Muktamar NU

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Menjelang muktamar, kontroversi sudah mengerucut pada sosok KH Hasyim Muzadi. Apakah ia akan dipilih kembali untuk memimpin NU lima tahun ke depan, atau harus dipilih tokoh baru? Gara-gara mencalonkan diri sebagai wakil presiden (berpasangan dengan Megawati) dalam pemilu lalu, maka Pak Kiai yang satu ini banyak dihujat di kalangan muktamirin sendiri. Intinya, ia dituding telah menyeret NU ke kancah politik praktis. Padahal sejak Muktamar Situbondo NU sudah bulat untuk kembali ke khittah, menjauhi politik praktis.

Tapi mengapa Hasyim Muzadi sampai nekat? Pada titik inilah justru muncul kontroversi yang tak habis-habisnya. Atas tudingan itu, Hasyim mengemukakan bukti tertulis bahwa niatnya ke Istana Negara itu telah beroleh restu para kiai.

Begitulah memang iklim NU sepanjang sejarahnya. Termasuk keterlibatannya yang aktif sepanjang persiapan berdirinya negara ini. Kondisi seperti itu baru berubah pada masa Soeharto, di mana Mukti Ali dan bahkan Alamsyah Ratu Prawiranegara diangkat menjadi Menteri Agama, padahal pos tersebut sebelumnya selalu menjadi jatah kiai NU.

Berubahnya sikap politik pemimpin nasional terhadap NU itulah yang kemudian meluluskan usulan kembali ke khittah sehingga diterima dengan baik dalam Muktamar Situbondo.

Tapi persoalan ternyata tidak selesai begitu saja. Terjadinya perubahan besar dalam kehidupan ketatanegaraan kita setelah Soeharto diturunkan, menyebabkan para kiai NU dengan sungguh-sungguh menyampaikan tafsir-tafsir baru. Intinya menunjukkan bahwa godaan politik tidak bisa dilenyapkan begitu saja. Dibentuknya PKB, serta terpilihnya Gus Dur menjadi presiden menyebabkan tafsir politik para kiai makin bervariasi.

Hasyim Muzadi hanya salah satu saja di antara banyak kiai yang memiliki visi serta pandangan sendiri. Kebetulan dalam hal ini ia berbeda dengan Gus Dur. Jika Gus Dur memiliki darah biru sebagai pewaris sah keberadaan NU, Hasyim Muzadi berasal dari makom yang lain. Ayahnya hanya pedagang tembakau biasa. Tapi justru karena latar belakangnya yang demikian itulah keberhasilannya menjadi orang pertama di NU menimbulkan kekaguman tersendiri. Dibesarkan dalam tradisi nahdliyin yang kental, Hasyim pasti paham betul bagaimana politik atau kekuasaan memiliki pengaruh besar dalam tradisi Islam.

Muktamar NU Boyolali kali ini berlangsung di tengah iklim politik yang sedang berubah. Hasyim Muzadi, dengan segala keterbatasannya tentu saja, sedang berada di tengah pusaran. Di satu sisi ada pusaran yang intinya ingin menekankan dominannya posisi kiai, khususnya dari garis keturunan KH Hasyim Asy’ari yang secara tradisional ditempatkan sebagai “pemilik” NU. Dari sisi lain muncul pusaran yang berbeda yang menawarkan isu-isu demokratisasi yang lebih liberal. NU sudah terbiasa terombang-ambing dalam pilihan yang tidak mudah seperti itu. Tapi bagi orang luar, pertanyaannya hanya satu, mengapa para kiai selalu tergoda oleh politik?***

Dimuat di Harian Medan Bisnis ( 1 Desember 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s