Memaknai Haji Mabrur

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Setidaknya Rp 6 triliun devisa negara harus melayang ke luar negeri untuk menyelenggarakan haji 1425H. Uang sebanyak itu dihitung dari biaya penyelenggaraan ibadah haji dari 200 ribu jemaah yang masing-masing membayar sekitar Rp 30 juta.

Lantas, apa keuntungan finansial yang diperoleh dari penyelenggaraan haji ini, sehingga kita harus mengeluarkan dana yang sedemikian banyak di masa Indonesia mengalami krisis yang makin dahsyat? Keuntungan finansial secara langsung, tidak ada. Jawaban soal ini hanyalah bersifat religius, sebagaimana dijanjikan Allah SWT sendiri, “Tidak ada yang diperoleh orang yang berhaji mabrur, kecuali surga.”

Tentu saja, surga tidak bisa dibeli hanya dengan Rp 6 triliun. Bahkan jika manusia menyadari akan nikmatnya surga, dan sedemikian takut terhadap neraka, jangankan Rp 6 triliun, seberapa pun yang mereka miliki, semua akan diserahkan agar surga diperoleh.

Persoalannya, apakah surga sedemikian mudah diperoleh dengan hanya menunaikan ibadah haji selama 40 hari dengan biaya per jemaah sekitar Rp 30 juta itu? Wallahu a’lam. Bisa jadi, begitulah Allah membuat aturan, tapi bisa jadi tidak begitu. Yang pasti, Allah Mahabijaksana, yang senantiasa melihat segala sesuatu secara formalistik, sekaligus substansial. Artinya, jemaah haji akan dinilai dari seluruh rangkaian prosesi ibadahnya secara ritual, sekaligus natijah (oleh-oleh) yang dipetik dari berhaji berupa haji mabrur.

Mabrur sendiri berasal dari kata barra seperti dalam kata birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua). Ini menunjukkan bahwa jemaah haji yang mabrur adalah mereka yang berubah perilakunya dari yang buruk menjadi baik, atau yang sudah baik akan bertambah baik. Perilaku jujur, dapat dipercaya, tidak khianat, cerdas, kreatif, dan berbagai perilaku konstruktif menjadi ciri utamanya. Dalam pengertian lain, mabrur juga diartikan dengan al-juud (suka berderma) dan penuh kasih sayang.

Jika lebih dari 200 ribu jemaah haji Indonesia yang menunaikan ibadah haji memperoleh haji mabrur, dapat dipastikan, Indonesia akan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang terbarui (renewed). Mereka akan menjadi pioner-pioner dalam kebaikan yang akan menularkannya kepada seluruh masyarakat yang tengah menderita sakit secara rohani.

Di tanah air, mereka akan menjadi para penyantun bagi masyarakat miskin dan anak-anak yang kelaparan, lagi putus sekolah. Di lapangan, mereka akan menjadi ujung tombak bagi perbaikan akhlak dan moral bangsa, menuju manusia Indonesia yang beradab.

Jika itu yang menjadi hasil dari penyelenggaraan haji 1425 H, uang sebesar Rp 6 triliun atau berapa pun tidak lagi ada artinya apa-apa. Itulah surga yang akan diperoleh jemaah haji di akhirat kelak, dan “surga dunia” yang akan diperoleh bangsa Indonesia. Persoalannya, apakah demikian yang terjadi?

Marilah kita dari sekarang mencoba optimis, dan mengawasi serta mengingatkan mereka agar mengemban peran ini, sehingga uang triliunan yang dikeluarkan tidak mubazir. Selamat datang jemaah haji Indonesia!***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (3 Pebruari 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s