Geliat “Perlawanan” di KTT APEC

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Adakah sesuatu hal penting yang patut dicermati seiring dengan usainya KTT APEC di Santiago, Cile yang baru berlalu. Nyaris tidak ada. Agenda ekonomi hanya menjadi bagian marginal dari tiga agenda yang dibahas, kalah kuat dengan isu terorisme internasional serta kepemilikan senjata nuklir, yang disodorkan George Bush, yang toh lagi-lagi menegaskan betapa kuatnya hegemoni AS di APEC.

Untuk kesekian kalinya KTT APEC memang masih didominasi negara kuat seperti AS. Dengan dominasi kekuatan yang sangat superior Bush memang bisa membuat para peserta KTT APEC tunduk pada keinginannya. Agenda global merekalah yang harus dijadikan bagian penting dalam konferensi.

Persoalan demikian bukan tidak disadari oleh negara-negara Asia-Pasifik, tapi kondisinyalah yang belum memungkinkan mereka mengambil peran yang lebih penting. Jepang dan Korea Selatan, dua negara Asia-Pasifik yang ekonominya tergolong paling maju dan paling kuat di kawasannya, masih belum mampu melepaskan dirinya dari bayang-bayang AS.

Untunglah dibalik hegemoni AS tersebut, RRC kemudian tampil dan memberi warna membawa  aroma perubahan, kalau tak ingin dikatakan sebagai kesan “perlawanan”. Kehadiran Presiden Hu Jintao di Santiago ternyata, tak kalah mencuri perhatian luas, khususnya dari media Barat. Pasalnya, Presiden RRC yang kini memegang seluruh kekuasaan di negerinya itu (termasuk di bidang militer) dianggap sebagai representasi Asia-Pasifik yang sedang mengancam dominasi AS selama ini. Hu memang tidak gembar-gembor menggugat pihak lain, tapi apa yang dilakukannya dalam tahun-tahun terakhir menunjukkan kemungkinan tersebut.

RRC dengan sangat aktif melakukan investasi dalam jumlah besar di beberapa negara Amerika Latin, khususnya di Argentina, Brasil, dan Cile. Di Brasil, Beijing menanam modal jutaan dolar AS di bidang penambangan biji besi. Hasilnya sudah tampak, industri RRC berkembang dengan cepat dan sangat bersaing di pasar. Investasi yang jumlahnya lebih besar ditanamkan pula di Argentina.

Secara konkret neraca perdagangan RRC-Brasil dari tahun ke tahun terus meningkat. Apalagi setelah Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dalam kunjungannya ke Beijing membawa serta 500 pengusaha Brasil dalam rombongannya. Renato Amarim, seorang diplomat Brasil yang sempat lama berdinas di Beijing dan kini menjadi Direktur Eksekutif Dewan Bisnis RRC-Brasil mengungkapkan bahwa dalam tahun 2003 perdagangan kedua negara meningkat dua kali lipat.

Tentu saja itu baru segelintir dari gebrakan RRC, dalam memukul balik hegemoni AS. Kabar baik selanjutnya adalah langkah konkret RRC diikuti oleh Jepang dan Korea Selatan. PM Junichiro Koizumi dan Presiden Roh Moo Hyun mengintensifkan berbagai perjanjian ekonomi dengan negara-negara Amerika Latin. Tiga negara kuat di Asia-Pasifik ini tampaknya akan terus berlomba, bukan semata-mata memperbesar neraca perdagangan tapi juga saling bersaing merebut posisi penting dalam rivalitas dominasi ekonomi Asia dan perdagangan internasional.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis ( 24 November 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s