Business Plan Minapolitan

BAB 1 PENDAHULUAN

Sejak abad ke-5 masehi para pelaut Nusantara sudah mampu menyeberangi Samudera Hindia hingga mencapai benua Afrika dan masih meninggalkan jejak nyata hingga sekarang. Bahkan pada abad V sampai VII masehi perdagangan bangsa Cina banyak tergantung pada jenis dan suplai produk para pelaut Nusantara. Bahkan di era imperium Majapahit, jejak pelaut Nusantara terlacak hingga Afrika Barat (dengan bukti artefak di Ghana yang selangkah lagi menuju Eropa.

Namun seiring dengan perjalanan waktu, semangat bahari bangsa Indonesia luntur ketika Majapahit runtuh dan baru mulai dibangkitkan kembali bertepatan dengan Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 yang menyatakan kedaulatan Republik Indonesia yang mencakup wilayah laut teritorial (pedalaman) adalah bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah daratan. Ini mendapat pengakuan dari PBB melalui United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS) pada tahun 1982.

Inilah kemudian yang menjadi titik tolak bahwa semangat bahari perlu di transformasikan ke dalam tindakan dan program-program pembangunan berkesinambungan.  Salah satu konsep penting terkait dengan pemberdayaan sektor kelautan di wilayah RI adalah konsep “Revolusi Biru” yang menggagas perubahan mendasar cara berfikir dari daratan ke maritim dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Konsep ini secara spesifik ditujukan untuk peningkatan produksi kelauatan dan perikanan melalui program MINAPOLITAN yang intensif, efisien dan terintegrasi guna peningkatan pendapatan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Revolusi biru lebih jauh berdiri di atas empat pilar antara lain; perubahan berfikir dan orientasi dari daratan ke maritim, pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan, peningkatan produksi kelautan dan perikanan melalui program Minapolitan, serta terciptanya pendapatan rakyat yang adil, merata dan sejahtera. Sementara arah kebijakan nasional yang diperlukan untuk mendukung program ini adalah; peningkatan kesejahteraan rakyat (prosperity), penguatan demokrasi (democracy) dan penegakan keadilan (justice).

Sebagai grand design dari Revolusi Biru, Minapolitan tidak lain adalah konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan pendekatan dan sistem manajemen kawasan dengan prinsip-prinsip: 1) integrasi, 2) Efisiensi, 3) Kualitas, dan 4) Akselerasi, di mana kawasan Minapolitan juga diidentifikasikan sebagai kawasan ekonomi yang terdiri dari sentra-sentra produksi dan perdagangan komoditas kelautan dan perikanan, jasa, perumahan, dan kegiatan lainnya yang saling terkait.

Hadirnya Minapolitan lebih jauh ditujukan untuk pemberdayaan potensi kelautan dan perikanan Indonesia yang luar biasa dan belum dimanfaatkan secara optimal. Produksi dari sektor perikanan tangkap hingga saat ini hanya berkisar 3,3 juta ton/tahun. Jauh di bawah China yang mencapai 4,6 juta ton/tahun atau India yang mencapai sekitar 3,5 juta ton/tahun. Bahkan di kawasan Asia Tenggara Indonesia hampir diimbangi Filipina yang mencapai 3 juta ton/tahun, serta Thailand dan Vietnam masing-masing sekitar 1,6 juta ton/tahun. Sedangkan dari sektor budidaya, produksi ikan Indonesia tak lebih dari 5,37 juta ton/tahun.

Minapolitan berdasarkan  Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: 12/MEN/2010 adalah konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan.  Dalam proses pelaksanaanya Minapolitan memiliki sejumlah landasan operasional, antara lain:

1)         Pidato Presiden RI pada Penyampaian Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2011 beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, tanggal 16 Agusus 2010.

2)        Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor: PER.12/MEN/2010 tentang Minapolitan.

3)        Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor: KEP.32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor: 32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan, Kota Medan merupakan salah satu dari 197 Kawasan Minapolitan. Oleh karenanya Pemko Medan ke depannya akan mengembangkan Kawasan Minapolitan yang meliputi tiga kecamatan yaitu:

1)         Kecamatan Medan Belawan,

2)        Kecamatan Medan Labuhan, dan

3)        Kecamatan Medan Marelan

Dengan menerapkan prinsip integrasi, efisien, berkualitas dan percepatan, kawasan Minapolitan di kawasan utara Kota Medan memiliki hubungan dua arah dengan Kota Medan secara umum, pertama kekuatan dan potensi pertumbuhan ekonomi Kota Medan menjadi fondasi bagi pengembangan kawasan Minapolitan.  Kedua, setelah melewati fase investasi dan berbagai program pemberdayaan di kawasan Minapolitan, maka pada gilirannya nanti Kota Medan dan masyarakat secara keseluruhan dapat memetik keuntungan jangka panjang atas eksistensi kawasan Minapolitan tersebut.

Dalam mengimplementasikan Minapolitan, adalah satu keuntungan komparatif bahwa Kota Medan memiliki Belawan sebagai lokasi strategis dilihat dari jalur perdagangan internasional.  Hal ini ditunjang oleh pengelolaan Belawan dalam manajemen Pemerintah Kota Medan yang memiliki kualifikasi kota metropolitan, sehingga bila berbagai perencanaan dilakukan dengan baik dan komprehensif serta didukung oleh kekuatan APBD Kota Medan, maka Minapolitan dipastikan akan memberikan pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi kota.

Sebagai langkah untuk mematangkan instrumen perencanaan kawasan Minapolitan Kota Medan, Pemerintah  Kota Medan telah menyusun “Grand Design Minapolitan Kota Medan” yang lebih jauh dimatangkan dengan penyusunan “Rencana Induk (Grand Strategy) Minapolitan Kota Medan.”

Baik grand design dan grand strategy, keduanya diarahkan untuk menjadi panduan bagi berbagai program dan kegiatan yang akan dilaksanakan di wilayah Minapolitan dan selaras dengan kebijakan nasional tentang Minapolitan, yakni:

1)        Melakukan berbagai upaya untuk memperkuat kelembagaan dan sumber daya manusia Minapolitan secara terintegrasi,

2)       Mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan,

3)       Meningkatkan produktivitas dan daya saing berbasis pengetahuan (dalam hal  ini diharapkan seluruh kawasan potensi perikananan menjadi kawasan Minapolitan dengan usaha yang bankable)

4)       Dan memperluas akses pasar domestik dan internasional.

Permasalahan

Saat Ini

Studi/Kajian Business Plan Minapolitan

Kondisi yang Diinginkan/Diharapkan

  1. Produksi, Produktivitas dan kualitas produk perikanan masih belum maksimal.
  2. Masih rendahnya tingkat pendapatan nelayan, pembudidaya ikan dan pengusaha pengolah ikan (skala kecil).
  3. Beum ada informasi Peluang usaha dan penata-ruangannya yang dikaji secara komprehensif.
  1. Proyeksi Pengembangan Hulu-Hilir Sektor dan Produk Unggulan
  2. Informasi dan Akses Pasar
  3. Akses Permodalan
  4. Akses Teknologi, Sarana dan Prasarana pendukung Transportasi dan Distribusi
  5. Kelembagaan Pengelolaan
  1. Meningkatnya produksi; produktivitas dan kualitas produk perikanan
  2. Meningkatnya pendapatan nelayan, pembudidaya ikan, pengusaha dan pengolah ikan yang adil dan merata
  3. Tersedianya informasi Peluang usaha dan peñata-ruangannya berdasarkan kajian yang komprehensif
  1. Meningkatknya kemampuan ekonomi usaha masyarakat skala mikro dan kecil
  2. Meningkatnya jumlah dan kualitas usaha skala menengah ke atas sehingga berdaya saing tinggi

Kondisi Lingkungan

(Nasional, Global, Internasional)

Regulasi

 Gambar 1.1. Alur Pikir Business Plan Minapolitan Kota Medan

Selain grand design dan grand strategy, yang telah disusun, salah satu instrumen kelengkapan bagi perencanaan Minapolitan lainnya yang juga penting adalah design “Business Plan Minapolitan Kota Medan,” atau juga disebut sebagai Rencana Pengusahaan Minapolitan. Adapun alur pikir dari rencana pengusahaan Minapolitan disajikan pada Gambar 1.1. di atas.

Adapun orientasi business plan ini juga diselaraskan dengan indikator nasional dari program Minapolitan, antara lain untuk mendukung:

1)        Meningkatnya pendapatan nelayan buruh dan nelayan pemilik.

2)       Meningkatnya produksi perikanan tangkap dan budi daya.

3)       Meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia nelayan.

…silahkah hubungi kami bila Anda menginginkan dokumen lengkapnya 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s