Model Pendidikan Politeknik

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Antara pendidikan S1 dengan diploma politeknik memang berbeda. Pendidikan S1 lebih cocok dikatakan sebagai jalur akademik, sedangkan jalur diploma merupakan jalur profesional (praktis). Perbedaan lainnya adalah metode prekuliahan. Di S1 sistem perkuliahan mendalami berbagai macam ilmu secara mendalam dan komperhensif, dan lebih terkonsentrasi pada berbagai teori-teori. Sedangkan pada model pendidikan diploma seyogiyanya, yang lebih diperkuat justru pemahaman-pemahaman praktis, bagaimana mengejewantahkan teori yang dipelajari ke dalam sebuah aktivitas yang konkrit. Jadi kalau pada pendidikan diploma praktik lebih besar dibandingkan dengan teori (60 : 40) dan sebaliknya di jalur S1, teori lebih besar dibandingkan praktik (40 : 60).

Karena pada prinsipnya pendidikan diploma adalah pendidikan untuk jalur profesi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai variabel pembentuk kompetensi para lulusannya. Variabel tersebut antara lain, attitude (sikap, mental, dan etika termasuk konteks profesi), skill (cakap,dan kemampuan beradaptasi pada kompetensi positif) dan knowledge (kemampuan dan pemahaman). Variabel lain yang tak kalah penting adalah leadership (kepemimpinan), dalam hal ini ia tak harus menjadi pejabat (leader) namun selalu menjadi  trend setter (pembuat trend) di tempat ia bekerja. Dalam banyak istilah, model ini biasa disebut dengan “ASK to Lead”. Dukungan dari attitude, skills dan knowledge akan sangat membantu para lulusan diploma untuk menjadi  trend setter ditempat kerjanya (leadership).

Varibel-variabel di atas pada dasarnya merupakan sebuah terjemahan dari aspek andragogi sistem (sistem pendidikan orang dewasa) yang dipakai secara umum di Indonesia, yakni afektif, kognitif dan psikomotorik. Attitude mencerminkan aspek apektif, knowledge mencerminkan kognitif dan skills mencerminkan psikomotorik. Keempat variabel tersebut tentu masing-masing memiliki tingkat signifikansi yang berbeda. Sangat tergantung dengan masing-masing jenjang pendidikan. Tetapi dengan melihat proporsi kualifikasi yang ingin dicapai masing-masing jalur pendidikan, tentu kita dapat segera membuat prediksi. Misalnya karena S1 merupakan jalur akademik, aspek pengayaan pengetahuan mendapat skala prioritas terbesar, menyusul pembentukan prilaku (pola laku dan pola sikap) menjadi skala prioritas kedua dan aspek psikomotorik pada urutan berikutnya. Dalam studi-studi manajemen model pendidikan seperti ini dirancang untuk melahirkan orang-orang dengan kualifikasi keahlian konseptual (conceptual skills).

Sementara di sisi lain, jenjang pendidikan profesional justru lebih mengedepankan aspek psikomotorik atau kemampuan merealitakan pengetahuan yang diperoleh pada tataran praktis. Dalam hal ini aspek apektif mendapat proporsi yang hampir sebanding dengan psikomotorik. Tujuannya antara lain adalah agar terbentuk karakter profesional yang memiliki personal kompetensi yang ekuivalen dengan kualifikasi sosial dari masyarakat dan dunia industri. Sehingga kemampuan (skillfull) yang dimilikinya diimbangi dengan sifat adaptif tinggi. Dalam studi manajemen model pendidikan ini diarahkan untuk membentuk para profesional yang handal di administrative skills dan technical skills.

Lantas bagaimana implementasi kurikulum kedua model pendidikan  tersebut? Menurut Kepmen 232, kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian, penilaian yang digunakan sebagai pedoman belajar mengajar (pembelajaran). Dikaitkan dengan Kep. Mendiknas No. 045/U/2002 sebagai kesatuan dari Kep. Mendiknas No. 232/U/2000 tentang rambu-rambu kurikulum inti yang berlaku secara nasional dan Kep. Dirjen Dikti Depdiknas RI No. 38/DIKTI/Kep/2002 tentang rambu-rambu pelaksanaan mata kuliah pengembangan kepribadian di perguruan tinggi, maka sebaran mata kuliah diidentifikasikan dalam beberapa kelompok, seperti MPK (mata kuliah pengembangan kepribadian), MKK (mata kuliah keilmuan dan keterampilan), MKB (mata kuliah keahlian berkarya), MPB (mata kuliah prilaku berkarya), dan MBB (mata kuliah berkehidupan bermasyarakat).

Pembagian ini pada dasarnya mengadopsi dari the four pillars-nya UNESCO, yakni learn to learn (belajar untuk belajar), learn to do (belajar untuk melakukan sesuatu atau berkarya), learn to be (belajar untuk memiliki kepribadian  dan memili prilaku untuk berkarya) dan learn to live together (belajar untuk hidup bersama).Jika kembali dikaitkan dengan aspek andragogi di atas, maka MKK, MPK dan MKB merupakan muatan aspek kognitif, MBB merupakan muatan afektif dan MPB merupakan muatan psikomotorik.

Dari sini proporsi jumlah mata kuliah bisa didesign mengikuti pola yang diinginkan. Bagi pendidikan diploma misalnya, tentu saja konsentrasi harus lebih banyak di psikomotorik, dalam hal ini porsi lebih besar harus diberikan untuk mata kuliah prilaku berkarya (MPB), seiring dengan itu dua aspek lainnya harus didesign mengikuti dan mendukung MPB sebagai pilar utama. Institusi pendidikan yang berwawasan ke depan tentu harus memperhatikan hal ini, karena implementasi kurikulum akan lebih terarah dan menjadi lebih tepat sasaran. Tidak mengawang-awang dan serba tanggung. Para mahasiswa juga akan mendapatkan gambaran yang jelas, kompetensi apa yang akan dimilikinya ke depan jika masuk ke suatu institusi pendidikan.

Agar pendidikan dan dunia industri serta masyarakat terjadi link and match, langkah-langkah strategis penyusunan kurikulum yang akan disebarkan melalui the four pillars UNESCO misalnya, harus disinergikan dengan keingian pasar (market oriented). Urutan langkah-langkah strategis tersebut misalnya dimulai dari, mengidentifikasikan profesi yang ada di masyarakat, mengetahui kualifikasi yang dibutuhkan, mengetahui kompetensi yang dibutuhkan, selanjutnya menentukan jenjang pendidikan yang bisa menjawab persoalan yang ada (D1, D2, D3 dan D4). Selanjutnya dengan merujuk peraturan yang ada (Kepmendiknas 232/2000, Kepmediknas 045/2002, Kepdirjendikti Depdiknas No 038/2002 dan lain-lain) disusunlah kurikulum, yang benar-benar berbasis kompetensi. *

Dimuat di Harian Medan Bisnis (23 Maret 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s