RIPPDA

…silahkah hubungi kami bila Anda menginginkan dokumen lengkapnya 

Bab 1 Pendahuluan

1.1.     Latar Belakang

Pembangunan kebudayaan dan kepariwisataan merupakan bagian dari proses pembangunan nasional dalam rangka mencapai cita-cita bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mandiri, maju, adil dan makmur. Pembangunan kebudayaan dan kepariwisataan merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pembangunan kebudayaan tercakup dalam pembangunan bidang sosial  budaya dan kehidupan beragama yang terkait erat dengan pengembangan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia, sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025, yang mengamanatkan bahwa pembangunan bidang sosial budaya dan kehidupan beragama diarahkan pada pencapaian sasaran untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab; dan mewujudkan bangsa yang berdaya saing untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera. Dalam pembangunan kebudayaan, terciptanya kondisi masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, dan beretika sangat penting bagi terciptanya suasana kehidupan masyarakat yang penuh toleransi, tenggang rasa, dan harmonis. Disamping itu, kesadaran akan budaya memberikan arah bagi perwujudan identitas nasional yang sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa dan menciptakan iklim kondusif serta harmonis sehingga nilai-nilai kearifan lokal akan mampu merespon modernisasi secara positif dan produktif sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan.

Pembangunan kepariwisataan mempunyai peranan penting dalam  meningkatkan penyerapan tenaga kerja, mendorong pemerataan kesempatan berusaha, mendorong pemerataan pembangunan nasional, dan memberikan kontribusi dalam penerimaan devisa negara yang dihasilkan dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), serta berperan dalam mengentaskan kemiskinan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pariwisata juga berperan dalam upaya meningkatkan jati diri bangsa dan mendorong kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap kekayaaan alam dan budaya bangsa dengan memperkenalkan kekayaan alam dan budaya.

Dalam mendukung pelaksanaan pembangunan kebudayaan dan pariwisata di Kota Medan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan menyelenggarakan fungsi perumusan kebijakan di daerah, terakait dengan kebijakan pelaksanaan, dan kebijakan teknis di bidang kebudayaan yang telah berperan penting dalam peningkatan pemahaman keragaman budaya, penyelesaian masalah tanpa kekerasan, serta pengembangan interaksi antar budaya di Kota Medan.

Sementara itu dalam pembangunan kepariwisataan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan berperan penting sebagai penyelenggara pembangunan kepariwisataan yang terintegrasi dalam pembangunan daerah yang dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu, berkelanjutan, dan bertanggung jawab dengan tetap memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai agama, budaya yang hidup di dalam masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan hidup, serta peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat kota.

Pembangunan kebudayaan di Kota Medan telah berperan penting dalam memperkuat jati diri dan karakter masyarakat dengan berlandaskan pada nilai-nilai luhur, yang memberikan kemajuan yang cukup berarti dan menjadi landasan pelaksanaan pembangunan kebudayaan. Berbagai kemajuan yang telah dicapai, antara lain terpeliharanya kondisi aman dan damai yang diindikasikan antara lain dengan :

  1. Semakin berkembangnya pemahaman terhadap pentingnya kesadaran multikultural,
  2. Tumbuhnya sikap saling menghormati dan menghargai keberagaman budaya yang ditandai dengan meningkatnya  persepsi masyarakat terhadap kebiasaan bersilaturahmi,  meningkatnya persepsi  masyarakat terhadap kebiasaan kegiatan gotong royong, serta persepsi masyarakat terhadap kebiasaan tolong menolong antar sesama warga yang kian baik,
  3. Semakin berkembangnya proses internalisasi nilai-nilai luhur, pengetahuan dan teknologi tradisional, serta kearifan lokal yang relevan dengan tata kehidupan bermasyarakat  seperti nilai-nilai persaudaraan, solidaritas sosial, saling menghargai, serta rasa sense of belonging terhadap lingkungan,
  4. Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap hasil karya kreatifitas seni budaya  yang ditandai dengan meningkatnya penyelenggaraan berbagai pameran, festival, pegelaran, dan pentas seni, pemberian, pengiriman misi kesenian ke berbagai acara nasional dan internasional sebagai bentuk diplomasi/promosi kesenian Kota Medan,
  5. Tumbuhnya kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan  kekayaan dan warisan budaya yang ditandai oleh meningkatnya kesadaran, kebanggaan, dan penghargaan masyakarat terhadap nilai-nilai sejarah bangsa Indonesia khususnya Kota Medan, meningkatnya upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan benda cagar budaya/situs, serta berkembangnya peran dan fungsi museum sebagai sarana rekreasi dan edukasi.          
  6. Meningkatnya kerja sama yang sinergis antar-pihak terkait dalam upaya pengembangan nilai budaya, pengelolaan keragaman budaya serta perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan  budaya.

Sementara itu, peran strategis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan dalam peningkatan kinerja kepariwisataan di Kota Medan telah mendukung pencapaian hasil dan kemajuan yang ditunjukkan dengan meningkatnya kontribusi sektor terkait dengan kepariwisataan dalam PDRB Kota Medan sebagaimana tersaji pada Tabel 1.1 di atas.

Untuk menjadikan Kota Medan sebagai daerah tujuan wisata, tentu harus didukung oleh segenap komponen yang ada, tidak cukup hanya dengan mengandalkan potensi dan kemampuan Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan, tetapi harus didukung oleh seluruh komponen yang ada di kota medan antara lain kesiapan sarana transportasi, stake holder keparawisataan seperti ASITA, PHRI, sarana prasarana pendukung meliputi antara lain hotel, restoran, objek wisata, dan pramuwisata.

Sebagai pusat perdagangan baik regional maupun internasional, sejak awal Kota Medan telah memiliki keanekaragaman suku (etnis) dan agama.  Oleh karenanya budaya masyarakat yang ada juga sangat prularis yang berdampak beragamnya nila-nilai budaya tersebut tentunya sangat menguntungkan, sebab diyakini tidak satupun kebudayaan yang berciri menghambat kemajuan (modernisasi) dan sangat diyakini pula hidup.

Bekembangnya nilai-nilai budaya yang heterogen, dapat menjadi potensi besar dalam mencapai kemajuan, kebergaman suku, tarian daerah, alat musik, tarian, makanan, bangunan fisik dan sebagainya justru memeberikan kontribusi besar bagi upaya pengembangan industri pariwisata di Kota Medan.  Adanya prulalisme ini juga merupakan peredam munculnya isu-isu premordialisme ini juga merupakan peredam untuk munculnya isu-isu premordialisme yang juga dapat mengganggu sendi-sendi kehidupan sosial.

Sebagai pintu gerbang wilayah barat Indonesia, kota medan menjadi salah satu pilihan utama para wisatawan mancanegara.  Medan memegang peranan strategis sebagai pintu masuk bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Danau Toba, Bukit Lawang, Berastagi dan Pulau Nias, sebagai 4 (empat) destinasi wisata yang sudah sangat dikenal di mancanegara.

Pada Tahun 2010 tidak kurang dari 140 ribu orang dan tahun 2011 diperkirakan tidak kurang dari 160 ribu orang wisatawan mancanegara datang ke Kota Medan.  Angka ini bergerak naik dari tahun sebelumnya. Faktor penyebab kenaikan tersebut antara lain dikarenakan situasi kondisi keamanan dan politik dalam negeri yang cukup menguntungkan. Berbagai kebijakan telah ditempuh Pemerintah Kota Medan di bidang kepariwisataan, terutama kegiatan menyangkut peran kota medan sebagai pintu gerbang masuknya wisatwan mancanegara.

Bila dilihat dari variasi kebangsaan jumlah wisatawan Negara ASEAN dari tahun 2006 hingga 2011 cenderung lebih dominan, terutama dari Malaysia, Singapura, dan Thailand yang menempati urutan pertama. Disusul wisatawan dari Eropa dan Asia masing-masing sebesar 15% dan 10%. Dilihat dari lamanya menginap wisatawan mancanegara di hotel bintang dan melati yang berada di Kota Medan, rata-rata menginap selama 1,5 hari.  Angka ini menunjukkan bahwa Kota Medan masih hanya sebatas pintu masuk bagi wisatawan mancanegara ke daerah wisata yang ada di Provinsi Sumatera Utara dan Aceh.

Untuk menciptakan kondisi kepariwisataan yang nyaman, hingga kini Kota Medan sendiri terus membenahi diri dengan mengembangkan pariwisata perkotaan yang dapat menjadikan kota ini, tidak sekedar hanya tempat transit para wisatawan.  Sejumlah objek wisata terus dipoles, sehingga layak juga untuk dikunjungi para turis asing.  Fasilitas wisata hotel, konvensi dan pusat-pusat perbelanjaan juga didorong pemerintah untuk tumbuh pesat.

Perlahan tapi pasti Kota Medan juga mempersiapkan diri diri untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah tujuan wisata MICE (Meeting, Incentives, Convention dan Exhibition) terkemuka di Indonesia.  Potensi industri MICE yang cukup besar dan terbuka lebar menjadi perhatian banyak pihak untuk dimanfaatkan.  Dengan keterlibatan semua stakeholders, MICE kemungkinan besar dapat menjadi sektor andalan yang menggerakkan ekonomi Kota Medan (primemover).

Keberadaan objek-objek wisata yang terbesar di wilayah Kota Medan sendiri dapat dikelompokkan menjadi 5 kategori, yaitu objek wisata alam, kerajinan, budaya, sejarah, dan kuliner.

Sedangkan bila dikelompokkan wisatawan yang datang ke suatu objek wisata ke kota medan secara umum dapat di kelompokkan ke dalam 3 golongan yaitu:

  1. Wisatawan lokal/domestik (wisdom) yang datang dari dan antar wilayah di dalam wilayah Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara serta daerah-daerah yang berada disekitarnya.
  2. Wisatawan nusantara, pengunjung yang berasal dari kota/daerah lain di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  3. Wisatawan manca Negara (wisman) pengunjung yang berasal dari negara lain , di luar dari wlayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Potensi objektif dari seluruh objek wisata yang ada di sebagian lokasi masih sebatas potensi semata. Sementara objek yang telah diolah dibangun dan dikembangkan secara terencana dan dikelola dengan baik masih relatif sedikit dan sangat perlu dikembangkan. Oleh karena itu, bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan menjadi tugas besar untuk melakukan langkah-langkah untuk mengembangkan potensi objek yang ada secara terencana sehingga Kota Medan berkembang menjadi (1) wisata budaya dan sejarah, (2) wisata belanja, (3) wisata makanan (kuliner), dan (4) wisata bahari (5) wisata kerajinan dan (6) ekowisata.

Dalam upaya mempertegas pelaksanaan pembangunan kebudayaan dan pariwisata ke depan di Kota Medan ini, maka disusunlah “Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kota Medan” yang ke depan akan menjadi landasan bagi pengembangan dan pembangunan pariwisata di Kota Medan.

 

1.2.     Maksud dan Tujuan

Kegiatan penyusunan dokumen “Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kota Medan” ini dimaksud:

  1. Sebagai panduan untuk memberikan informasi strategis generik yang akurat mengenai rencana makro pengembangan sektor kebudayaan dan pariwisata Kota Medan.
  2. Dokumen ini juga bertujuan untuk menjadi  referensi dan acuan bersama pemerintah, pengusaha dan masyarakat dalam mengembangkan kegiatan/usaha pariwisata dan pngembangan kebudayaan di Kota Medan.
  3. Tersusunnya program dan kebijakan makro pengembangan kebudayaan dan pariwisata Kota Medan.
  4. Meningkatkan kapasitas Kota Medan dalam penyelenggaraan Pemerintah Daerah.
  5. Menyediakan dukungan data dan informasi ekonomi bagi perencana dalam pengambilan keputusan dan pengembangan kebijakan di tingkat daerah dan pusat.
  6. Sebagai bahan masukan dalam proses perencanaan pembangunan nasional dan daerah khususnya terkait dengan pengembangan kebudayaan dan pariwisata Kota Medan.

1.3.          Metodologi

Untuk pelaksanaan penyusunan laporan ini dilakukan dengan pendekatan operasional dan pendekatan konseptual, yang dijabarkan sebagai berikut:

  1. Pengumpulan Data
  2. Survey data instansi dan lapangan dilakukan dengan melakukan observasi fisik lapangan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting.
  3. Data penunjang yang dibutuhkan dalam penyusunan studi ini adalah sebagai berikut: (1) Aspek fisik, terdiri dari kondisi lanskap, bangunan dan utilitas serta aspek ruang kota. (2) Aspek nonfisik, terdiri dari pendataan potensi-potensi sumberdaya ekonomi yang bila dikembangkan akan meningkatkan pembangunan kebudayaan dan pariwisata kota serta analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

 …silahkah hubungi kami bila Anda menginginkan dokumen lengkapnya 

One thought on “RIPPDA

  1. Pagi pak Eddi, Saya berminat untuk lebih lanjut mengenai penyusunan RIPPDA Pariwisata.
    trus bagaimana cara konsultasi lebih lanjutnya ya pak… thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s