Penolakan Hasil Pemilu

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Mendengar 19 parpol angkat bicara menolak hasil pemilu dan menghendaki dilaksanakannya pemilu ulang, saya jadi teringat masa kanak-kanak. Waktu main petak umpet, ataupun main kelereng. Ketika itu, kalau ada teman yang curang, kita pasti marah-marah dan minta permainan diulang. Permintaan mengulang suatu permainan juga kerap dilakukan ketika kita kalah.

Berbagai alasan dilontarkan, curang, belum siap dan sebagainya. Padahal sebenarnya mencari dalih untuk menciptakan suatu peluang baru, di mana kekalahan itu mungkin diubah menjadi suatu kemenangan. Yang empuk adalah kalau lawan main kita adalah anak yang lebih kecil atau kepintarannya agak di bawah kita. Atau teman kita itu kebetulan orang yang juga kurang disukai oleh teman-teman lainnya, dan “tidak punyak kawan”. Dan kalau kita ingat-ingat, betapa mudahnya mempengaruhi sesama teman yang kalah untuk meminta permainan diulang.

Nah, penolakan 19 parpol ada miripnya dengan pengalaman masa lalu ini. Parpol-parpol yang kalah, menggugat hasil penghitungan suara. Kebetulan hasil sementara menunjukkan partai yang dijadikan common enemy (musuh bersama) dan dinilai gagal masih bertengger pada urutan puncak. Padahal menurut hitung-hitungan mereka, hal ini agak tak masuk di akal.

Sungguh suatu sikap yang sangat disayangkan, sebab mereka kini bukan lagi anak-anak, dan pemilu juga bukan seperti main kelereng atau petak umpet. Pemilu adalah sebuah “permainan” serius orang-orang dewasa, karena di sana ditentukan nasib, arah dan hitam-putihnya perjalanan bangsa ini ke depan. Kita tentu sependapat,  menolak pemilu adalah hal yang naif, karena energi dan biaya yang akan keluar luar biasa besarnya. Selain itu penolakan terhadap pemilu juga berpeluang memperkeruh keadaan dan memicu kondisi chaostic kehidupan berbangsa. Lihat saja, baru saja wacana penolakan pemilu dilontarkan, indeks saham langsung rontok, rupiah melemah dan dahi para investor berkerut rapat. Kita juga sangat sependapat, menolak hasil pemilu sama saja dengan menghina rakyat.

Memang benar, masih terdapat banyak kekurangan pada pelaksanaan pemilu legislatif yang baru usai dilaksanakan, mulai dari urusan logistik hingga minimnya sosialisasi. Demikian juga soal kecurangan dalam pemilu, kita akui pemilu kali ini juga belum bersih dari money politic, manipulasi suara, jual beli kertas suara dan lain-lain. Tapi, kita harus membuka mata dan logika, meskipun pemilu kali ini masih jelak, toh pemilu-pemilu terhadalu jauh lebih jelek. Paling tidak, pemilu kali ini merupakan momentum di mana rakyat menjadi lebih berdaulat. Soal berbagai kekurangan, bukankan tak ada gading yang tak retak? Jadi selesaikan saja lewat jalur hukum.

Seperti mendirikan sebuah bangunan, prosesnya juga dilakukan secara bertahap. Kita memulainya dari membuat pondasi yang kokoh, mendirikan pilar-pilar dan rangka, membuat atap, dan seterusnya. Insyaallah, pemilu kali ini merupakan sebuah pondasi, bagi pemilu yang benar-benar jujur, adil, dan cerdas di hari depan kelak.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis ( 14 April 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s