Memerangi Plagiarisme, Mengakhiri Era Copy Paste

Oleh: Edy Sahputra Sitepu

Pada awal tahun ini, Dikti telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) No. 152/2012 yang mewajibkan publikasi ilmiah sebagai prasayarat kelulusan mahasiswa. Untuk mahasiswa program S-1 diharuskan menerbitkan tulisan di jurnal ilmiah, S-2 di jurnal ilmiah nasional terakreditasi, dan S-3 di jurnal internasional.  Langkah ini merupakan penguatan lanjutan dari diterbitkannya Surat Edaran No 2050/2011 akhir tahun lalu yang mendorong agar karya dan jurnal ilmiah di-online-kan.

Upaya ini dilakukan dengan tujuan agar berbagai kegiatan ilmiah yang dilaksanakan, terutama berkaitan dengan penelitian dan publikasi ilmiah dapat ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya, serta terbangunnya sistem publikasi karya ilmiah yang lebih dapat dipertanggungjawabkan dan diakses masyarakat luas.

Yang lebih penting lagi, dengan penerbitan karya ilmiah pada jurnal ilmiah,baik oleh mahasiswa, dosen dan para peneliti, kemudian diunggah ke versi online, terciptalah sistem informasi data base karya ilmiah berbasis elektronik. Dengan begitu, berbagai karya ilmiah yang ada menjadi lebih terlindungi dari plagiarisme dan proses deteksi atas aksi penjiplakan dapat berlangsung lebih efektif dan terbuka. Tidak hanya menghindari plagiarisme, penjurnalan juga akan sangat membantu bagi para peneliti dalam mengembangkan dan memutakhirkan penelitian dengan ketersediaan informasi riwayat penelitian terdahulu secara lebih lengkap.

Meski menuai pro dan kontra, upaya dari Dikti ini tetap perlu mendapat apresiasi. Betapa tidak, sudah menjadi rahasia umum di negeri ini, bahwa praktik copy paste sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging.  Mulai dari artikel sederhana, artikel populer, artikel imiah, skripsi, tesis dan disertasi sebagian besar dipenuhi aroma plagiarisme.

Hal ini karena memang kita belum terbiasa dengan budaya menghargai karya orang lain, tidak adanya upaya melindungi karya sendiri, dan belum adanya sistem pengawasan terpada pada publikasi ilmiah yang ada. Alhasil, praktik copy paste yang notabene merupakan turunan dari budaya mencontek semakin tumbuh subur di setiap level pendidikan di tanah air.

Tentu saja budaya ini sangat merusak karena, cenderung melestarikan budaya malas belajar, malas mengembangkan ilmu dan melakukan penelitian. Orang-orang jadi berfikir, untuk lulus ujian tidak perlu belajar tapi mencontek saja sudah cukup, membuat karya ilmiah pun copy paste saja. Berfikir sangat instan dan tidak mau repot-repot. Sayangnya, para guru dan dosen yang menjadi ujung tombak pengembangan ilmu pengetahuan juga tidak luput dari budaya negatif ini. Berbagai penelitian dilakukan hanya sekedar untuk memenuhi syarat kenaikan jabatan dan pangkat saja. Soal kualitas dan orisinalitas, nanti dulu yang penting naik pangkat.

Beberapa contoh paling update belakangan ini terkait dengan plagiarisme tersebut antara lain;  sebagaimana yang terpublikasi  pada pemberitaan media yang mengungkapkan tiga calon guru besar yang diusulkan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) telah melakukan menjiplak karya ilmiah. Bahkan salah seorang calon menjiplak skripsi mahasiswa Universitas Padjadjaran hingga level titik dan koma.

Dalam kasus yang lain kasus plagiat yang dilakukan seorang mahasiswa S3 di ITB, yang kedapatan meng-copy paste sebuah makalah orang lain yang di presentasikan di seminar tingkat internasional pada tahun 2000. Kemudian makalah tersebut di presentasikan kembali atas namanya pada seminar yang serupa pada tahun 2008. Lain lagi, sebuah opini yang ditulis Anak Agung Banyu Perwita di sebuah media cetak di Jakarta pada November 2009 dinyatakan meng-copy paste tulisan Carl Ungerer di Journal of Politics and History, Australia.

Ini baru yang ketahuan, yang tidak ketahuan bisa dibanyangkan dan ditanya pada diri sendiri berapa lagi jumlahnya. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi pijakan kejujuran justru menjadi contoh bagaimana pencontekan dan plagiarisme dilakukan. Para pemegang gelar kesarjanaan yang seyogyanya menjadi panutan masyarakat pun justru memberi contoh yang sangat jauh dari harapan.

Contoh di atas memberikan cerminan yang jelas bagaimana buruknya sistem dan kualitas pendidikan yang ada di negara ini. Seorang mahasiswa tingkat doktor dari universitas terbaik di tanah air dan calon guru besar saja kedapatan melakukan plagiat, lantas bagaimana pula dengan para mahasiswa tingkat master yang tersebar di universitas kelas dua dan tiga di tanah air? Konon lagi mahasiswa tingkat sarjana atau diploma?

Harus diinsyafi, plagiarisme adalah penyakit yang harus diberantas.  Memang, di negara maju sekalipun praktik plagiarisme karya ilmiah juga belum bisa dibersihkan sepenuhnya. Namun upaya-upaya preventif intens dilakukan di Inggris, AS, Belanda dan sejumlah negara maju mungkin bisa kita adopsi untuk dilaksanakan di tanah air. Antara lain dengan mengadopsi software khusus untuk mendeteksi plagiarisme, dimana unsur plagiarisme ditoleransi maksimal 10 persen, lebih dari itu secara otomatis karya akan tertolak. Selain itu, para guru dan dosen tentu harus melakukan kembali dengan lebih tekun cara-cara tradisional, yakni membaca dengan teliti hasil karya tulis secara keseluruhan. Selain itu, bagi pihak yang merasa karya tulisnya telah ditiru pihak lain segera melapornya dan mengambil upaya hukum.

Pepatah mengatakan, mencegah lebih baik dari mengobati. Memerangi plagiarisme melalui jalur hukum, tentu kurang bijak bila tanpa didahului adanya sosialisasi yang cukup kepada pihak-pihak yang mungkin akan terkait dengan aksi plagiarisme. Pihak pengelola pendidikan khususnya perguruan tinggi tentunya harus berupaya meningkatkan kesadaran (awareness) dan mengedukasi sivitas akademik tentang larangan dan bahaya plagiarisme. Bentuk konkrit yang segera harus dilakukan mungkin pihak kampus/universitas  harus membuat panduan tertulis yang jelas tentang rambu-rambu plagiarisme.

Sebagai calon intelektual, kepada para mahasiswa sejak dini harus dijelaskan tenyang apa yang dimaksud dengan plagiarisme, batasannnya, kerugiannya, dan aturan hukumnya bila ada pelanggaran.  Demikian pula dengan para dosen, dalam berbagai kesempatan juga harus difasilitasi untuk mewaspadai dan menghindari plagiarisme demi nama baik pribadi, keluarga dan kampus. Hal ini dilakukan mengingat mungkin sebenarnya para mahasiswa demikian pula dengan dosen masih ada yang belum mamahami apa yang dimaksud dengan plagiarisme itu sendiri. Bila sosialisasi belum memadai, jika kemudian terjadi plagiarisme, maka pihak pengelola kampus juga harus ikut ikut bertanggung jawab, karena atas kelalaian mereka dan karena belum adanya aturan dan panduan yang jelaslah hal tersebut bisa terjadi.

Bila hal ini sudah dilakukan dengan baik, mungkin akan menjadi lebih fair bila pihak universitas, kampus dan pemerintah (Dikti) berkeinginan menegakkan hukum terkait dengan anti plagiarisme ini.

Misalnya penegakan secara hukum administrasi, Dikti perlu mendorong perguruan tinggi agar tegas dalam menerapkan sanksi administratif sebagaimana yang telah diatur dalam Permendiknas 17/2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat.  Lebih jauh, untuk memningkatkan efek jera, unsur pidana juga bisa dilibatnya dengan mempertimbangkan Pasal 24 dan Pasal 72 Undang Undang Hak Cipta.

Kita semua berharap berbagai langkah yang telah ditempuh Dikti baik, SE No. 152/2012 dan SE No. 2050/2011 akan memberikan titik balik bagi iklim akademik yang semakin kondusif, khususnya terciptanya produksi karya ilmiah yang berkualitas dan bebas dari plagiarisme. Sudah saatnya dunia pendidikan (khususnya pendidikan tinggi) kembali menegaskan jati dirinya sebagai lembaga yang mengedepankan keilmuan, moral dan kejujuran dimana bangsa ini bisa belajar.

  • Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan dosen di Politeknik Negeri Medan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s