Pilpres Putaran II

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Hasil pemilihan presiden putaran pertama sudah diumumkan oleh KPU. Seperti diduga dan sesuai dengan hasil penghitungan quick count, pasangan SBY-JK dan pasangan Mega-Hasyim yang maju ke putaran kedua.

Berbagai peristiwa menandai penyelenggaraan pilpres putaran pertama ini. Kekurangan memang terjadi di sana-sini dan itu rasanya wajar. Ada yang masih menjadi persoalan hukum seperti keluarnya surat edaran KPU persis tanggal 5 Juli untuk mengantisipasi pencoblosan ganda. Ada pula kasus kegagalan pemilihan ulang di Pondok Pesantren Al Zaytun, geger hasil quick count dan tudingan intervensi pihak asing, sampai dengan penolakan hasil penghitungan suara.

Puncak dari semua itu adalah ledakan bom di Gedung KPU. Walaupun ledakan itu berkekuatan kecil, namun hentakan peristiwanya akan cukup kuat karena pasti akan muncul berbagai penafsiran di balik peristiwa ini. Juga akan memberikan warning tentang berbagai kerawanan menghadapi pilpres putaran kedua. Dan salah-salah akan direaksi secara negatif oleh pasar.

Terlepas dari berbagai kekurangan itu, sebaiknya kita bersyukur karena secara keseluruhan proses pilpres putaran pertama sudah bisa diselesaikan dan ditetapkan hasil-hasilnya. Kendati ada peningkatan jumlah golput dan penurunan partisipasi pemilih, namun tidak sampai mengurangi legalitas hasil.

Sekarang sebaiknya kita segera berkonsentrasi mempersiapkan putaran kedua tanggal 20 September mendatang. Soalnya sudah tinggal separo jalan. Ini menyangkut pekerjaan besar dan pertaruhan citra di mata internasional. Bagaimanapun bangsa ini harus mampu menunjukkan kemampuannya berdemokrasi.

Termasuk bagaimana menghadapi fenomena peningkatan jumlah golput yang diperkirakan bakal lebih besar lagi pada putaran kedua. Pada putaran pertama jumlahnya sekitar 34 juta orang. Terhadap masalah ini kita sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Ketua Umum PAN Amien Rais, yang juga Ketua MPR bahwa golput merupakan sikap yang justru tidak produktif. Bisa menguntungkan salah satu calon dan sebaliknya merugikan calon lainnya. Maka tanpa bermaksud menghalangi sikap golput yang sah-sah saja dalam demokrasi, perlu kiranya hal itu dipikirkan ulang.

Putaran kedua merupakan bagian tak terpisahkan dari putaran pertama. Tanpa putaran pertama tak akan ada putaran kedua, dan tanpa putaran kedua, maka putaran pertama tak ada artinya, karena pemilu itu belum selesai. Atas dasar inilah diminta kesungguhan kita bersama untuk mendukung persiapan dan pelaksanaan pemilu presiden putaran kedua. Termasuk bagaimana mengatur pola kampanye yang diusulkan untuk diperpanjang dari tiga hari menjadi sebulan penuh. Di tingkat elite pastilah terjadi polarisasi baru yang mengarah ke koalisi dan politik dagang sapi untuk pembentukan kabinet dan perimbangan kekuatan di parlemen. Di tingkat akar rumput, dua finalis akan berusaha meraih simpati dan dukungan. Sedangkan rakyat akan menentukan pilihan akhir sesuai dengan hati nuraninya.***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (28 July 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s