Pembantaian Terus Berlanjut

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Nyaris tiada bumi berputar tanpa gugur dan cederanya umat Islam. Pilunya, para penguasa di negeri-negeri Muslim bukannya mencegah dan menghentikannya, tapi cenderung diam, bahkan terindikasi mendukung pembantaian dan penzaliman umat Islam. Di Irak tentara AS makin brutal membantai warga sipil, termasuk mereka yang sedang shalat di mesjid seperti yang terjadi di Samarra.

Ini perulangan tragedi di Karbala, Najaf, dan lain-lain, di mana iringan pengungsi diberondong senjata mesin dan bom pesawat AS. Di Palestina, Israel berkali-kali memberondong permukiman Muslim, baik di Yerusalem, Jalur Gaza, Tepi Barat, maupun di daerah perbatasan dengan Yordania, Suriah, dan Mesir.

Itu menambah daftar ribuan Muslim yang terbantai saat puncak invasi di Irak, Afghanistan, Palestina, Chechnya, dan sebagainya. Sedihnya, umat Islam tak cuma terzalimi oleh negara-negara imperialis. Tapi juga, dikhianati dan dizalimi penguasa negerinya. Di Uzbekistan tahanan-tahanan politik disiksa dan dibunuh penguasa tiran, Karimov. Dia mantan anggota Politbiro Partai Komunis Uni Soviet, segenerasi dengan Mikhail Gorbachev.

Adalah pertanyaan besar mengapa tragedi-tragedi ini tidak segera bisa dihentikan para penguasa Muslim. Padahal, kejahatan Barat sudah lebih jelas dari sinar mentari di siang hari. Bukti-bukti Israel melanggar Resolusi PBB, perjanjian dengan pihak Palestina dan perbatasan negeri lain telah begitu banyak. Bukti-bukti pembantaian mereka dan sekutunya, AS juga demikian, di mana banyak korban merupakan warga sipil, perempuan, dan anak kecil.

Penjajahan Irak dibiarkan walau bukti kepemilikan senjata pemusnah massal rezim Saddam Hussein tidak pernah ditemukan, malah CIA (Dinas Intelijen Pusat AS) telah mengakui bahwa penjualan uranium dari Niger kepada Saddam tidak terbukti.

Masalah terpenting adalah mengapa perhatian umat Islam amat minim, termasuk ulama serta politisi Muslim baik di partai berazas Islam maupun bukan. Barangkali, karena telah rutin terjadi, maka gugurnya satu, beberapa atau puluhan Muslim di Palestina, Irak, dan sebagainya tidak lagi dianggap suatu masalah, sebagaimana maraknya korupsi, kolusi, nepotisme, pornografi, dan lain-lain.

Politisi yang pada awalnya sudah alergi dengan Islam tentu makin berani menzalimi Muslim. Mereka bisa saja menyatakan dirinya seorang nasionalis dan cinta tanah air, namun mustahil perasaan itu dimiliki oleh orang yang suka menjual aset negara dan membiarkan rakyat tercekik kenaikan tarif infrastruktur dasar, seperti listrik dan air, agar investor asing selalu untung.

Umat Islam sudah selayaknya memiliki kesadaran politik yang lebih tinggi, melampaui kepentingan diri dan partai, mencakup eksistensi umat Islam sedunia. Umat juga harus berani membongkar persekongkolan para penguasa di dunia Muslim dengan penjajah Barat, membeberkan itu kepada rakyat, lalu mengganti mereka. ***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (19 Mei 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s