Welcome Demokrasi!

Oleh Edy Sahputra Sitepu

Pemilu 5 Juli ini dinilai sebagai koreksi terhadap pelaksanaan pemilu selama republik ini berdiri. Serta jadi pembuktian, bahwa negara kepulauan seluas Indonesia bisa pula melaksanakan model demokrasi negara-kota Athena.

Negara kontinental seperti Amerika Serikat punya tradisi kuat menyelenggarakan demokrasi langsung. Akan tetapi belum ada yang sekolosal Indonesia. Bahkan pemantau dari Uni Eropa tak sungkan menyebut Pemilu 2004 sebagai pesta demokrasi paling kompleks di jagad.

Demokrasi, memberikan berbagai kesempatan untuk mencegah pemerintahan kaum otokrat yang kejam dan licik, menjamin sejumlah hak asasi yang tidak diberikan dan tidak dapat diberikan sistem tidak demokratis, membantu rakyat melindungi kepentingan dasarnya, menggunakan kebebasan menentukan nasibnya sendiri, menjalankan tanggung jawab moral, menjamin persamaan politik, serta cenderung memakmurkan negara-negara yang menggunakan sistem ini.

Sebagai sistem, demokrasi sangat akuntabel. Ia memungkinkan kontrol, evaluasi dan bahkan pembubaran terhadap dirinya sendiri. Akan tetapi semua kata akhir diputuskan oleh rakyat, dan bukan golongan arisktokrat atau teokrat. Demokrasi dapat disentuh semua pihak, tak terkecuali orang tak melek huruf, memiliki kendala fisik serta papa,  berbeda dengan sistem monarki dan aritokrasi.

Proses elektoral, seperti Pilpres 5 Juli 2004, adalah kemewahan di balik labirin celah ketidasempurnaan semua sistem politik yang ada. Sistem demokrasi langsung paling kurang mengubur peluang kongkalikong elite yang kerap mengakali rakyat setiap kali pemilu.

Kandidat yang tersedia pastilah tak pernah ideal, setidak idealnya sistem demokrasi itu sendiri. Paling kurang, demokrasi langsung, memberi keleluasaan pada rakyat untuk menentukan sendiri siapa tokoh yang akan menakhodai bangsa ini lima tahun ke depan. Demokrasi langsung mampu menerjemahkan kepada siapa suara rakyat diberikan. Presiden terpilih nanti akan lebih mandiri dari rongrongan para pelancong politik yang oportunis.

Tanggung jawab pemilih adalah mencari pemimpin yang kira-kira mampu membawa perubahan bagi bangsa kita dan bukan pada keberlangsungan sistem itu. Output proses elektoral adalah meletakkan amanat kekuasaan pada tiga cabang kekuasaan Montesquei, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Siapa yang terpilih berhak atas kekuasaan.

Sebuah kepemimpinan akan efektif sangat bergantung pada jalannya tiga kekuasaan tersebut. Sebuah kekuasaan hanya dapat dikontrol (check and balances) dengan kekuasaan pula. Inilah jawaban yang tersedia dalam sistem demokrasi hingga abad ke-21.

Rakyat telah menggunakan hak politiknya. Pekan-pekan mendatang kita bakal menyaksikan kepada siapa amanah itu diberikan. Kalaulah tidak ada pemenang mayoritas dalam pemilu 5 Juli ini, rakyat kita harapkan tetap sabar menjalani pilpres tahap kedua. Demokrasi Indonesia membutuhkan partisipasi rakyat. Tanpa itu, nalar demokrasi langsung bakal kehilangan keabsahannya!***

Dimuat di Harian Medan Bisnis (6 July 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s