Penghargaan

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Presiden SBY beberapa waktu lalu diberitakan akan memberikan penghargaan kepada beberapa pihak yang berjasa dalam menangani akibat bencana alam gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Sumatra Utara. Mereka yang akan diberi penghargaan antara lain relawan, Polri, dan TNI. Penghargaan ini diberikan dalam tahun 2005 yang dicanangkan sebagai Tahun Kesetiakawanan Sosial.

Bencana gempa dan tsunami ini mengagetkan dunia dan rakyat RI. Hampir semua warga dunia menganggap tidak akan pernah ada bencana yang memakan korban lebih banyak daripada bencana letusan Krakatau 1883 yang menelan korban 36.000 jiwa dan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II lalu yang menghanguskan 100.000 orang Jepang.

Semuanya terpupus. Bencana tsunami kali ini demikian supermasif. Kalaulah ada kesan terlambat dalam menangani, wajar saja. Tetapi mudah-mudahan itu hanya kesan. Sebab kapasitas sumberdaya penanganan bencana kita tidak pernah diasumsikan untuk menghadapi bencana superhebat ini. Dalam bahasa Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, bencana ini unprecedented, karena itu penanganannya pun harus dalam skala unprecedented.

Bencana ini tentu juga sangat memukul TNI/Polri. Ribuan anggota TNI dan Polri beserta keluarganya gugur dan hilang. Dalam keadaan kehilangan besar ini, toh aparat diminta tetap tegak memberikan pertolongan pertama kepada para korban. Selayaknya semua pihak berdiri dan memberikan penghormatan kepada TNI dan Polri yang dalam keadaan galau, tetap memberikan pertolongan.

Memang di mana pun juga di dunia ini, ekspektasi kepada militer demikian tinggi. Militer adalah organisasi lengkap. Dia punya satuan komunikasi, logistik, kesehatan, zeni, dan kemampuan menerobos medan berat. Semua potensi ini berada dalam garis komando yang efektif. Di masa perang, potensi ini digunakan ntuk memerangi musuh dan mempertahankan negara.

Tudingan bahwa TNI/Polri lambat bergerak di Aceh, terbantahkan. Mereka sejak awal sudah bergerak kendati mereka juga merupakan korban. Hanya sarana informasi dan komunikasi menyebabkan mereka tidak terekspos. Inilah yang menyebabkan munculnya tudingan bahwa TNI dan Polri lambat. Syukur, setelah semuanya hampir pulih, semua tahu bahwa mereka tetap tegar.

Karena itulah kita patut berdiri dan memberi hormat kepada TNI dan Polri. Dalam keterbatasan, jasa mereka yang kita nilai luar biasa dalam menangani bencana di Aceh.

Kehadiran relawan di Aceh juga menunjukkan bahwa ternyata solidaritas kita masih ada dan mudah-mudahan bisa tetap terpelihara menghadapi kondisi sulit yang dihadapi warga di tempat lain. Ribuan relawan mengalir ke Aceh. Ini menunjukkan bahwa warga di luar Aceh tidak pernah meninggalkan Aceh, apa pun persoalan di Tanah Rencong ini.

Dalam situasi liberal individualistik, kita senantiasa memerlukan figur-figur heroik yang memelopori sebuah pengorbanan besar. Karena itu, kita menyambut baik rencana pemberian penghargaan kepada TNI/Polri dan relawan. Semoga pengorbanan mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa ini.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (20 Januari 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s