TINJAUAN TENTANG KONSEP PENGEMBANGAN INDUSTRI MICE KOTA MEDAN

Abstrak

Industri MICE dewasa ini mengalami perkembangan pesat di Indonesia, hal ini ditandai dengan terpilihnya Indonesia sebagai tempat dan host pelaksanaan berbagai event internasional. Berbagai kegiatan MICE di tanah air umumnya terkonsentarasi di 10 kota utama seperti: Jakarta, Bali, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Surabaya, Medan, Manado, Semarang dan Batam. Tulisan yang berjudul “Tinjauan Tentang Konsep Pengembangan Industri MICE di Kota Medan” ini secara khusus mencoba menganalisis tentang keberadaan industri MICE di Kota Medan dan menelaah kebijakan dan konsep yang telah disiapkan dalam rangka pengembangan MICE. Kajian dilakukan dengan menggunakan analisis deskriprif dan mengeksplorasi kebijakan-kebijakan yang mungkin dilakukan Pemerintah Kota Medan dalam mengembangkan potensi industri MICE yang ada dengan mempertimbangkan keinginan berbagai stakeholder penting yang terlibat. Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa pegembangan MICE di Kota Medan sangat dipengaruhi oleh 1) dukungan kebijakan pemerintah dalam pemberdayaan dan MICE, 2) partisipasi dunia usaha (EO, PCE, PEO, Hotel, Restaurant, pengelola Convention) dan 3) partisipasi dunia pendidikan dalam menyediakan sumber daya manusia professional di bidang MICE.

Kata Kunci: Kebijakan, Pengembangan, MICE

Pendahuluan

Sejak tahun 2011 lalu Kota Medan Medan oleh pemerintah Indonesia telah ditetapkan sebagai kota metropolitan baru sekaligus sebagai salah satu dari 10 kota utama sebagai tujuan wisata MICE di Indonesia. Penetapan Kota Medan sebagai kota metropolitan baru menegaskan semakin penting dan strategisnya posisi Kota Medan dalam perpektif pembangunan dan pengembangan infrastruktur. Metropolitan dapat diartikan sebagai pusat populasi besar yang terdiri atas satu metropolis besar dan daerah sekitarnya, atau beberapa kota sentral yang saling bertetangga dengan daerah sekitarnya. Satu kota besar atau lebih dapat berperan sebagi hub-nya, Kota Medan misalnya, sejak lama menjadi hub bagi kota-kota penting lainnya di Sumatera Utara, seperti Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Karo (Mebidangro).

Sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara Kota Medan memiliki populasi terbesar dan menjadi epicentrum petumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Utara. Dari 33 kabupaten/kota total Penduduk Sumatera Utara adalah berkisar 13 juta penduduk, dan lebih kurang 3 juta penduduk (25% lebih) berada di Kota Medan. Demikian pula dari sisi PDRB, Kota Medan memberikan kontribusi terbesar dibandingkan kabupaten/kota lainnya yakni berkisar 30% dari total PDRB Provinsi Sumatera Utara.

Seiring dengan ditetapkannya Kota Medan sebagai kota metropolitan strategis, Kota Medan juga menjadi prime mover bagi pengembangan usaha dan industri MICE di kawasan barat Indonesia. Kota Medan diharapkan menjadi pendamping MICE destination lainnya seperti Bali, Jakarta, Manado, Makasar dan lain-lain. Apalagi bila ditinjau dari sisi capaian PDRB Kota Medan juga didominasi oleh sektor terkait MICE yakni sektor perdagangan, hotel dan restoran, dimana kontribusi sektor ini mencapai 26% dari PDRB Kota Medan, terbesar dari 9 sektor yang ada.

Tabel 1. Peranan Masing-Masing Sektor dalam PDRB Kota Medan

No Kelompok Sektor Kontribusi Terhadap PDRB (%)
2008 2009 2010 2011*
1. Primer (Pertanian & Pertambangan)

2,851

2,873

2,735

2,85

2. Sekunder (Industri, Listrik & Bangunan

27,934

27,261

26,503

27,00

3. Tersier (Perdagangan, Hotel, Restoran, Pengangkutan, Komunikasi, Persewaan, Jasa)

69,215

69,867

70,762

70,16

Jumlah

100,00

100,00

100,00

100,00


Pertimbangan penting lain yang menguatkan potensi Kota Medan sebagai kota MICE adalah keberadaan posisi Kota Medan yang strategis, sebagai salah satu pusat perdagangan baik regional maupun internasional.Kota Medan dapat dikatakan sebagai pintu gerbang wilayah barat Indonesia yang menjadi salah satu pilihan utama para wisatawan mancanegara yang akan berkunjung ke Danau Toba, Bukit Lawang, Berastagi dan Pulau Nias, sebagai 4 (empat) destinasi wisata yang sudah sangat dikenal di mancanegara.

Pada Tahun 2010 tidak kurang dari 150 ribu orang wisatawan mancanegara datang ke Kota Medan dan tahun 2011 jumlahnya diperkirakan tidak kurang dari 160 ribu orang.  Angka ini terus bergerak postif dari tahun-tahun sebelumnya. Bila dilihat dari variasi kebangsaan jumlah wisatawan yang berasal dari negara-negara ASEAN untuk kurun waktu 2006 hingga 2011 cenderung lebih dominan, terutama dari Malaysia, Singapura, dan Thailand yang menempati urutan pertama. Disusul wisatawan dari Eropa dan Asia masing-masing sebesar 15% dan 10%. Dilihat dari lamanya menginap wisatawan mancanegara di hotel bintang dan melati yang berada di Kota Medan, rata-rata menginap selama 1,5 hari.  Angka ini menunjukkan bahwa Kota Medan masih hanya sebatas pintu masuk bagi wisatawan mancanegara ke daerah wisata yang ada di Provinsi Sumatera Utara dan Aceh.

Besarnya sumbangsih dan peranan sektor tersier yang meliputi perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan, komunikasi, persewaan, jasa telah menjadi landasan dasar bagi perkembangan industri MICE di Kota Medan. Apalagi disisi lain pembangunan MICE di Kota Medan mendapat dukungan penuh dari kekuatan penting yang melekat pada pengembangan kebudayaan dan pariwisata yang telah dilakukan di Kota Medan selama ini. Berbagai kemajuan yang telah dicapai, untuk mendukung pengembangan MICE antara lain terpeliharanya kondisi aman dan damai yang diindikasikan antara lain dengan :

1)      Semakin berkembangnya pemahaman terhadap pentingnya kesadaran multikultural di Kota Medan,

2)      Tumbuhnya sikap saling menghormati dan menghargai keberagaman budaya yang ditandai dengan meningkatnya  persepsi masyarakat terhadap kebiasaan bersilaturahmi, meningkatnya persepsi masyarakat terhadap kebiasaan kegiatan gotong royong, serta persepsi masyarakat terhadap kebiasaan tolong menolong antar sesama warga yang kian baik,

3)      Semakin berkembangnya proses internalisasi nilai-nilai luhur, pengetahuan dan teknologi tradisional, serta kearifan lokal yang relevan dengan tata kehidupan bermasyarakat seperti nilai-nilai persaudaraan, solidaritas sosial, saling menghargai, serta rasa sense of belonging terhadap lingkungan,

4)      Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap hasil karya kreatifitas seni budaya  yang ditandai dengan meningkatnya penyelenggaraan event MICE seperti pelaksanaan berbagai pameran, festival, pegelaran, dan pentas seni, pemberian, pengiriman misi kesenian ke berbagai acara nasional dan internasional sebagai bentuk diplomasi/promosi kesenian Kota Medan,

5)      Tumbuhnya kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan  kekayaan dan warisan budaya yang ditandai oleh meningkatnya kesadaran, kebanggaan, dan penghargaan masyakarat terhadap nilai-nilai sejarah bangsa, meningkatnya upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan benda cagar budaya/situs, serta berkembangnya peran dan fungsi museum sebagai sarana rekreasi dan edukasi.

6)      Meningkatnya kerjasama yang sinergis antar-pihak terkait dalam upaya pengembangan nilai budaya, pengelolaan keragaman budaya serta perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya yang sangat menunjang eksistensi industri MICE.

Bekembangnya nilai-nilai budaya yang heterogen, lebih jauh dapat menjadi potensi besar dalam mencapai kemajuan, kebergaman suku, tarian daerah, alat musik, tarian, makanan, bangunan fisik dan sebagainya justru memberikan kontribusi besar bagi upaya pengembangan industri MICE di Kota Medan.  Adanya prulalisme ini juga merupakan peredam munculnya isu-isu primordialisme yang juga dapat mengganggu sendi-sendi kehidupan sosial.

Untuk menjadikan Kota Medan sebagai daerah tujuan wisata MICE, tentu harus didukung oleh segenap komponen yang ada antara lain kebijakan pemerintah, kesiapan sarana transportasi, stakeholder MICE, keparawisataan seperti ASITA, PHRI, sarana prasarana pendukung meliputi antara lain hotel, restoran, objek wisata, dan pramuwisata dan lain-lain.

Untuk menciptakan kondisi MICE dan kepariwisataan yang nyaman, hingga kini Kota Medan sendiri terus membenahi diri dengan mengembangkan pariwisata perkotaan yang dapat menjadikan kota ini, tidak sekedar hanya tempat transit para wisatawan.  Sejumlah objek wisata terus perbaiki kualitasnya, sehingga layak juga untuk dikunjungi para turis asing.  Fasilitas wisata hotel, konvensi dan pusat-pusat perbelanjaan juga didorong pemerintah untuk tumbuh pesat.

Perlahan tapi pasti Kota Medan juga mempersiapkan diri diri untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah tujuan wisata MICE terkemuka di Indonesia. Potensi industri MICE yang cukup besar dan terbuka lebar menjadi perhatian banyak pihak untuk dimanfaatkan.  Dengan keterlibatan semua stakeholders, MICE kemungkinan besar dapat menjadi sektor andalan yang menggerakkan ekonomi Kota Medan.

Untuk mendukung industri MICE di Kota Medan, pemerintah Kota Medan juga akan mengintegrasikan potensi objek wisata yang dapat dikelompokkan menjadi 5 kategori, yaitu objek wisata alam, kerajinan, budaya, sejarah, dan kuliner.  Potensi objektif dari seluruh objek wisata yang ada di sebagian lokasi masih sebatas potensi semata. Sementara objek yang telah diolah dibangun dan dikembangkan secara terencana dan dikelola dengan baik masih relatif sedikit dan sangat perlu dikembangkan (Rippda Kota Medan 2011).

Dalam upaya mempertegas pelaksanaan pembangunan industri MICE Kota Medan dan mempertimbangkan besarnya potensi MICE yang ada di Kota Medan, maka penulis sangat tertarik untuk melakukan suatu kajian tentang “Tinjauan Tentang Konsep Pengembangan MICE di Kota Medan” yang ke depan diharapkan akan memberikan sumbangsih dan pengayaan khasanah bagi pengembangan dan pembangunan industri MICE di Kota Medan.

Tinjauan Pustaka

Meski istilah Meetings, Incentives, Conventions and Exhibitions (MICE) telah populer, namun tidak semua orang tahu benar apa sebenarnya MICE itu. Pada dasawarsa 90-an, MICE telah menjadi bagian penting dalam perkembangan kepariwisataan di tanah air, meskipun di negara-negara industri maju pariwisata jenis ini telah berkembang jauh sebelumnya. Pesatnya perkembangan ini seiring dengan semakin terbukanya perdagangan internasional dan berkembang pesatnya teknologi informasi dan transportasi (Deni, 2011).

Wisata MICE terdiri atas empat pokok kegiatan utama yaitu pertemuan (meetings), insentif (incentives), konvensi (conventions) dan pameran (exhibitions). Keempat jenis kegiatan itu merupakan usaha untuk memberi jasa pelayanan bagi suatu pertemuan sekelompok orang (para pelaku bisnis, cendekiawan, para eksekutif pemerintah maupun swasta) untuk membahas berbagai masalah berkaitan dengan kepentingan bersama termasuk juga memamerkan produk-produk bisnis. (Deni, 2011).

Dalam catatan Rajaguguk (2005), secara historis bagi Indonesia, momen terpenting munculnya MICE adalah berhasil diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955 kemudian disusul dengan berlangsungnya kegiatan Genefo (Games of the New Emerging Forces) tahun 1960, Konferensi PATA tahun 1963 dan 1974 menyusul kemudian OPEC di Bali dan KTT APEC di Bogor tahun 1995, hingga akhirnya suksesnya UNFCC di Nusa Dua, Desember 2007.

MICE merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari usaha jasa pariwisata yang meliputi usaha jasa konvensi, perjalanan insentif, dan pameran dalam suatu rangkaian kegiatan pelayanan bagi pertemuan/berkumpulnya orang-orang atau sekelompok orang (negarawan, usahawan, cendekiawan, publik, dan sebagainya) pada suatu tempat yang terkondisikan oleh suatu permasalahan, pembahasan atau kepentingan bersama.

Di Indonesia saat ini memiliki sejumlah kota tujuan wisata jasa MICE seperti Jakarta, Bali, Batam, Medan, Padang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Makassar. Usaha jasa MICE tidak dapat dipisahkan dengan mata rantai usaha-usaha di bidang kepariwisataan dan berbagai sektor usaha lainnya.

Penyelenggaraan MICE selalu melibatkan banyak sektor usaha/industri dan banyak pihak, hal itu menyebabkan pengaruh ekonomi yang dihasilkannya efek berlipat ganda atau berdampak luas (multiplier effect) yang menguntungkan dan dapat dirasakan banyak pihak. Apalagi spending power segment MICE sekitar 8 – 10 kali wisatawan biasa. Dukungan bagi berkembangnya sektor MICE belakangan ini juga didukung oleh kondisi keamanan di Indonesia makin kondusif sehingga memberi image yang positif sebagai destinasi wisata.

Keterbatasan prasarana pendukung pariwisata seperti bandar udara internasional dan sarana transportasi yang kurang memadai menjadi salah satu hambatan bagi pengembangan program pariwisata MICE. Sehingga sampai sekarang hanya 10 kota di Indonesia yang mampu mengembangkan program tersebut. 10 kota itu antara lain Medan, Palembang, Jakarta, Yogya, Semarang, Solo, Surabaya, Bali, Lombok, dan Makasar (Xiang, 2012). Selain kendala prasarana itu, hal lain yang menghambat pengembangan MICE adalah sumber daya manusia (SDM). Sebab MICE memerlukan SDM yang memiliki keahlian khusus.

Perkembangan industri MICE telah memberikan warna yang beragam terhadap jenis kegiatan industri jasa yang identik dengan pemberian pelayan/services. MICE merupakan bisnis yang memberikan kontribusi tinggi secara ekonomi terlebih bagi negara berkembang. Kualitas pelayanan yang diberikan mampu memberikan kepuasan kepada setiap peserta, industri MICE mampu memberikan keuntungan yang besar bagi para pelaku usaha di industri tersebut. Berkembangnya industri MICE sebagai industri baru yang bisa menguntungkan bagi banyak pihak, karena industri MICE ini merupakan industri yang kompleks dan melibatkan banyak pihak. Alasan inilah yang menjadikan tingkat pertumbuhan para pengusaha penyelenggara MICE bermunculan, sehingga tidak dipungkiri industri MICE sebagai industri masa kini yang banyak diminati oleh para pelaku bisnis.

Kegiatan bisnis MICE juga telah membuka lapangan kerja baru, tidak hanya menciptakan tenaga kerja musiman saja, tetapi juga telah menciptakan pekerjaan yang tetap bagi banyak masyarakat. Indonesia dengan wilayah yang strategis serta memiliki daya tarik tersendiri bagi warga negara asing, memberikan peluang bagi tumbuhnya industri MICE. Disisi lain krisis ekonomi yang menimpa negara-negara maju juga turut mempengaruhi bagi pasar MICE untuk memindahkan kegiatan MICE-nya di Indonesia (Kresnarini, 2011).

Faktor penentu dalam memilih Destinasi MICE menurut Warta Export (2011) antara lain :

1)  Keamanan. Semua konsumen MICE mengingin kan adanya jaminan keamanan, baik dari pemerintah maupun oleh penyelenggara. Dalam setiap event internasional perlu adanya fasilitas pengamanan yang ketat khususnya di venue dan akomodasi. Selain itu tempat yang menjadi bagian pendukung kegiatan juga harus dijaga keamaannya misalnya di bandara dan tempat hiburan malam selama acara berlangsung.

2)  Harga. Harga yang bersaing dengan fasilitas yang lengkap menjadi salah satu kriteria bagi para konsumen MICE dalam menentukan daerah tujuan kegiatannya. Fasilitas hiburan yang memadai serta fasilitas pendukung di luar kegiatan utama menjadi nilai tambah suatu daerah dalam menarik konsumen MICE.

3)  Kemudahan Akses.  Daerah destinasi MICE membutuhkan fasilitas aksesibilitas dan transfer baik dari darat, laut maupun udara. Transportasi yang mudah aman, efisien dan bebas hambatan mempermudah para konsumen MICE dalam menjangkau kawasan tersebut.

4)  Fasilitas Terpelihara. Fasilitas yang terjaga dengan baik pada venue pelaksanaan MICE akan membuat konsumen MICE nyaman untuk tinggal lebih lama. Berbagai fasilitas yang disediakan pada venue dengan standar internasional, resort kelas dunia dan tempat hiburan yang menarik.

5)  Infrastruktur

Dalam penyelenggaraan event internasional, dibutuhkan fasilitas infrastruktur langsung seperti venue meeting dan konvensi yang berstandar internasional dengan jumlah kapasitas yang memadai serta terintegrasi dengan hotel dan tempat hiburan. Infrastruktur pendukung bagi para konsumen untuk menuju ke venue penyelenggaraan sangat penting. Selain mudah untuk di akses, infrastruktur berstandar internasional sangat diperlukan diantaranya, bandara yang mampu menampung pesawat besar dan adanya jalur langsung ke kota internasional.

6)  Atraksi waktu senggang. Program hiburan selama penyelenggaraan kegiatan menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen MICE. Untuk menghilangkan kejenuhan mengikuti acara, pada umumnya diselingi dengan kegiatan hiburan, diantaranya pertunjukan seni dan budaya maupun mengunjungi objek wisata.

7)  Bahasa. Untuk mempermudah para konsumen MICE dalam mengikuti agenda kegiatannya, maka perlu adanya tourism hospitality dan MICE staff yang bisa berbahasa asing. Tergantung dengan asal konsumen MICE tersebut. Penyedia jasa MICE sudah seharusnya menyediakan profesional yang mampu berbahasa asing.

Metode Penelitian

Metode penelitian berhubungan erat dengan prosedur, teknik, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih. Prosedur, teknik, serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang ditetapkan (Nazir, 1985). yaitu: 1) urutan kerja atau prosedur yang harus dilakukan dalam melaksanakan suatu penelitian 2) alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam menganalisis data? dan 3) bagaimana melaksanakan penelitian tersebut?

Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian. Metode penelitian menggambarkan rancangan penelitian yang meliputi prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, serta dengan cara apa data tersebut diperoleh dan diolah/dianalisis.  Dalam prakteknya terdapat sejumlah metode yang biasa digunakan untuk kepentingan penelitian.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui angket yang didistribusikan kepada responden di Kota Medan dengan metode purposive random sampling. Jumlah responden masing-masing di kecamatan berjumlah 10 orang yang terdiri dari responden dari kalangan pemangku kepentingan dan responden dari pelaku usaha di sektor MICE. Sedangkan data sekunder yang digunakan meliputi:

1)   PDRB Kota Medan dan gambaran perkembangan per sektor ekonomi.

2)   Data-data kependudukan, angkatan kerja Kota Medan.

3)   Data sekunder mengenai karakteristik wilayah, seperti kondisi geografis, pertumbuhan ekonomi dan data penunjang lainnya.

Seluruh data sekunder tersebut diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kota Medan dalam bentuk publikasi maupun data hasil kompilasi yang dikumpulkan oleh BPS Kota Medan serta dari instansi terkait lainnya.

Metode Analisis

Dalam pelaksanaan penelitian digunakan metode deskriptif yang secara harfiah adalah penelitian untuk membuat deskripsi mengenai situasi atau kejadian yang tidak menerangkan saling hubungan, menguji hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dan implikasi, walaupun penelitian yang bertujuan untuk menemukan hal-hal tersebut dapat mencakup juga metode-metode deskriptif. Data yang terkumpul, lalu diklasifikasikan menjadi 2 kelompok data yaitu data kualitatif (data yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan) dan data kuantitatif (data yang berwujud angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran).Untuk pelaksanaan penyusunan laporan penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif. Sedangkan aktivitas operasional dan pendekatan konseptual, yang dijabarkan sebagai berikut:

1)   Pengumpulan Data

2)   Survei data instansi dan lapangan dilakukan dengan melakukan observasi fisik lapangan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting.

3)   Data penunjang yang dibutuhkan dalam penyusunan studi ini adalah sebagai berikut: (a) Aspek fisik, terdiri dari kondisi lanskap, bangunan dan utilitas serta aspek ruang kota. (b) Aspek nonfisik, terdiri dari pendataan potensi-potensi sumberdaya ekonomi yang bila dikembangkan akan meningkatkan pembangunan industri MICE di Kota Medan serta analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis penelitian, dengan mengumpulkan sejumlah informasi kunci dari Bappeda Kota Medan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan, para pelaku kegiatan usaha di bidang MICE di Kota Medan, diketahui bahwa Kota Medan sebenarnya telah memiliki konsep pengembangan MICE yang antara lain tertuang dalam beberapa dokumen perencanaan Kota Medan, antara lain: 1) Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kota Medan (Disbudpar Kota Medan), 2) Pemetaan dan Rencana Pengembangan MICE Kota Medan (Disbudpar Kota Medan) dan 3) Kajian Potensi dan Pengembangan MICE Kota Medan (Bappeda Kota Medan).

Zonasi Kawasan Pengembangan Pariwisata dan MICE

Hasil survei dan pengolahan informasi dari stakeholder industri MICE Kota Medan, jika ditinjau berdasarkan kondisi objektif dan mempertimbangkan RTRW yang ada, maka pengembangan kawasan pariwisata dan MICE Kota Medan ke depan dapat dikelompokkan menjadi sejumlah zonasi:

1)   Wilayah Utara (zona Utara adalah kawasan industri dan Minapolitan (dengan daya tarik wisata bahari, perkampungan nelayan, kolam pemancingan, danau Siombak dan lain-lain).”

2)   Wilayah Tengah (zona tengah sebagai obyek wisata budaya, sejarah kuliner, belanja.

3)   Wilayah Selatan (wilayah Selatan cocok untuk pengembangan wisata agro (contoh: kebun tanaman hias, buah-buahan, ikan hias ditambah dengan sejumlah wisata alam untuk outbound, pemandian dan lain-lain).”

Sejumlah pemangku kepentingan yang menjadi responden penelitian sepakat bahwa, ke depan pariwisata Kota Medan perlu dikembangkan dengan menganut konsep pengembangan berjenjang dan unggulan. Dengan demikian aspek spasial perencanaan pariwisata dan MICE mengacu pada konteks kawasan wisata MICE unggulan.

Kawasan wisata MICE didefinisikan sebagai kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk berbagai kegiatan event MICE dan pariwisata serta tidak menganggu kelestarian budaya, keindahan alam, dan lingkungan, berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan daerah, mengembangkan pembangunan lintas sektor dan subsektor, dan yang terpenting dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan sosial masyarakat. Pengertian kawasan wisata Kota Medan juga didasarkan pada konsep yang memandang pengembangan MICE sebagai bagian atau alat dalam pengembangan wilayah. Dengan mengembangkan kondisi objektif dan mempertimbangkan RTRW yang ada.

Selanjutnya kebijakan pengembangan MICE, menurut penyelenggara kebijakan (Bidang Ekonomi Bappeda Kota Medan dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan) menegemukakan, bahka pengembangan MICE akan diarahkan dalam rangka pengembangan kawasan MICE di Kota Medan yang berpusat diinti kota, selanjutnya diikuti dengan pengembangan produk event, pengembangan pasar dan pemasaran, pengembangan sumber daya manusia, dan pengembangan kelembagaan/bisnis. Kebijakan pengembangan kawasan wisata MICE juga diprioritaskan pada pengembangan wilayah yang masih kurang maju. Kebijakan pengembangan produk MICE antara lain juga harus diarahkan pada penguatan identitas daerah dengan memunculkan warna wisata MICE yang khas bagi Kota Medan guna menguatkan daya saing daerah. Selain itu tentu saja diperlukan pengembangan sarana dan prasana pariwisata MICE.

Kebijakan pengembangan pasar dan pemasaran diarahkan pada pengembangan pasar domestik, pasar internasional. Dan pengembangan sistem jaminan mutu. Pengembangan MICE juga harus didukung oleh SDM handal sehingga mampu menjadi EO/PCO/PEO MICE yang baik, juga diikuti profesionalitas dari tenaga pemandu, tenaga pelayanan hotel, tenaga birokrasi sampai tenaga pelatih/pendidik. Pengembangan kelembagaan diarahkan pada adanya keterpaduan antra stakeholder MICE yaitu Pemerintah Kota Medan, pelaku usaha dan masyarakat.

Pengembangan Berdasarkan Persepsi Stakeholder

Tabel 1 dan 2, merupakan Peta Pengembangan Pariwisata dan MICE Kota Medan berdasarkan hasil survei persepsi stakeholder. Berbagai kegiatan pariwisata yang mendukung pengembangan MICE di Kota Medan, antara lain; wisata bahari yang cocok dikembangkan di Medan Belawan dan Medan Labuhan. Untuk wisata heritage baik dikembangkan di Medan Marelan, Medan Labuhan, Medan Kota dan Medan Maimun. Medan Kota dan Medan Petisah juga sangat cocok menjadi sentra kerajinan (handicraft), wisata belanja, meeting dan exhibition (MICE).

Tabel 4.1. Pengembangan Daerah Berdasarkan Persepsi Stakeholder

No. Kecamatan Jenis Kegiatan MICE/Pariwisata

Skors Rerata

1

Medan Belawan Bahari

7,5

2

Medan Marelan Heritage, Eko Wisata

6,6

3

Medan Labuhan Bahari, Heritage

7,2

4

Medan Timur Sport

5,5

5

Medan Helvetia MICE

6,7

6

Medan Selayang Sport, Kuliner

8,0

7

Medan Polonia MICE

7,4

8

Medan Kota Heritage, Belanja, Handicraft, MICE

8,5

9

Medan Area Pusat Industri Kecil

6,0

10

Medan Denai Pusat Industri Kecil

6,3

11

Medan Johor Ekowisata

5,2

12

Medan Tuntungan Ekowisata

5,2

13

Medan Sunggal Kuliner, Ekowisata

5,5

14

Medan Petisah Kuliner, MICE

6,7

Sedangkan sejumlah 5 kecamatan yang lainnya, berdasarkan persepsi responden masih belum memiliki identitas/karakter khusus yang dianggap dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung pengembangan industri MICE di Kota Medan, hal ini ditandai dengan skor rata-rata yang masih berada di bawah 4,0.

Tabel 2. Pengembangan Kota Berdasarkan Persepsi Stakeholder

untuk Daerah-daerah yang Dianggap Belum Memiliki Karakter Khusus

No. Kecamatan

Jenis Kegiatan MICE/Pariwisata

Skors Rerata

1

Medan Amplas

Heritage, Ekowisata, Sport, Kuliner, MICE, Belanja, Handicraft, Pusat Industri Kecil, Kuliner

3,5

2

Medan Denai

3,3

3

Medan Maimun

4,2

4

Medan Perjuangan

2,5

5

Medan Tembung

3,7

Sementara berdasarkan hasil FGD yang dilakukan pada studi ini menyimpulkan bahwa, dalam mengembangkan industri MICE di Kota Medan diperlukan kerjasama dan koordinasi antara 3 stakeholder kunci, yakni pemerintah, dunia pendidikan terkait, dan partisipasi dunia usaha. Kebijakan pemerintah dalam hal ini diarahkan untuk pembenahan dan pengembangan sarana dan prasarana, pembenahan dan pengembangan pemasaran DTW MICE. Partisipasi dunia pendidikan diharapkan dapat mendorong 1) ketersediaan SDM professional di bidang MICE, 2) menjadi mitra dalam pembenahan dan pengembangan pemasaran DTW MICE dan 3) ikut memberikan masukan dan dorongan dalam pembenahan dan pengembangan sarana dan prasarana. Sementara parsitisipasi dunia usaha diharapkan secara lebih nyata menjadi mitra dunia pendidikan dalam mempersiapkan tenaga professional di bidang MICE, dan melakasanakan berbagai event MICE berkualitas dalam rangka mendorong pengembangan pemasaran DTW MICE di Kota Medan. Konsep pengembangan MICE lebih lanjut diilustrasikan melalui bagan berikut ini:

Kesimpulan

Sejumlah kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil kajian ini antara lain:

1)   Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa pegembangan MICE di Kota Medan sangat dipengaruhi oleh 1) dukungan kebijakan pemerintah dalam pemberdayaan dan MICE, 2) partisipasi dunia usaha (EO, PCE, PEO, Hotel, Restaurant, pengelola Convention) dan 3) partisipasi dunia pendidikan dalam menyediakan sumber daya manusia professional di bidang MICE.

2)   Hasil survei dan pengolahan informasi dari stakeholder industri MICE Kota Medan, jika ditinjau berdasarkan kondisi objektif dan mempertimbangkan RTRW yang ada, maka pengembangan kawasan pariwisata yang dapat mendukung industry MICE Kota Medan ke depan dapat dikelompokkan menjadi sejumlah zonasi:

Wilayah Utara (zona Utara adalah kawasan industri dan Minapolitan (dengan daya tarik wisata bahari, perkampungan nelayan, kolam pemancingan, danau Siombak dan lain-lain).”

Wilayah Tengah (zona tengah sebagai obyek wisata budaya, sejarah kuliner, belanja.

Wilayah Selatan (wilayah Selatan cocok untuk pengembangan wisata agro (contoh: kebun tanaman hias, buah-buahan, ikan hias ditambah dengan sejumlah wisata alam untuk outbound, pemandian dan lain-lain).”

3)   Berdasarkan hasil survei persepsi stakeholder. Berbagai kegiatan pariwisata yang mendukung pengembangan MICE di Kota Medan, antara lain; wisata bahari yang cocok dikembangkan di Medan Belawan dan Medan Labuhan. Untuk wisata heritage baik dikembangkan di Medan Marelan, Medan Labuhan, Medan Kota dan Medan Maimun. Medan Kota dan Medan Petisah juga sangat cocok menjadi sentra kerajinan (handicraft), wisata belanja, meeting dan exhibition.

Daftar Pustaka

Bappeda Kota Medan. 2011. “Grand Design Pengembangan MICE Kota Medan”.

Chafid Fandeli. 2002. “Perencanaan Kepariwisataan Alam”. Jakarta.

Disbudpar Kota Medan. 2011. “Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Kota Medan”.

Drimawan, Deni. 2011. “Multi Efek dari Bisnis MICE”. Deni Drimawan’s Blog (online). Available at: http://adproindonesia.wordpress.com/2010/06/03/multi-effects-dari-bisnis-mice/#comments

Evelina, Lidia. 2005. “Event Organizeer Pameran”. PT Indeks. Jakarta.

Hoyle H, Leonard. 2012. “Event Marketing”. Penerbit PPM. Jakarta.

Kantor Menteri Negara dan KeseniaN. 2000. Deputy Bidang Pengembangan Produk Pariwisata. Pedoman Usaha Jasa Meeting, Incentive, Convention and Exhibition. Jakarta.

Kesrul. 2004. “Panduan Praktis Pramuwisata Profesional”. Graha Ilmu. Jakarta.

Kresnarini, Hesti Indah. 2011. “Potensi Industri MICE Indonesia”. Editorial.  Warta Ekspor Edisi Juli 2011.Pendit, Nyoman,S.1999. “Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar”. Perdana. Jakarta.

Lawson, Fred. Congress Convention & Exhibition. Architectural Press. USA ICAA 2012, diakses 25/4/2012 http://www.iccaworld.com/dcps/doc.cfm?docid=1264

Noor, Ani. 2012. “Globalisasi industri MICE”. Penerbit Alfabeta. Jakarta.

Xiang, Jia. Program Pariwisata “MICE Belum Maksimal”. Media Tionghoa Indonesia, diakses 16/8/2012 http://jia-xiang.biz/read/program-pariwisata-mice-belum-maksimal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s