Kebutuhan VS Harga Diri

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Negara anggota G-7 (Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Prancis, Itali, dan Kanada) telah sepakat untuk menunda pembayaran utang (moratorium) dari negara-negara yang terkena bencana tsunami. Soal bagaimana moratorium itu akan diberikan, masih menunggu follow up forum Paris Club, Rabu (12/1) kemarin.

Ada indikasi, utang itu bukan cuma ditunda pembayarannya, melainkan termasuk dikurangi. Namun, untuk yang terakhir ini, masih harus menunggu penilaian Bank Dunia dan IMF. Bank Dunia dan IMF memang diminta untuk menghitung kebutuhan dana dari negara-negara yang terkena bencana tsunami untuk melakukan rekonstruksi.

Di dalam negeri, prokontra diterima tidaknya moratorium juga merebak. Mereka yang pro menganggap tawaran moratorium merupakan tawaran simpatik dan baik. Penundaan itu setidak-tidaknya bisa mengurangi beban sementara. Sementara itu, mereka yang kontra beralasan, dengan alasan yang terkait soal harga diri seperti kekhawatiran turunnya peringkat utang, sampai pada perhitungan jangka panjang.

Penundaan itu, kata mereka, jelas sekali tidak menghilangkan utang yang ada. Dengan penundaan, ada kemungkinan beban pembayaran utang yang memang sudah direncanakan dan terjadwal menjadi terganggu. Sehingga bisa terjadi, beban pemerintah untuk membayar utang pada saat penundaan selesai menjadi lebih besar lagi, bertumpuk dengan kewajiban pemerintah lainnya yang jatuh tempo. Sementara uang yang dulu sempat dicadangkan untuk mencicil utang, sudah terpakai untuk merekonstruksi. Dari mana mendapatkan uang penggantinya yang tidak sedikit itu. Jadi, alih-alih bermanfaat, yang terjadi malah hantaman yang dahsyat terhadap keuangan pemerintah.

Daripada begitu, kata mereka, lebih baik tidak menerima moratorium itu. Toh Indonesia masih punya cadangan devisa yang lumayan. Dengan begitu, peringkat utang Indonesia juga tidak ikut-ikutan melorot (meski ada janji bahwa moratorium itu tidak memelorotkan peringkat utang) yang bisa berdampak pada masih tegaknya harga diri sebagai bangsa.

Tampak sekali, persoalan moratorium utang ini tidak sederhana. Dengan kata lain, pemerintah harus benar-benar memikirkan dengan matang sebelum dengan serius menyatakan akan menerima atau menolaknya.

Kita sudah bosan hidup sebagai negara yang punya utang seabrek ke mana-mana sehingga dana yang ada selalu habis dipakai untuk membayar utang berikut bunganya. Belitan utang ini sudah waktunya memang dikurangi, kalau tidak mungkin sama sekali dihilangkan. Menolak moratorium utang memang bisa meningkatkan harga diri, tetapi lebih berharga lagi kalau kita bisa hidup tanpa utang sama sekali. Bukan tidak mungkin, melainkan merupakan program yang tidak mudah dan jangka panjang.

Menolak atau menerima moratorium utang, sekali lagi, jelas sekali harus dipikirkan dengan matang. Jangan sampai keputusan yang dikeluarkan hanya karena pertimbangan jangka pendek dan sesaat. Bila putusannya keliru, tak mustahil ‘tsunami kedua’ (baca:bencana ekonomi) yang akan datang.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis ( 13 Desember 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s