Gaji Ke-13

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Di bibir para pegawai negeri sipil (PNS) di seluruh Indonesia kini tentu tersungging senyum sumringah, betapa tidak, gaji ke-13 yang sekian lama dijanjikan pemerintah dan tak kunjung terealisir kini akan dicairkan. Tampaknya kali serius dan jadi, sebab sudah ditandatangani Presiden Megawati beberapa waktu lalu. Bahkan ke pemprovsu transfer gaji ke-13 dikabarkan telah masuk, dengan nilai sekitar Rp 17 miliar, untuk selanjutnya dibayarkan pada awal Juni ini.

Senyum sumringah para PNS memang dapat dimaklumi, maklum gaji PNS memang kecil. Bagi PNS golongan rendah, gaji sebulan memang hanya mampu meng-cover kebutuhan selama pekan pertama, pekan berikutnya mereka harus “pandai-pandai” mencari sampingan.

Sayangnya gaji ke-13 ini dicairkan dalam kondisi yang kurang pas, yakni menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden. Oleh karena itu, wajar bila berbagai kalangan kemudian menuding, bahwa gaji ke-13 merupakan salah satu strategi pemerintah berkuasa untuk menarik simpati masyarakat, khususnya PNS, terkait dengan upaya memenangkan pemilu presiden dan wakil presiden.

Bisa jadi jutaan PNS yang tersebar di tanah air tiba-tiba jatuh simpati, dan menganggap yang menaikkan gaji adalah pahlawan yang harus dibela, pada pemilu Juli mendatang. Yang lebih tidak sedap lagi, ternyata pos pengeluaran gaji ke-13 itu diambil dari utang, seperti yang diungkapkan Ketua MPR Amin Rais di berbagai media baru-baru ini. Program “cari muka” juga dilakukan dengan mengucurkan program-program bantuan untuk para petani di pedesaan.

Jika memang ini benar adanya, betapa semakin tak sedapnya cerita gaji ke-13 ini. Berarti penguasa benar-benar memanfaatkan kekuasaannya untuk mencari simpati, menjadi alat untuk kampanye dan kepentingan politik.

Alhasil, gaji ke-13 hanya bermuara pada semakin beratnya beban utang yang arus ditanggung negara karena kondisi ekonomi yang masih belum stabil. Dengan utang yang berjumlah sekitar Rp 1.500 triliun sekarang saja kita tak mampu memprediksi kapan akan terlunasi, bagaimana jadinya kalau utang terus ditambah.

Saat-saat mejelang pemilu, terkadang memang semanis madu dan senikmat candu bagi rakyat. Banyak “kidung” janji yang terlantun dari elit politik, tentang keadilan dan kemakmuran  bila mereka terpilih.

Perlakuan terhadap rakyat  yang cenderung diposisikan sebagai kaum marginal, tiba-tiba diperhatikan dengan penuh kasih sayang, mesra dan senyum penuh harap. Tetapi begitu pemilu usai, ceritanya selalu lain, dan janji tetap tinggal janji.

Karenanya seluruh rakyat, termasuk PNS harus bercermin dari masa-lalu, untuk lebih waspada dengan janji-janji dan program-program sesaat yang me-ninabobokkan. Yang harus menjadi perhatian kita semua, bila para elit politik begitu piawai mengumbar janji, maka kita harus lebih pintar lagi menimbang-nimbang “logika” janji-janji itu.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (2 Mei 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s