Paradigma Baru Dunia Pendidikan

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Kini pendidikan bukan lagi sekedar bagian aktivitas sosial dimana “akal dan budi” diasah, ditempa dan dimatangkan. Secara eksplisit ide tentang pendidikan atau lebih populer dengan istilah pembelajaran, saat ini tertumpu pada beberapa isu strategis, dalam konteks menjawab bagaimana menghasilkan lulusan pendidikan tinggi, yang benar-benar sesuai dengan  kebutuhan pasar kerja (dunia industri).

Untuk sementara para pakar pendidikan sepakat, persoalan tersebut dapat terjawab ketika institusi pendidikan tinggi mampu mencetak lulusan-lulusan dengan standar kompetensi sesuai kebutuhan pasar.

Dalam defenisi versi sebuah konsultan pendidikan di Amerika Serikat, JGN Consulting Denver, kompetensi (competancy) diartikan sebagai kemampuan individual dalam mendemonstrasikan keilmuan, keahlian ataupun kemampuan dengan standar yang spesifik. Kompetensi harus terukur, dan bisa dilihat secara konkrit, serta dapat demonstrasikan dalam konteks pekerjaan, keorganisasian dan aktivitas lainnya. Kompetensi juga digunakan sebagai parameter dalam mengukur tingkat profesionalitas seseorang.

Kompetensi menjadi semakin penting manakala paradigma pendidikan sebagai kebutuhan sosial  telah digeser oleh berbagai motivasi ekonomis, dimana pendidikan dilihat dari sisi investasi, untung rugi dan efisien atau tidak efisien.

Perubahan paradigma ini sekaligus merubah design pendidikan, dari pendidikan untuk anak kepada orang dewasa,  sepanjang hayat dan lebih gradual. Ilmu pengetahuan yang bersifat instan semakin dibutuhkan, karena lebih praktis dan efisien. Selain itu konteks perubahan juga dapat dirasakan pada orientasi proses pendidikan, tadinya terpusat pada guru atau dosen sekarang justru terpusat pada murid atau mahasiswa. Mirip seperti di dunia pemasaran, pada awalnya orientasi pada produk kemudian berubah ke konsumen.

Perkembangan teknologi informasi, juga mempengaruhi pendidikan. Kini tatap muka tidak lagi harus di dalam kelas, dengan fasilitas internet saat ini banyak universitas telah mengembangkan suatu metode belajar jarak jauh (distance learning). Artinya proses pendidikan tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, dengan internet belajar dapat dilakukan kapan saja, dimana saja dengan siapa saja, dan topik apa saja. Tergantung selera dan kebutuhan yang bersangkutan.

Hal lain yang mewarnai trend dunia pendidikan adalah perubahan, dari pendidikan umum ke arah pendidikan yang lebih spesifik (kejuruan). Tidak hanya sampai di sini trend pendidikan juga berubah dari pendidikan yang bersifat teoritis ke pendidikan praktis, dari pengetahuan satu disiplin ke multi disiplin lalu kepengetahuan yang terintegrasi.

Tadinya ilmu dipandang sebagai suatu kebenaran, namun kini ilmu hanya sebagai relativitas. Belajar hapalan berubah menjadi belajar reflektif. Dari kurikulum klasik berubah menjadi program dan paket-paket. Belajar sebagai proses berubah menjadi belajar sebagai muatan (content).

Lantas apa yang harus dilakukan oleh institusi pendidikan tinggi dalam menyikapi hal ini? Bagi institusi yang dinamis dan mementingkan kualitas,  mereka pasti akan melihat ada banyak hal yang harus dilakukan. Paling tidak dunia pendidikan harus melakukan restrukturisasi misi dan visi masing-masing. Jarvis P mengatakan, institusi pendidikan yang baik, adalah institusi pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Dalam memenuhi aspek kebutuhan masyarakat, ada beberapa hal penting yang harus dilakukan oleh institusi pendidikan. Pertama, institusi pendidikan harus mampu mengidentifikasikan kebutuhan masyarakat secara umum (societal needs). Ini meliputi bagaimana trend masyarakat dimana institusi pendidikan tersebut eksis. Beberapa hal dapat dicermati antara lain, apakah perkembangan masyarakat jauh lebih dinamis dibandingkan dengan perkembangan institusi pendidikan. Kemudian sejauh mana perubahan-perubahan paradigma yang telah diuraikan di atas terjadi di masyarakat.

Kedua, kebutuhan masyarakat secara spesifik dapat diidentifikasikan dari kebutuhan dunia industri (industrial needs). Di sini institusi pendidikan harus mengetahui kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja seperti apa yang dibutuhkan dunia industri, berapa jumlah yang dibutuhkan, dan harus dipikirkan aspek-aspek alternatif yang di-design secara proaktif, seperti subtitusi tenaga kerja atau komplementer apa yang dibutuhkan. Ringkasnya segmen yang dibidik harus jelas.

Ketiga adalah mengetahui dengan tepat apa kebutuhan para profesional (professional needs). Dalam hal ini, institusi pendidikan tinggi harus menyediakan kompetensi yang dibutuhkan, sehingga ketika mereka menamatkan pendidikan mereka benar-benar dapat menjawab kebutuhan pasar. Tidak pada tempatnya lagi mengajarkan mahasiswa dengan pengetahuan yang out of date, dan telah ditinggalkan oleh user. Idealnya dunia pendidikan harus selangkah lebih maju dari dunia industri, sehingga begitu tamat, pengetahuan para lulusannya masih up to date.

Berangkat dari ketiga aspek tersebutlah harusnya visi dan misi institusi pendidikan tinggi dibentuk. Selanjutnya dijabarkan melalui rencana-rencana strategis (renstra) baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Berhasil tidaknya implementasi baik visi, misi maupun renstra tentu saja sangat dipengaruhi dari rancangan kurikulum program studi dan kemampuan dalam memberikan segala fasilitas pendukung yang dibutuhkan dosen dan mahasiswa dalam proses belajar mengajar.

Sayangnya kita masih mendapati banyak institusi pendidikan yang mengabaikan berbagai aspek, seperti yang diuraikan di atas. Otomatis kompetensi juga terabaikan. Ketika kompetensi terabaikan, maka wajar ketika dunia industri menolak menggunakan tenaga mereka, karena hanya akan menjadi beban perusahaan.

Lagi-lagi kita mendapati bahwa kampus-kampus kini lebih berorientasi bisnis. Sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah, jika saja institusi pendidikan mengimbanginya dengan peningkatan kualitas pendidikan. Kenyataannya, bukan kualitas yang ditingkatkan, tetapi malah ijazah yang diobral. Kampus menjadi tempat para dosen menguber setoran dengan jam mengajar yang dipadat-padatkan. Padahal kampus adalah tempat mahasiswa belajar bukan tempat dosen mengajar!

Dimuat di Harian Medan Bisnis (23 Maret 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s