang-bayangi kegagalan dan sabotase. Kondisi sulit seperti inilah yang membayang-bayangi 30 Juni mendatang. Tampaknya apa yang gagal diatasi oleh AS, juga tak mudah diselesaikan oleh pasukan multinasional atau NATO sekalipun.

Apa yang dianggap AS sebagai penyelesaian Irak dengan transfer kekuasaan, malah merupakan awal konflik baru yaitu awal perjuangan merebut kembali kedaulatan Irak. Para jenderal Saddam mengatakan, resolusi PBB dan transfer kekuasaan jangan dianggap sebagai kemenangan AS di palagan perang Irak. Bisa diperkirakan, beberapa saat setelah transfer terjadi, bom meledak di mana-mana.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (20 Juni 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s