Memilih…

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Sejak SD kita telah diajari untuk memilih. Dua pilihan atau banyak pilihan. Sistem pendidikan di sekolah, sejak dini telah mengajarkan pada kita konsekuensi dari sebuah pilihan. Kesalahan memilih bukan hanya bernilai nol, bahkan bisa bernilai negatif. Nilai yang bisa mengurangi nilai pilihan yang benar item soal lainnya. Bila kita memilih untuk tidak mengisi soal itu, kita hanya mendapat nilai nol. Risikonya lebih kecil dibandingkan bila kita memilih berdasar ketidaktahuan dengan kemungkinan untuk salah lebih besar. Tapi itu pun sebuah pilihan, bukan tanpa konsekuensi.

Sistem evaluasi dalam sistem pendidikan tersebut telah mengajarkan kita untuk bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang kita buat. Jaspers, seorang filosuf “eksistensialisme modern”, menyebutkan bahwa pilihan merupakan wujud paling nyata dari kebebasan (freedom). Dan pilihan pun merupakan wujud nyata dari ketidaktahuan atau tidak lengkapnya pengetahuan yang kita miliki tentang sesuatu dan konsekuensi dari apa yang kita pilih. Bukanlah pilihan bila kita telah tahu secara lengkap dan pasti konsekuensi dari setiap yang kita putuskan dan lakukan.

Dengan demikian, memilih dan pemilihan terhadap apa pun bukan sekadar tuntutan dari aktualisasi diri, bukan pula sekadar persoalan aspirasi, dan bukan pula sekadar persoalan hak asasi manusia, tetapi memilih dan pemilihan adalah tanggung jawab, wujud nyata dari ada dan keberadaan kita sebagai manusia. Apalagi pemilihan terhadap sesuatu yang berdampak luas, seperti pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden. Pilihan yang kita buat tentunya didasarkan pada harapan bagi keselamatan, kebaikan dan kesejahteraan bangsa ini, bukan hanya diri sendiri, akan tetapi bagi seluruh masyarakat bangsa ini.

Bangsa ini, kini sedang dihadapkan, dan menjalani masa sulit. Karena, rakyatnya sedang dihadapkan pada pilihan, yang dalam perspektif kenegaraan akan menentukan masa depannya. Tak ada yang tahu pasti pilihan mana yang “benar” atau paling tepat dan menyelamatkan.

Pascareformasi, telah sekian kali kita berganti presiden, dan sekian kali pula kita mengalami kekecewaan. Bahkan pilihan kita untuk melakukan reformasi pun, membuahkan kekecewaan. Bukan hanya kekecewaan, tapi juga korban. Namun tetap ada harapan, mudah-mudahan sistem pemilihan ini tidak menjadi bumerang bagi rakyat bangsa ini, bila ternyata pilihannya meleset. Bila itu terjadi, rakyat pula yang dipersalahkan, dan kembali menjadi korban.

Di sinilah tampak bahwa pemilihan presiden-wakil presiden bukan sekadar persoalan politis belaka. Pemilihan presiden bagi negara yang menganut sistem demokrasi, seperti Indonesia, lebih merupakan persoalan kemanusiaan daripada sekadar persoalan politik. Persoalan yang akan menentukan derajat manusia dan kemanusiaan bangsa ini, bukan sekadar persoalan kekuasaan, siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai dan menguasakan. Sekali lagi mari untuk tidak salah memilih!***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (21 July 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s