Kekalahan Platform VS Figur

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Pasangan SBY-JK hampir pasti akan memasuki putaran kedua pemilihan umum pilpres. SBY ini dicalonkan oleh Partai Demokrat, tetapi siapa pun bisa memahami bahwa suksesnya SBY bukan karena kinerja Partai Demokrat, karena partai ini baru lahir menjelang pemilu 2004.

Tidak disangsikan lagi sosok SBY telah mendongkrak raihan suara pemilih. Dia digambarkan sebagai sebuah sosok yang tampan, kalem, cerdas, dan intelek. Ditambah dengan sosok dia yang “ditindas” oleh pimpinan kabinetnya, maka lengkaplah rasa empati dan simpati terhadap SBY. Inilah yang kemudian menimbulkan kritik dari ilmuwan LIPI, Dr Ikrar Nusa Bakti, bahwa pemilih kita tetap saja memilih calon pemimpin bukan berdasarkan platform partai, tetapi pada figur.

Kalau memang demikian, tentu ini merupakan sebuah ironi mengingat pilpres langsung adalah justru untuk menciptakan sebuah sistem dan menghindari bersandarnya perpolitikan pada figur. Tetapi juga perlu diingat bahwa memang begitulah sifat sebuah pilpres langsung di mana pun di dunia ini, termasuk di Amerika sendiri yang dikenal sebagai kampiun demokrasi.

Unsur-unsur yang tidak rasional dari segi politik, selalu muncul. Presiden Ronald Reagan misalnya terpilih karena dia adalah bintang film koboi yang gagah dan tampan. Saat itu, AS tengah perlu simbol heroisme setelah AS dipermalukan karena kegagalan Presiden Jimmy Carter dalam menangani krisis sandera di kedubes AS di Teheran, Iran. Bintang film laga Arnold Schwarzeneger juga terpilih sebagai Gubernur California.

Kita pun harus tetap menerima kenyataan bahwa faktor-faktor irasional di atas akan tetap muncul pada putaran dua itu. Namun tentu saja faktor-faktor irasional itu tidak akan sampai menyebabkan kita mundur kembali ke masa otoriter dahulu, sebab UU Pilpres membatasi masa jabatan sampai dua kali saja. Tentu jika presiden terpilih nanti tidak mampu menunjukkan prestasinya, rakyat tidak akan memilih dia untuk memegang jabatan sampai dua kali.

Menjadi presiden pasca Orde Baru, tentu tidak akan seenak dan sebebas presiden pada saat Orde Baru. Sekarang ini tuntutan transparansi begitu kuat. Lembaga legislatif pun bukan lagi cuma tukang stempel eksekutif. Militer juga sudah bukan militer dulu yang jadi alat kekuasaan. Media sebagai alat kontrol, juga kini sudah menikmati kebebasan yang cukup jauh. Kebebasan inilah yang mengontrol perilaku eksekutif kelak.

Selain itu, pilpres kali ini adalah pilpres langung yang baru pertamakalinya kita lakukan sepanjang sejarah republik sehingga kita belum tahu apa dan bagaimana seorang presiden hasil pilihan langsung bisa memanfaatkan legitimasi langsung ini dalam mengemudikan negara. Evaluasi bisa kita lakukan beberapa tahun kemudian. Kalau memang perangkat undang-undang politik dan kontrol rakyat ternyata bisa mengawal perjalanan bangsa ini dengan baik ke depan, berarti kita memang sudah memiliki sistem yang baik, tanpa harus khawatir siapa orang yang memimpin rakyat ini.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (10 July 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s