Subsidi yang Adil

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Hingga kemarin pro dan kontra menanggapi kenaikan BBM (pertamax dan elpiji) terus bergulir. Yang menentang menyebutkan kenaikan BBM akan menekan pendapatan riil masyarakat. Sedangkan pihak yang mendukung mencoba mengupas dari sisi positifnya, yakni kenaikan BBM via pencabutan subsidi adalah momentum menegakkan keadilan ekonomi, terutama dalam meninjau kembali pendistribusian subsidi pemerintah.

Adalah benar jika dikatakan kebijakan mengenai BBM telah menempatkan pemerintah dalam situasi dilematis. Jika subsidi dicabut, dampak kenaikan harga BBM akan sangat nyata bagi kalangan ekonomi lemah. Sebaliknya, bila subsidi tidak dicabut, negara akan menanggung beban anggaran yang berat, yang pada gilirannya juga berarti menjadi beban rakyat.

Namun di atas semua itu ada satu hal yang penting yang dikedepankan, yakni pemahaman bersama apa sebenarnya maksud dan tujuan pemerintah memberikan subsidi. Hakikatnya, subsidi adalah untuk meringankan beban masyarakat golongan ekonomi lemah. Tetapi kenyataan yang terjadi, sebagian besar subsidi BBM tersebut justru dinikmati oleh masyarakat golongan menengah ke atas.

Hal itu bisa dilihat dari perbandingan jumlah kendaraan pribadi yang jauh lebih banyak dibanding kendaraan umum, yang mencapai sekitar 20:2. Artinya, selama ini pemerintah juga telah memberi subsidi BBM terhadap konglomerat, pengusaha, para eksekutif yang bergaji puluhan juta rupiah per bulan, dan masyarakat golongan menengah ke atas lainnya.

Kenyataan itu sesungguhnya merupakan bagian dari ketidakadilan sosial yang dibiarkan terus berlangsung. Namun demikian, kenyataan pula bahwa pencabutan subsidi BBM yang berarti harga minyak naik akan menciptakan dampak lanjutan yang sangat besar. Dengan pertimbangan di atas itu berarti kebijakan SBY menaikkan harga Pertamax, Pertamax Plus dan Elpiji masih dapat diterima.

Pertamax dan Pertamax Plus adalah jenis bahan bakar yang biasa dikonsumsi kalangan atas untuk kendaraan-kendaraan mewah. Dengan cara ini, pemerintah akan mendapatkan dana atau keuntungan yang cukup signifikan dari harga jual dua jenis BBM ini. Kenaikan harga ini sama sekali tidak akan berdampak pada rakyat kecil karena pengguna dua jenis BBM itu adalah kalangan masyarakat kelas atas. Keuntungan yang tinggi dari selisih harga Pertamax dan Pertamax Plus tersebut bisa digunakan untuk tambahan dana subsidi BBM jenis lainnya. Kalkulasi yang sama juga bisa dikonversikan pada kenaikan harga Elpiji.

Persoalanya tentu akan lain bila kemudian pemerintah juga menaikkan BBM lainnya seperti bensin, minyak tanah ataupun solar. Karena dapat dipastikan dampaknya akan sangat luas kepada masyarakat dan benar-benar memukul sektor riil.

Beberapa hari ke depan yang perlu dilakukan pemerintah adalah menertibkan reaksi pasar yang over acting dengan kenaikan BBM yang telah ditetapkan. Pemerintah harus melihat korelasi yang tidak sepatutnya dilakukan pasar dan melakukan antisipasi sedini mungkin. Bila perlu pemerintah membentuk sebuah badan pengawas yang melibatkan berbagai komponen masyarakat.

Dimuat di Harian Medan Bisnis (22 Januari 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s